![]() |
Oleh: Duski Samad
Cendikiawan Anak Nagari Padang Pariaman
Sambutan Sekretaris Daerah Padang Pariaman saat tim Ramadhan 26022026 bahwa pemerintah daerah akan mengabadikan nama Muslim Kasim pada RSUD Parikmalintang amat patut dan pantas diapresiasi.
Terima kasih dan apresiasi tinggi dari kami cendikiawan kepada Bupati Padang Pariaman yang populer dengan akrab Pak JKA Rahmat atas rencana mengabadikan nama almarhum Muslim Kasim (Bupati Padang Pariaman dua periode dan Wakil Gubernur pada masanya) pada satu legecinya Rumah Sakit daerah di Parikmalintang. Memberikan penghargaan pada kerja dan karya pendahulu adalah wujud pemimpin bermartabat.
Penggunaan nama RSUD Muslim Kasim bagi Rumah Sakit Umum Daerah Padang Pariaman bukan sekadar perubahan administratif yang bersifat simbolik. Ia adalah penanda arah, peneguhan identitas, sekaligus pernyataan visi tentang bagaimana pelayanan kesehatan seharusnya dijalankan di tengah masyarakat yang berakar kuat pada nilai agama dan budaya.
Nama “Muslim Kasim” tidak berdiri di ruang hampa. Ia membawa pesan tentang pengabdian, tentang nilai keislaman yang hidup, dan tentang tanggung jawab kemanusiaan yang melampaui sekadar pelayanan teknis medis. Di balik nama itu tersimpan harapan besar: bahwa rumah sakit ini tidak hanya menjadi tempat menyembuhkan penyakit, tetapi juga menjadi ruang untuk memulihkan manusia secara utuh—jasmani, jiwa, dan ruhani.
Di ruang-ruang gawat darurat, kita menyaksikan bagaimana ilmu kedokteran modern bekerja dengan kecepatan dan ketepatan yang luar biasa. Korban kecelakaan lalu lintas, bencana alam, dan berbagai cedera berat dapat diselamatkan dari ambang kematian. Teknologi, keahlian dokter, dan sistem tanggap darurat telah membawa kemajuan besar bagi peradaban manusia.
Namun, di balik keberhasilan itu, terdapat satu kenyataan yang sering tidak terlihat: tidak semua yang selamat benar-benar pulih. Banyak pasien pasca-trauma yang keluar dari rumah sakit dengan tubuh yang sembuh, tetapi dengan jiwa yang masih terluka. Mereka hidup dalam bayang-bayang ketakutan, kecemasan, bahkan kehilangan makna hidup. Dalam bahasa psikologi modern, kondisi ini dikenal sebagai post-traumatic stress disorder (PTSD), depresi, dan gangguan kecemasan berkepanjangan.
Di titik inilah kita dihadapkan pada satu kesadaran penting: bahwa trauma bukan hanya persoalan fisik, tetapi juga persoalan batin. Ia menyentuh dimensi terdalam manusia—dimensi makna, harapan, dan ketenangan jiwa. Ilmu kesehatan modern sendiri telah mengakui bahwa trauma bersifat biopsikososial, bahkan spiritual. Stres yang berkepanjangan meningkatkan hormon kortisol, melemahkan sistem imun, dan memperlambat proses penyembuhan. Luka jiwa ternyata mampu menghambat kesembuhan tubuh.
Islam, jauh sebelum perkembangan ilmu modern, telah menawarkan paradigma penyembuhan yang lebih utuh. Rasulullah ï·º menegaskan bahwa setiap penyakit memiliki obatnya, sementara Al-Qur’an menyebut dirinya sebagai syifa’—penawar bagi apa yang ada di dalam dada manusia. Para ulama besar seperti Abu Hamid Al-Ghazali menjelaskan bahwa manusia tidak hanya mengalami penyakit jasmani, tetapi juga penyakit hati. Maka pengobatan tidak boleh berhenti pada tubuh, tetapi harus menjangkau batin.
