Type Here to Get Search Results !

Membaca Idola Ulang Dalam Biografi Setan

oleh ReO Fiksiwan 

“Money is the most universal and most efficient system of mutual trust ever devised.” 

Alihbasa: “Uang adalah sistem kepercayaan bersama yang paling universal dan paling efisien yang pernah diciptakan.” — Yuval Noah Harari(49), Money(2018).

Sejarah manusia selalu ditandai oleh hasrat yang tak pernah padam terhadap uang. 

Rakus, tamak, menipu, menumpuk, dan haus akan harta, terutama uang, adalah wajah gelap yang berulang kali muncul dalam biografi peradaban. 

Jordan Belfort, mantan pialang saham Amerika yang kini berusia 63 tahun, menjadi salah satu figur nyata yang menyingkap sisi kelam itu. 

Dalam The Wolf of Wall Street(2007) dan Catching the Wolf of Wall Street(2009), ia menuturkan bagaimana uang yang diperoleh dengan cara haram — penipuan investasi, manipulasi pasar, dan pencucian uang — menghancurkan dirinya sekaligus memperlihatkan betapa uang bisa menjadi setan yang merasuki jiwa manusia.

Refleksi akan hal ini, memuja(idola) uang, menemukan gema dalam kritik terhadap Astrologi Keuangan(1990) dari Joan McEvers(1938–2009).

McEvers, konselor dan astrolog asal Amerika, mencoba membaca pasar saham melalui pergerakan planet, seolah-olah langit dapat meramalkan nasib uang. 

Namun, di balik eksperimen itu, terselip kritik bahwa manusia rela mencari legitimasi apa pun, bahkan mistik maupun pesugihan, untuk membenarkan kerakusan finansial. 

Astrologi keuangan menjadi simbol betapa uang dipuja sebagai kuasa gaib, padahal ia hanyalah alat yang sering disalahgunakan. Indonesia sendiri tidak luput dari drama uang dalam biografi setan. 

Reformasi fiskal dan moneter yang terjadi setelah Purbaya Yadhi Sadewa(62) menjabat Menteri Keuangan pada September 2025, sedikit banyak ikut mengguncang performa keuangan nasional. 

Kebijakan yang dimaksudkan untuk menata ulang sistem justru menimbulkan stagnasi dan disrupsi, memperlihatkan betapa uang dan kekuasaan fiskal bisa menjadi pisau bermata dua. 

Di satu sisi, ia menjanjikan stabilitas, di sisi lain ia membuka ruang bagi ketidakpastian yang menekan rakyat.

Dalam perspektif teologi materialisme, uang adalah berhala modern. Dr. Ahmad Riawan Amin MSc(67), Direktur Utama Bank Muamalat Indonesia (1999–2009), pernah menulis Satanic Finance: True Conspiracies(2007) sebagai kritik tajam terhadap sistem kapitalisme global. 

Ia menggambarkan bagaimana uang bekerja seperti setan, menjerat manusia melalui sistem keuangan yang rakus dan penuh tipu daya. 

Untuk meninjau sekilas ihwal peran setan, Dr. Ahmad Sakr(1938-2015) — akademisi Arab-Lebanon, doktor lulusan University of Illinois, pendiri Muslim Students’ Association (MSA) di Amerika, serta pernah menjadi perwakilan Muslim World League di PBB — ikut mengulas bagaimana setan dalam kehidupan seluruh umat manusia.

Merujuk pada Biografi Setan: Pendekatan dan Pemahaman Ilmiah(Pustaka Hidayah,2003), Sakr menekankan bahwa: 

“Setan adalah musuh nyata manusia, yang bekerja tanpa lelah menjerumuskan manusia melalui tipu daya, bisikan, dan rayuan, sehingga manusia lupa akan Allah dan terjerat dalam dosa.”

Sementara, dengan gagasan idola(pemujaan) uang menurut Sejarah Setan: Dalam Literatur Kitab Suci dan Demonologi Kuno(2021) dari jurnalis, Syahruddin El-Fikri, tersingkap bagaimana peran kuasa gaib setan dalam sejarah iman manusia. 

Uang, dalam refleksi ini, bukan sekadar alat tukar, melainkan roh jahat yang bisa merusak akal budi bila dipuja tanpa kendali.

Yuval Noah Harari, sejarawan sains asal Israel, menambahkan dimensi lain: uang adalah fiksi kolektif yang hanya hidup karena manusia percaya padanya. 

Namun, fiksi itu bisa berubah menjadi mitos berbahaya ketika manusia menjadikannya tujuan hidup. 

Ketika uang dipuja(idol), ia menjelma menjadi setan yang menguasai pikiran, menggerakkan sistem, dan menjerumuskan manusia ke dalam jurang materialisme.

Dengan kata lain, uang dalam biografi setan adalah cermin spiritual yang memperingatkan kita. 

Ia menunjukkan bahwa rakus, tamak, menipu, menumpuk, dan haus akan harta bukan sekadar kelemahan moral, melainkan jalan menuju perbudakan oleh kuasa gaib yang bernama uang. 

Dari Jordan Belfort hingga kebijakan fiskal Indonesia, dari astrologi keuangan hingga kritik teologi materialisme(mamonisme), semuanya menegaskan satu hal: uang adalah setan ketika manusia kehilangan kendali atas dirinya.

#coverlagu: Lagu Money Shift karya Svend Christensen dirilis pada 13 Juni 2025 sebagai bagian dari album Joyride. 

Lagu berdurasi 2 menit 47 detik ini bersifat instrumental. Musik instrumentalia ini dapat disimak sebagai metafora tentang perubahan ritme hidup dan energi yang digerakkan oleh uang.

Juga, bisa menggambarkan dinamika cepat, penuh dorongan, dan kadang mengguncang layaknya “pergeseran gigi” dalam perjalanan finansial maupun spiritual.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.