![]() |
Oleh: Duski Samad
Pembimbing Haji dan Umrah sejak 1999
Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW bukan sekadar peristiwa sejarah atau ritual peringatan tahunan. Ia adalah perjalanan pemulihan jiwa—sebuah isyarat ilahi bahwa kebahagiaan sejati lahir dari kedekatan dengan Allah, bukan dari bebasnya hidup dari ujian. Di saat manusia merasa paling lelah, paling kehilangan, dan paling rapuh, justru di sanalah Allah membuka pintu pengangkatan derajat.
Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa bahagia bukan berarti tanpa luka, melainkan mampu berjalan bersama luka dalam cahaya iman. Dari bumi duka menuju langit harapan, Rasulullah SAW diperjalankan bukan untuk melarikan diri dari realitas, tetapi untuk kembali ke bumi dengan jiwa yang lebih kokoh, hati yang lebih lapang, dan misi yang lebih mulia.
Allah SWT berfirman: “Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.”
(QS. Al-Isrā’: 1)
Ayat ini menegaskan bahwa Allah memperjalankan seorang hamba, bukan karena ia bebas dari kesedihan, tetapi karena ia teguh dalam penghambaan. Inilah pesan mendalam bagi umat hari ini: kebahagiaan lahir batin tumbuh dari ketundukan, bukan dari penguasaan.
Shalat: Titik Temu Langit dan Jiwa
Dari peristiwa Isra’ Mi’raj, Allah menghadiahkan shalat—bukan sekadar kewajiban, tetapi jalur kebahagiaan ruhani. Shalat adalah Mi’raj harian orang beriman; tempat menaruh beban hidup, menata ulang emosi, dan menenangkan kegelisahan batin.
Di dalam shalat, manusia belajar berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, menundukkan ego, dan menyandarkan diri sepenuhnya kepada Allah. Karena itu Allah menegaskan: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-‘Ankabūt: 45)
Shalat yang hidup melahirkan hati yang damai, akhlak yang lembut, dan pikiran yang jernih. Maka, kebahagiaan pasca haji dan umrah bukan diukur dari cerita perjalanan, tetapi dari kedalaman shalat dan kualitas akhlak setelah kembali ke tanah air.
Umrah sebagai Terapi Jiwa
Umrah bukan hanya perjalanan fisik, melainkan proses penyembuhan eksistensial. Di Tanah Suci, manusia ditelanjangi dari status, gelar, dan atribut dunia. Yang tersisa hanyalah seorang hamba di hadapan Tuhannya. Di sanalah ego dilebur, luka batin disentuh, dan orientasi hidup diluruskan.
Rasulullah SAW bersabda: “Umrah ke umrah berikutnya menjadi penghapus dosa di antara keduanya.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Penghapusan dosa ini bukan hanya administratif spiritual, tetapi juga pemulihan batin—hilangnya beban rasa bersalah, lahirnya harapan baru, dan tumbuhnya makna hidup. Karena itu, Reuni Akbar Jemaah Umrah adalah momentum strategis untuk memperbarui niat: menjaga ruh umrah agar tetap hidup dalam keseharian.
Bahagia yang Diuji: Kesabaran dan Kepedulian
Allah tidak menjanjikan hidup tanpa cobaan, tetapi menjanjikan makna dan kebahagiaan bagi yang bersabar:
“Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 155)
Bagi alumni haji dan umrah, kebahagiaan lahir batin tercermin dalam kemampuan menghadapi masalah keluarga dengan tenang, bermasyarakat dengan arif, dan merespons bencana dengan empati. Kesalehan spiritual menemukan maknanya ketika menjelma menjadi kesalehan sosial.
Amal Jariah: Mi’raj Sosial
Isra’ Mi’raj dan haji–umrah mencapai puncak maknanya ketika melahirkan amal yang terus mengalir. Rasulullah SAW bersabda:
“Jika anak Adam meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang saleh.”
(HR. Muslim)
Amal jariah adalah Mi’raj sosial—kenaikan derajat bukan hanya di hadapan Allah, tetapi juga dalam kemanusiaan. Terlebih saat saudara-saudara kita terdampak bencana, kehilangan rumah, penghidupan, dan rasa aman, uluran tangan jamaah menjadi cahaya di tengah gelapnya ujian.
Allah menegaskan:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa.” (QS. Al-Mā’idah: 2)
Talbiyah Labbaik Allahumma Labbaik menemukan wujud nyatanya dalam sedekah, empati, dan kehadiran yang menenangkan.
Penutup: Dari Mi’raj ke Martabat Kemanusiaan
Isra’ Mi’raj menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW dipanggil sebagai ‘abd—hamba—sebelum Rasul. Kebahagiaan lahir batin lahir dari kesadaran ini: menjadi hamba yang ikhlas, rendah hati, dan tegar dalam ujian.
Dari Ka’bah ke kamp pengungsian, dari doa di Multazam ke kerja-kerja kemanusiaan di nagari-nagari yang terluka—di sanalah iman diuji dan dimuliakan. Semoga Isra’ Mi’raj 1447 H dan Reuni Akbar Jemaah Umrah Holiday Travel menjadikan kita manusia yang lebih tenang jiwanya, lebih lapang dadanya, dan lebih luas cintanya kepada sesama.
Semoga kita pulang bukan hanya sebagai jamaah yang pernah ke Tanah Suci, tetapi sebagai penyambung rahmat Allah di bumi—membahagiakan diri, keluarga, dan umat.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn. Ds. 09012026.