Dalam perspektif ini, gagasan menjadikan RSUD Muslim Kasim sebagai pusat pemulihan holistik berbasis terapi sufistik menemukan relevansinya. Terapi sufistik bukan sekadar ritual spiritual, tetapi pendekatan ilmiah dalam tradisi Islam yang menata jiwa melalui zikir, sabar, tawakkal, dan kesadaran akan makna hidup. Ia bekerja pada dimensi terdalam manusia, menenangkan kegelisahan, dan membangun kembali harapan yang hilang.
Menariknya, pendekatan ini tidak berdiri sendiri. Ia menemukan penguatnya dalam penelitian modern yang menunjukkan bahwa praktik spiritual seperti meditasi dan zikir mampu menurunkan hormon stres, menstabilkan emosi, dan mempercepat pemulihan kesehatan. Dengan demikian, terapi sufistik bukan alternatif bagi medis, tetapi justru menjadi pelengkap yang memperkuat efektivitas penyembuhan.
Lebih dari itu, gagasan ini bukan sesuatu yang utopis. Ia memiliki basis keilmuan dan kesiapan sumber daya manusia yang nyata melalui kehadiran UIN Imam Bonjol Padang. Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi Islam telah menyiapkan tenaga-tenaga yang tidak hanya memahami konsep spiritualitas, tetapi juga terlatih dalam pendampingan jiwa manusia. Mereka menguasai pendekatan tazkiyatun nafs, memahami dinamika batin, dan mampu hadir sebagai pendamping dalam proses penyembuhan yang bersifat eksistensial.
Di sisi lain, Program Studi Psikologi Islam telah melahirkan para alumni yang memiliki kompetensi psikologi modern sekaligus berakar pada nilai keislaman. Mereka bukan hanya psikolog dalam arti klinis, tetapi juga agen pemulihan sosial yang mampu bekerja di tengah masyarakat. Mereka memahami bahwa trauma tidak berhenti pada individu, tetapi merambat ke keluarga dan komunitas. Karena itu, pendekatan yang mereka bawa adalah pendekatan psikososial berbasis komunitas—sebuah pendekatan yang sangat relevan dalam konteks masyarakat Minangkabau.
Di Minangkabau, nilai Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah telah lama menjadi fondasi kehidupan. Surau tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan, pembinaan akhlak, dan ruang pemulihan sosial. Tradisi dunsanak, gotong royong, dan kepedulian kolektif membentuk jaringan sosial yang kuat, yang dalam perspektif modern disebut sebagai social capital.
Jika semua ini disinergikan, maka akan lahir sebuah ekosistem baru: rumah sakit sebagai pusat layanan medis, kampus sebagai pusat keilmuan dan penyedia tenaga ahli, serta masyarakat sebagai ruang rehabilitasi sosial. Inilah integrasi antara ilmu, iman, dan budaya—sebuah model yang tidak hanya menyembuhkan pasien, tetapi juga menguatkan masyarakat.
Peresmian nama RSUD Muslim Kasim seharusnya menjadi pintu masuk menuju transformasi besar ini. Dari rumah sakit yang berfokus pada penyelamatan fisik, menuju pusat pemulihan yang menyentuh seluruh dimensi manusia. Dari layanan kesehatan yang bersifat teknis, menuju pelayanan yang sarat makna dan nilai.
Pada akhirnya, kita harus menyadari bahwa manusia bukan sekadar tubuh yang sakit, tetapi makhluk yang memiliki jiwa dan harapan. Jika yang disembuhkan hanya tubuhnya, maka yang pulih hanya separuh dirinya. Namun jika yang disentuh adalah tubuh, jiwa, dan ruhnya sekaligus, maka yang lahir adalah manusia yang kembali utuh—bahkan lebih kuat dari sebelumnya.
Dan di situlah makna sejati dari sebuah rumah sakit: bukan hanya tempat menyelamatkan hidup, tetapi tempat menghidupkan kembali makna kehidupan. DS.28022026.

