Type Here to Get Search Results !

MAHELO AUR SUNSANG: Ketika Masalah Menjadi Simpul yang Menjerat, dan Kepemimpinan Diuji oleh Nurani

Oleh: Duski Samad

STP#series83.11042026

Di sebuah sudut kehidupan yang sederhana—seperti tergambar dalam pertemuan hangat di warung rakyat, di antara makanan tradisional dan cangkir kopi—kita diingatkan bahwa hidup ini pada dasarnya adalah jaringan relasi, rasa, dan persoalan. Di sanalah manusia berbagi cerita, mengurai masalah, dan mencari jalan keluar. Namun tidak semua masalah dapat diurai dengan mudah.

Ada fase dalam kehidupan—baik pada diri, keluarga, maupun bangsa—di mana masalah tidak lagi hadir secara sederhana. Ia tidak datang sebagai satu persoalan yang bisa ditunjuk ujung pangkalnya, tetapi menjelma menjadi simpul yang saling mengikat, menekan, dan membingungkan. Dalam ungkapan kultural Minangkabau yang sarat makna, keadaan itu disebut “mahelo aur sunsang”—rumit, terbalik, dan sulit diurai.

Dalam situasi seperti ini, manusia sering kehilangan kejernihan. Masalah yang awalnya kecil berkembang menjadi besar karena tidak diselesaikan dengan benar. Masalah pribadi menjalar ke keluarga, konflik keluarga merembet ke kelompok, dan akhirnya menciptakan ketegangan yang lebih luas. Semua terasa saling terkait, dan setiap upaya menyelesaikan justru berpotensi memperparah keadaan.

Di titik inilah muncul cara pandang yang berbahaya: bahwa setiap masalah harus diselesaikan, walaupun harus ada yang dikorbankan. Logika ini tampak tegas, bahkan terlihat “solutif”, tetapi sesungguhnya mengandung kekeliruan mendasar. Ia mengabaikan dimensi moral, dan menjadikan “hasil” lebih penting daripada “cara”.

Al-Qur’an sejak awal telah mengingatkan manusia agar tidak menyelesaikan persoalan dengan melahirkan kerusakan baru:“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya” (QS. Al-A’raf: 56).

Ayat ini memberi batas tegas bahwa tidak semua jalan keluar itu benar. Jika solusi menimbulkan ketidakadilan, menambah penderitaan, atau merusak tatanan, maka itu bukan penyelesaian, tetapi perpindahan masalah ke bentuk lain.

Dalam tradisi hukum Islam, prinsip ini ditegaskan lebih jauh melalui kaidah: dar’ul mafasid muqaddam ‘ala jalbil mashalih—menolak kerusakan harus didahulukan daripada mengejar kemaslahatan. Bahkan ketika dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama sulit, yang dipilih adalah jalan yang paling sedikit mudaratnya. Ini menunjukkan bahwa Islam tidak pernah membenarkan penyelesaian yang gegabah, apalagi yang mengorbankan kemanusiaan.

Dalam perspektif ilmiah modern, kondisi seperti ini dikenal sebagai kegagalan sistem yang kompleks. Tidak ada satu sebab tunggal yang bisa disalahkan. Banyak faktor saling berinteraksi—emosi, kepentingan, tekanan sosial, bahkan bias dalam berpikir. Dalam tekanan seperti itu, manusia cenderung mengambil keputusan cepat, bukan keputusan tepat. Ia bereaksi, bukan merenung. Ia memilih jalan pintas, bukan jalan yang benar.

Karena itu, dalam kondisi mahelo aur sunsang, yang paling diuji bukan hanya kecerdasan, tetapi kedewasaan jiwa—terutama pada pemimpin. Pemimpin yang lemah secara batin akan tergoda untuk memaksakan solusi. Ia ingin cepat terlihat berhasil, walaupun harus mengorbankan pihak lain. Ia tidak sabar dengan proses, tidak tahan dengan kritik, dan sering kali melihat masalah sebagai ancaman terhadap dirinya, bukan sebagai amanah yang harus diselesaikan dengan bijak.

Sebaliknya, pemimpin yang matang justru akan menahan diri. Ia memahami bahwa tidak semua masalah bisa diselesaikan secara instan. Ia mendengar, menimbang, dan menjaga agar setiap keputusan tetap berada dalam koridor keadilan. Ia tidak menjadikan manusia sebagai “biaya” dari sebuah solusi. Ia sadar bahwa kekuasaan bukan alat untuk memaksakan kehendak, tetapi amanah untuk menjaga keseimbangan.

Al-Qur’an menegaskan prinsip ini dengan sangat mendasar:“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat ihsan” (QS. An-Nahl: 90).

Dalam ayat ini, keadilan dan ihsan berjalan beriringan. Artinya, penyelesaian masalah tidak cukup hanya benar secara hukum, tetapi juga harus menyentuh sisi kemanusiaan dan kebijaksanaan.

Pada akhirnya, mahelo aur sunsang adalah cermin dari keterbatasan manusia. Ia mengingatkan bahwa tidak semua simpul bisa dibuka dengan kekuatan, tetapi harus dengan kesabaran. Tidak semua masalah selesai dengan keputusan cepat, tetapi dengan proses yang benar.

Maka yang diperlukan bukan sekadar keberanian untuk bertindak, tetapi kebijaksanaan untuk menahan diri. Bukan sekadar kecepatan menyelesaikan, tetapi ketepatan dalam menata.

Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan hanya apakah masalah itu selesai, tetapi bagaimana ia diselesaikan—apakah dengan keadilan atau dengan kerusakan.

Dan di situlah kepemimpinan menemukan maknanya yang sejati:

bukan pada kemampuan mengalahkan masalah, tetapi pada kemampuan menjaga nilai ketika menghadapi masalah yang paling rumit sekalipun.

Sebab tidak semua simpul harus diputus—sebagian harus diurai dengan sabar, agar kemanusiaan tetap utuh di dalamnya. Wallāhu a‘lam bi al-shawāb.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.