Type Here to Get Search Results !

KALI KEBO: Antara Jejak Ekologis dan Memori Kolektif Kota Batu

BATU MASA LALU

Oleh : Akaha Taufan Aminudin 

Tulisan dari Cakndjojo ini adalah sebuah catatan memori yang sangat autentik, jenaka, sekaligus memiliki nilai dokumentasi sejarah lokal yang kuat. 

Membaca narasi ini seperti diajak masuk ke dalam mesin waktu menuju Kota Batu dekade 1970-an.

Berikut adalah apresiasi dan sedikit ulasan mengenai karya tulis tersebut:

*1. Narasi yang Mengalir dan Informatif*

Tulisan ini dibuka dengan wawasan yang luas mengenai toponimi (asal-usul nama tempat). Penulis tidak hanya terpaku pada satu lokasi, tetapi memberikan komparasi dengan daerah lain seperti Lumajang, Blitar, dan Klaten. Ini menunjukkan bahwa penulis memiliki ketertarikan pada aspek budaya dan sejarah di balik sebuah nama.

*2. Kekuatan "Nostalgia Kolektif"*

Bagian yang paling menarik adalah keberanian penulis menceritakan tradisi "cangkruk" di Kali Kebo untuk BAB sebelum adanya fasilitas WC pribadi.

Kejujuran Budaya: Penggambaran aktivitas di sepanjang Kampung Kauman hingga jembatan Jl. Brantas diceritakan secara apa adanya (tanpa tedeng aling-aling). Ini adalah potret sosiologis masyarakat urban-pedesaan pada masa itu.

Humor yang Segar: Cerita tentang dua bersaudara, Ecang dan Budi, yang bertemu saat sedang "tuntas hajat" karena efek makan biskuit Khong Guan satu kaleng adalah puncak komedi yang sangat manusiawi. Interaksi "salaman sambil cekikikan" di pinggir sungai memberikan nuansa hangat dalam persaudaraan.

*3. Detail Spasial (Pemetaan Kota Batu)*

Catatan kaki dan tambahan di akhir tulisan memberikan nilai geografi sejarah. Penulis menjelaskan alur air Kali Kebo yang kini telah tertutup beton:

Melintas di bawah pelataran Masjid An-Nuur.

Di bawah Plaza Batu. Hingga mengairi persawahan di Basele, Kaliputih.

Informasi ini sangat berharga bagi generasi muda Kota Batu untuk memahami struktur kota mereka yang sebenarnya di masa lalu.

*4. Gaya Bahasa yang Khas*

Penggunaan istilah lokal seperti kumkum, tetenger, kepancal, plupuh, gerdin, hingga sak blek memberikan tekstur kedaerahan yang kental. Gaya bercerita ini membuat pembaca merasa sedang mendengarkan orang tua yang bercerita di teras rumah (bercerita dengan gaya tutur).

*Kesimpulan & Komentar*

Tulisan Cakndjojo bukan sekadar cerita lucu, melainkan sebuah memoar sosial. Beliau berhasil membungkus kenangan masa kecil yang mungkin dianggap "tabu" atau "jorok" bagi sebagian orang menjadi sebuah narasi yang sangat humanis dan penuh rasa syukur.

Satu poin emosional: Penyebutan almarhum Iksan Supriadi (Ecang) sebagai Ketua Imakoba pertama memberikan penghormatan (tribute) yang layak bagi sosok yang pernah berjasa di masanya.

*Saran kecil: Tulisan seperti ini sangat layak untuk dikumpulkan menjadi sebuah buku kumpulan esai bertema "Batu Masa Lalu".*

Cerita-cerita remeh yang personal seperti inilah yang justru sering kali luput dari catatan sejarah resmi kota.

Kamis 8 Januari 2026

Akaha Taufan Aminudin 

*Sisir Gemilang Kampung Baru Literasi SIKAB Himpunan Penulis Pengarang Penyair Nusantara HP3N Kota Batu Wisata Sastra Budaya SATUPENA JAWA TIMUR*

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.