![]() |
Oleh: Prof. Dr. H. Sobhan Lubis, M.A.
(GB Fakultas Syari’ah UIN IB Padang)
Manusia diciptakan Allah dengan membawa fitrah yang suci, kecenderungan alami untuk mengenal, menyembah, dan tunduk kepada-Nya. Fitrah itu bukan sekadar potensi spiritual, tetapi juga arah dasar kehidupan manusia. Al-Qur’an menggambarkan keadaan ini dengan sangat tegas dalam firman Allah pada QS. Ar-Rūm: 30, bahwa manusia diarahkan untuk menghadapkan wajahnya kepada agama yang lurus, agama yang sesuai dengan fitrah ciptaan Allah. Fitrah itu tidak berubah, namun manusia sering menjauh darinya karena kelalaian, hawa nafsu, dan perjalanan hidup yang penuh godaan. Maka hidup manusia sejatinya adalah perjalanan panjang antara fitrah yang suci dan usaha untuk kembali kepadanya.
Allah berfirman: Fa aqim wajhaka lid-dīni ḥanīfā, fiṭratallāhillatī faṭaran-nāsa ‘alayhā, lā tabdīla likhalqillāh, dzālikad-dīnul-qayyim walākinna aktsaran-nāsi lā ya‘lamūn (Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama, condonglah kepada kebenaran. (Berpegang teguhlah pada) fitrah Allah yang telah Dia ciptakan bagi manusia. Tidak ada yang dapat mengubah ciptaan Allah. Itulah agama yang benar, tetapi kebanyakan orang tidak mengetahuinya).
Dalam perjalanan hidupnya, manusia tidak selalu mampu menjaga kesucian fitrah tersebut. Kesalahan, kelalaian, bahkan dosa sering menjadi bagian dari pengembaraan manusia di dunia. Namun Islam tidak menutup pintu harapan bagi siapa pun. Rasulullah SAW menegaskan dalam sebuah hadits bahwa setiap anak Adam pasti pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang segera kembali bertaubat kepada Allah. Kesalahan tidak menjadikan manusia hina, bahkan terpuji selama ia mau kembali. Justru kesadaran untuk kembali itulah yang menghidupkan fitrah. Karena itu, kehidupan seorang mukmin pada hakikatnya adalah perjalanan pulang menuju kesucian.
Dalam tulisan ini, kata “mudik” dipakai sebagai metafora spiritual. Sebagaimana seseorang yang kembali ke kampung halaman setelah lama merantau, demikian pula manusia kembali kepada keadaan asalnya yang bersih. Ramadhan adalah momentum paling tepat untuk melakukan perjalanan pulang itu. Ia adalah bulan pembersihan, bulan penyucian, dan bulan rekonstruksi jiwa. Selama sebelas bulan manusia sering terseret oleh rutinitas dunia, tetapi pada bulan Ramadhan Allah membuka pintu rahmat-Nya selebar-lebarnya agar manusia dapat kembali kepada fitrah semula, pulang dengan hati yang lebih bersih, jiwa yang lebih tenang, dan iman yang lebih kuat.
Rasulullah SAW bahkan menggambarkan Ramadhan sebagai dua rel menuju satu tujuan, yakni pengampunan dosa. Dalam hadis yang sangat terkenal disebutkan: “Man shāma Ramaḍāna īmānan waḥtisāban ghufira lahu mā taqaddama min dzanbih.” Siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan iman dan penuh pengharapan pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dalam hadis lain redaksinya hampir sama, hanya berbeda satu kata: “Man qāma Ramaḍāna īmānan waḥtisāban ghufira lahu mā taqaddama min dzanbih.” Siapa yang menghidupkan malam Ramadhan dengan iman dan harapan pahala, dosa-dosanya yang lalu diampuni. Dua rel berbeda, tetapi tujuannya satu: kembali bersih alias fitrah.
Untuk mencapai keadaan bersih itu, Al-Qur’an dan sunnah menunjukkan banyak jalan. Salah satu jalur taubat yang sangat terkenal adalah jalur yang ditempuh oleh Nabi Adam AS ketika beliau melakukan kesalahan di surga. Setelah menyadari kekeliruannya, Nabi Adam dan istrinya segera kembali kepada Allah dengan doa yang penuh kerendahan hati. Doa itu diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai pelajaran bagi seluruh manusia. Allah menerima taubat Nabi Adam karena ia tidak berlarut dalam kesalahan, tetapi segera kembali kepada Rabbnya dengan pengakuan yang jujur dan permohonan ampun yang tulus.
