Type Here to Get Search Results !

Pilwana Modal Sosial, Opini Publik, dan Silaturrahmi

Pertemuan penulis dengan sejumlah tokoh masyarakat Sikabu Lubuk Alung dan calon walinagari nomor urut empat, Edison Putra Saleh.

Oleh: Duski Samad

Pengkaji Adat dan Budaya

Pemilihan Wali Nagari (Pilwana) bukan sekadar kontestasi mencari pemenang, tetapi juga proses menentukan arah masa depan nagari. Karena itu, memahami strategi pemenangan Pilwana tidak cukup hanya melihat aspek kampanye formal, melainkan harus memahami karakter masyarakat, struktur sosial, budaya politik, serta perilaku pemilih yang hidup dalam kehidupan nagari.

Dalam ilmu politik, kemenangan seorang kandidat umumnya dipengaruhi oleh kemampuan mengelola tiga modal utama, yaitu modal ekonomi, modal sosial, dan modal simbolik. Ketiga modal tersebut saling berkaitan dan membentuk kekuatan elektoral yang menentukan hasil pemilihan.

Di lapangan, salah satu faktor yang sering menjadi perhatian adalah pengaruh kekuatan ekonomi. Praktik yang dikenal sebagai money politics, serangan fajar, maupun pemanfaatan jaringan penerima bantuan sosial sering kali menjadi bagian dari dinamika politik lokal. Secara normatif praktik ini tidak dibenarkan karena berpotensi merusak kualitas demokrasi dan menggeser orientasi pemilih dari memilih pemimpin terbaik menjadi memilih pemberi manfaat sesaat. Namun secara empiris, fenomena tersebut masih menjadi realitas yang tidak dapat diabaikan dalam berbagai kontestasi politik lokal.

Di samping faktor ekonomi, opini publik memiliki pengaruh yang sangat besar. Banyak pemilih menentukan pilihan bukan semata-mata berdasarkan program kerja, tetapi berdasarkan persepsi yang berkembang di tengah masyarakat. Karena itu, pembentukan citra, reputasi, dan kepercayaan menjadi bagian penting dalam strategi pemenangan.

Isu moral hazard, rekam jejak calon, perilaku keluarga, kemampuan komunikasi, serta dukungan tokoh masyarakat menjadi faktor yang memengaruhi opini publik. Dalam masyarakat nagari, dukungan seorang ulama, ninik mamak, cadiak pandai, bundo kanduang, maupun tokoh perantau sering kali memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan baliho atau kampanye media sosial.

Di Minangkabau, pendekatan primordial juga masih memiliki kekuatan yang signifikan. Hubungan suku, kaum, paruik, dan keluarga besar merupakan jaringan sosial yang telah mengakar selama berabad-abad. Dalam banyak kasus, pemilih cenderung memberikan dukungan kepada calon yang memiliki kedekatan genealogis atau emosional dengan mereka. Fenomena ini dalam ilmu sosial dikenal sebagai pendekatan primordial, yaitu kecenderungan seseorang mendukung pihak yang dianggap berasal dari identitas sosial yang sama.

Meski demikian, pendekatan primordial semata tidak lagi cukup. Masyarakat semakin rasional dan kritis. Mereka tidak hanya melihat hubungan keluarga, tetapi juga mempertimbangkan kapasitas dan integritas calon. Karena itu, strategi yang lebih efektif adalah memadukan pendekatan kekerabatan dengan pendekatan karakter.

Karakter calon menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan publik. Masyarakat ingin melihat pemimpin yang jujur, amanah, memiliki kemampuan manajerial, dekat dengan rakyat, serta mampu menyelesaikan persoalan nagari. Dalam filosofi Minangkabau, pemimpin ideal adalah yang memiliki aka nan panjang, budi nan baik, alua nan luruih, dan patuik nan bana. Karakter seperti inilah yang membangun legitimasi moral dan memperkuat dukungan masyarakat.

Di atas semua itu, pendekatan yang paling berkelanjutan adalah silaturahim. Politik nagari pada hakikatnya adalah politik kedekatan. Kehadiran calon di tengah masyarakat, keterlibatan dalam kegiatan sosial, menghadiri takziah, gotong royong, wirid, pengajian, serta berbagai kegiatan kemasyarakatan menciptakan hubungan emosional yang sulit digantikan oleh media apa pun.

Silaturahim bukan sekadar strategi kampanye, tetapi investasi sosial yang membangun kepercayaan. Masyarakat cenderung memilih orang yang mereka kenal, mereka percaya, dan mereka rasakan manfaat kehadirannya dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, kemenangan Pilwana yang kuat dan bermartabat sesungguhnya dibangun melalui perpaduan antara modal sosial, pengelolaan opini publik, kualitas karakter, serta jaringan silaturahim yang luas. Uang mungkin dapat memengaruhi pilihan sesaat, tetapi kepercayaan yang dibangun melalui integritas dan kedekatan sosial akan melahirkan dukungan yang lebih kokoh dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, Pilwana bukan hanya soal siapa yang menang, tetapi bagaimana melahirkan pemimpin nagari yang mampu menjaga marwah adat, memperkuat persatuan masyarakat, dan membawa nagari menuju kemajuan yang berkeadaban.ds. 13062026.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.