![]() |
Oleh: Ririe Aiko
(Puisi esai ini terinspirasi dari peristiwa nyata di Sibolga, Sumatera Utara, ketika seorang suami mengumandangkan adzan di tengah longsor, berharap istrinya yang tertimbun bisa pulang dalam keadaan hidup atau wafat dengan husnul khatimah.) (1)
---000---
Hujan jatuh membasahi tanah
yang terlalu letih menyangga luka.
Satu, dua hingga ratusan nyawa manusia
tertimbun dalam duka tanpa sempat
mengucap doa.
Bukit runtuh bersandar di antara bau lumpur,
bercampur dengan anyir,
mengubur raga yang masih terasa hangat.
Seorang lelaki berdiri,
air matanya luruh
di antara lumpur yang menelan separuh jiwanya.
Ia tak berteriak.
Tak menuntut langit bertanggung jawab.
Ia pun tak menggugat,
meski hatinya kian terkoyak.
Lelaki itu hanya ingin menemukan sisa kepastian,
agar penantian tak kunjung jadi harapan
tanpa jawaban.
Tangannya meraba udara,
membayangkan wajah
yang biasa ia temui
di ambang pagi.
Di antara hari yang terus berganti,
ia tak tahu ke mana lagi harus mencari,
selain pada ingatan
yang pelan-pelan jadi buram.
Sejak tanah itu runtuh,
tak ada lagi pagi yang benar-benar utuh.
Jam tetap berjalan,
namun waktu kehilangan arah.
Ia duduk di antara orang-orang yang menunggu,
masing-masing membawa nama
dengan ketakutan yang sama. (2)
Tak ada yang saling bertanya,
karena semua tahu
apa yang sedang dipertaruhkan.
Sesekali ia berharap,
istrinya ditemukan utuh,
bukan hancur,
bukan tercerai oleh tanah dan batu.
Harapan yang kejam,
namun satu-satunya
yang mampu ia pegang.
Ia takut pada dua kemungkinan:
bertemu dengan kenyataan pahit,
atau tak pernah tahu
di mana harus menaruh doa.
Di hadapannya, sekop-sekop bekerja,
menggali harapan sekaligus keputusasaan.
Setiap tanah yang terangkat adalah kemungkinan: menemukan atau kehilangan.
Tanah tak memilih korban.
Ia hanya runtuh, seperti takdir yang lepas kendali.
Ketika iman dan rindu saling bertabrakan,
hanya adzan yang bisa ia kumandangkan,
bukan sebagai penanda waktu salat,
tapi sebagai panggilan penuh harap:
"Allahu Akbar… istriku, sayang,
ayo keluar dari sana,
aku ingin bertemu,
apa pun wujudmu sekarang." (3)
Suara itu bukan panggilan,
melainkan pengakuan
atas cinta yang tak sempat berpamitan.
Namun rayuan itu tak jitu seperti dulu,
saat sang istri masih menyahut dari balik pintu,
menyajikan seteguk kopi hangat
yang diseduh sambil tersipu.
Kini rayuan itu jatuh pada tanah
yang menyisakan gema patah.
Dingin, membiaskan rindu
dalam diam yang semakin panjang,
ia paham: tak semua doa meminta keajaiban. Sebagian doa hanya ingin kepastian,
agar hati tahu ke mana harus berserah.
Di antara tanah basah
yang mulai mengering,
ia masih duduk di sana,
menyandarkan tanya pada bumi.
Apakah kau masih ada di alam yang sama,
atau sedang melihatku
menangis dari surga?
Catatan:
(1)https://www.pandeglangnews.co.id/news/16316402013/viral-seorang-pria-terus-kumandangkan-azan-untuk-istrinya-yang-tertimbun-longsor-di-sibolga
(2)https://visual.republika.co.id/berita/t6t0qa375/wajah-penuh-harap-warga-aek-manis-sibolga-menanti-jasad-keluarganya-ditemukan
(3) https://vt.tiktok.com/ZSP5JYnhH/