Doa tersebut terdapat dalam QS. Al-A‘rāf: 23: Rabbana ẓalamnā anfusanā wa in lam taghfir lanā wa tarḥamnā lanakūnanna minal-khāsirīn (Ya Tuhan kami, kami telah berbuat zalim terhadap diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak mengasihani kami, niscaya kami akan termasuk golongan orang-orang yang rugi).
Selain jalur Nabi Adam, Al-Qur’an juga memperkenalkan jalur Nabi Yunus AS, sebuah jalan kembali yang lahir dari kesadaran mendalam di tengah kegelapan ujian. Ketika Nabi Yunus berada dalam perut ikan, dalam tiga lapis kegelapan, beliau memanjatkan doa yang singkat namun sangat dalam maknanya. Doa itu menjadi simbol pengakuan total atas kesalahan dan pengagungan kepada Allah. Doa tersebut diabadikan dalam QS. Al-Anbiyā’ sebagai pelajaran bagi siapa saja yang ingin kembali kepada Allah di tengah kesempitan hidup.
Doa Nabi Yunus tersebut berbunyi:
Lā ilāha illā anta subḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn (Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berbuat zalim).
Al-Qur’an juga mengajarkan jalur lain yang sangat luas, yaitu jalur istighfar. Nabi Nuh AS menyeru kaumnya agar kembali kepada Allah dengan memperbanyak istighfar. Dalam QS. Nūḥ: 10–12 dijelaskan bahwa istighfar bukan hanya menghapus dosa, tetapi juga membuka pintu rahmat Allah dalam kehidupan. Dengan istighfar, Allah menurunkan hujan yang membawa keberkahan, melapangkan rezeki, memperbanyak keturunan, dan memberikan kebun-kebun serta sungai-sungai. Pesan ini menunjukkan bahwa istighfar tidak hanya berdampak spiritual, tetapi juga membawa keberkahan dalam kehidupan sosial dan ekonomi manusia.
Sejalan dengan istighfar itu, Rasulullah SAW juga mengajarkan doa yang sangat terkenal kepada Sayyidah ‘Aisyah RA ketika beliau bertanya apa yang sebaiknya dibaca pada malam-malam Ramadhan, khususnya ketika berharap bertemu Lailatul Qadar. Rasulullah SAW menjawab dengan doa yang sangat singkat tetapi sarat makna: Allāhumma innaka ‘afuwwun tuḥibbul-‘afwa fa‘fu ‘annī (Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan mencintai pengampunan, maka ampunilah aku).
Selain itu, Rasulullah SAW juga mengajarkan jalan yang sangat praktis kepada sahabat Mu‘adz bin Jabal. Beliau bersabda bahwa apabila seseorang melakukan kesalahan, maka segeralah ia menyusulnya dengan perbuatan baik. Amal baik yang dilakukan setelah kesalahan akan menghapus bekas dosa yang telah terjadi. Prinsip ini memberi harapan besar bagi manusia, bahwa setiap kebaikan yang dilakukan dengan tulus dapat menjadi sarana penyucian diri. Dengan demikian, kehidupan seorang mukmin selalu bergerak antara kesalahan dan perbaikan, antara jatuh dan bangkit kembali menuju Allah.
Karena itu, ketika Ramadhan hampir berakhir, kaum mukminin seharusnya tidak lengah. Justru pada saat-saat terakhir inilah kesungguhan harus semakin ditingkatkan. Sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah fase penentu, saat di mana pintu rahmat Allah terbuka sangat luas. Siapa yang bersungguh-sungguh pada saat ini, besar harapan ia pulang dengan hati yang bersih. Inilah hakikat mudik spiritual yang sesungguhnya. Bukan sekadar kembali ke kampung halaman, tetapi kembali kepada kesucian jiwa, kembali kepada fitrah, kembali kepada Allah dengan hati yang telah dibersihkan oleh Ramadhan. (Padang, 15032026).

