![]() |
oleh ReO Fiksiwan
„Teknologi adalah pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai mata pelajaran, berfokus pada pemecahan masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari, mencakup investigasi ilmiah, siklus rekayasa berulang, pemodelan matematika, dan penggunaan teknologi yang tepat.“ — Kemendikdasmen, Buku Panduan Pembelajaran STEM(2025).
Masa depan pendidikan di Asia Tenggara semakin menampakkan dirinya sebagai arena strategis yang menentukan posisi kawasan ini dalam percaturan global.
Gita Wirjawan(60), Menteri Perdagangan Indonesia(2011-2014), kini lebih dikenal luas melalui End Game Podcast, menegaskan hal itu lewat kuliahnya di Universitas Nasional Vietnam Ho Chi Minh City seperti dikutip dari laman X-nya.
Di hadapan lebih dari 750 peserta, termasuk ratusan siswa berbakat, ia menyoroti bagaimana Vietnam menjadikan pendidikan sebagai fondasi pembangunan.
Dengan 110.000 mahasiswa, separuh di antaranya menekuni disiplin STEM(Science, Technology, Engineering, and Mathematics), Vietnam menunjukkan komitmen yang konsisten untuk membangun kapasitas teknis.
Hasil PISA(Programme for International Student Assessment), — menilai kemampuan siswa berusia 15 tahun dalam membaca, matematika, dan sains —
yang menempatkan Vietnam di atas rata-rata global, sejajar dengan Singapura, menjadi bukti bahwa keterbukaan untuk belajar, menyerap praktik terbaik, dan beradaptasi adalah keunggulan kompetitif yang nyata.
Dalam bukunya What It Takes: Southeast Asia(2019), Gita, penyandang dua master niaga dan publik di Texas dan Harvard, menekankan bahwa kawasan ini tidak bisa lagi hanya menjadi penonton dalam arus globalisasi.
Ia menulis bahwa Asia Tenggara harus berani menempatkan diri di inti kesadaran global dengan memanfaatkan potensi sumber daya manusia yang dimiliki.
Lewat buku itu, Gita Wirjawan pun merampung pengalaman diplomatik, bisnis, dan akademiknya, termasuk interaksi dengan tokoh-tokoh dunia.
Ia menekankan bahwa Asia Tenggara harus berani menjadi pendongengnya sendiri, bukan hanya objek narasi eksternal.
Merujuk dari What It Takes: Southeast Asia, ia juga menyoroti bagaimana keterbukaan, adaptasi, dan investasi dalam pendidikan dan teknologi dapat memperkuat daya saing regional.
Pandangan itu kini menemukan relevansinya dalam konteks pendidikan STEM.
Di seluruh Asia Tenggara, jalur lulusan STEM dan keuangan menjadi kunci untuk mengubah inovasi menjadi nilai ekonomi, sekaligus memastikan keberlanjutan jangka panjang. Tantangan global seperti perubahan iklim mempertegas urgensi ini.
Kawasan yang dihuni 9% populasi dunia ternyata bisa menyerap hingga 25% emisi karbon global tahunan.
Sementara itu, ekspansi pusat data oleh perusahaan teknologi menuntut kompensasi karbon yang kredibel, membuka peluang besar bagi Asia Tenggara untuk memimpin dalam solusi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.
Namun, peluang itu hanya bisa diwujudkan bila infrastruktur, sistem pengukuran, dan kerangka kerja keuangan dibangun dengan serius.
Di sinilah pendidikan memainkan peran sentral.
Vietnam menunjukkan bagaimana keterbukaan dan investasi dapat saling memperkuat, menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan.
Pertanyaan yang lebih mendesak bagi negara-negara lain di Asia Tenggara adalah kesediaan mereka untuk membuka sistem pendidikan, belajar dari yang terbaik, mengadaptasi model yang terbukti, dan menyiapkan talenta dalam skala besar dengan kecanggihan yang sesuai tuntutan global.
Seperti yang ditegaskan Gita dalam bukunya, Asia Tenggara harus beranjak dari tepi menuju inti, bukan hanya dengan visi politik atau ekonomi, tetapi dengan keberanian membangun manusia yang siap menghadapi tantangan zaman.
Pendidikan, terutama STEM, adalah pintu masuk menuju kesadaran global itu.
#coversongs:
Another Brick in the Wall, Part 2” dalam album The Wall dirilis pada 23 November 1979 oleh Pink Floyd, dan maknanya adalah kritik terhadap sistem pendidikan yang kaku, otoriter, serta menekan kebebasan berpikir siswa.
#credit foto diambil dari laman X Gita Wirjawan.

