Type Here to Get Search Results !

Meretas Tabir Dark Academia

oleh ReO Fiksiwan

„Awal era pasca-industri, kira-kira sejak tahun 1960-an, telah disertai dengan peningkatan dramatis dalam kejahatan, perpecahan keluarga, dan ketidakpercayaan publik.” — Francis Fukuyama(73), The Great Disruption: Human Nature and the Reconstitution of Social Order(1999).

Kasus ijazah palsu mantan presiden tak berkesudahan yang mencoreng nama Universitas Gadjah Mada dan tragedi pelecehan seksual di Universitas Negeri Manado, dengan korban mahasiswi, Evia(21) yang akhirnya meninggal dunia di kosnya di Tomohon, menjadi potret buram dunia akademi kita. 

Kedua peristiwa ini bukan sekadar insiden individual, melainkan tanda kemerosotan etika dan moral yang semakin nyata di perguruan tinggi. 

Universitas, yang dahulu dibayangkan sebagai ruang suci bagi pencarian ilmu dan pembentukan karakter, kini sering kali berubah menjadi arena penuh intrik, penyalahgunaan kuasa, dan degradasi nilai.

Peter Fleming, akademisi Inggris kelahiran 1964 yang masih aktif menulis dan mengajar, dalam bukunya Dark Academia: How Universities Die(2021) menyingkap bagaimana struktur birokrasi dan logika neoliberal telah mengubah universitas menjadi tempat kerja beracun. 

Ia menulis bahwa universitas bukan lagi rumah bagi kebebasan intelektual, melainkan korporasi yang mengejar akreditasi, ranking, dan keuntungan finansial. 

Dalam atmosfer seperti itu, etika akademik terkikis, dosen dan mahasiswa kehilangan orientasi, dan kasus-kasus seperti ijazah palsu maupun pelecehan seksual menemukan ruang untuk terjadi. 

Chelsea Guo(20), seorang pianis klasik sekaligus soprano, dalam tanggapannya atas dark academia, menegaskan bahwa buku ini membangkitkan keputusasaan atas hilangnya lingkungan intelektual yang dijanjikan, sembari mempertanyakan apakah universitas tradisional pernah benar-benar menjadi tempat perlindungan bagi semua orang.

Selain itu, refleksi mutakhir juga datang dari buku Membangun di Atas Puing Integritas: Belajar dari Universitas Indonesia(2012) yang disunting oleh akademisi UI, Riris K. Toha-Sarumpet(75), Manneke Budiman(60), profesor kajian budaya, Ade Armando(64), doktor ilmu komunikasi yang kini politisi PSI dan menjabat Komisaris PLN Nusantara. 

Buku ini menyoroti robohnya daya tahan moral dan etika kaum intelektual kampus, dengan menjadikan Universitas Indonesia sebagai studi kasus. 

Ia menunjukkan bagaimana integritas akademik dapat runtuh ketika birokrasi, kepentingan politik, dan ambisi pribadi menguasai ruang kampus. 

Kritik ini memperkuat gambaran bahwa universitas di Indonesia tidak kebal terhadap krisis moral, melainkan bagian dari fenomena global yang digambarkan Fleming sebagai “kematian universitas.”

Sebagai tinjauqn filosofis, Karl Jaspers, filsuf Jerman, dalam The Idea of University(1967) menekankan bahwa universitas seharusnya menjadi fondasi pendidikan tinggi yang berlandaskan kebebasan berpikir, pencarian kebenaran, dan tanggung jawab moral. Namun, realitas hari ini menunjukkan jurang yang lebar antara ideal dan praktik. 

Ketika ijazah bisa dipalsukan demi status, dan ketika seorang dosen bisa menyalahgunakan kuasa hingga merenggut nyawa mahasiswinya, maka universitas telah kehilangan roh yang digagas Jaspers.

Dark Academia bukan sekadar estetika romantis tentang buku tua dan ruang kuliah berdebu, melainkan kritik tajam terhadap kematian universitas sebagai institusi moral. 

Ia menyingkap bagaimana kampus, yang seharusnya menjadi ruang aman bagi mahasiswa, justru berubah menjadi tempat yang menakutkan. 

Tragedi Evia dan kasus ijazah palsu adalah alarm keras bahwa dunia akademi kita sedang sakit. 

Universitas tidak lagi menjadi benteng nilai, melainkan cermin rapuh dari masyarakat yang terjebak dalam logika kuasa dan keuntungan.

Refleksi ini mengajak kita untuk kembali pada gagasan dasar universitas: ruang perjumpaan intelektual yang berlandaskan etika, moral, dan tanggung jawab. 

Tanpa itu, universitas hanya akan menjadi bangunan kosong, penuh gelar dan sertifikat, tetapi kehilangan jiwa. 

Dark Academia, dalam arti yang paling serius, adalah peringatan bahwa jika universitas terus dibiarkan mati secara moral, maka yang hilang bukan hanya institusi, melainkan masa depan generasi yang seharusnya dibentuk oleh cahaya pengetahuan.

#coversongs:

„True Love” adalah single elektronik/deep house karya Hamidshax yang dirilis pada 23 Juni 2023 di bawah label LTB Records.

Hamidshax, nama asli Hamid Shams, lahir 31 Maret 1980 di Teheran, Iran, sehingga kini berusia 45 tahun. 

Lagu ini bermakna tentang cinta sejati sebagai energi emosional yang tulus, digambarkan lewat nuansa musik elektronik yang melankolis namun penuh harapan.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.