![]() |
Yayasan Islamic Centre Syekh Burhanuddin (ICSB) lahir dengan cita-cita luhur: mewarisi cahaya ulama Minangkabau dan menebar hikmah untuk dunia. Sejak awal, yayasan ini berkomitmen menghadirkan pendidikan Islam yang inklusif, murah, berkualitas, dan berakar pada tradisi Syekh Burhanuddin Ulakan.
1. Pendidikan Inklusif: Everyone Can Study
Prinsip utama yayasan adalah memastikan setiap orang memiliki kesempatan kuliah tanpa terhambat biaya.
Biaya kuliah terjangkau hanya Rp. 1.400.000 per semester, dapat diangsur.
Fokus pada akademik: seluruh pembiayaan diarahkan untuk kegiatan akademis, bukan birokrasi. Komitmen sosial: pembina, pengurus, dan pengawas yayasan tidak menerima honor, kecuali uang transport rapat sebesar Rp. 200.000. Kesejahteraan dosen & staf: take home pay pimpinan, dosen, dan pegawai berkisar antara Rp. 1.500.000 – Rp. 5.700.000. Akses beasiswa luas: KIP, Baznas Provinsi, Baznas Kabupaten Padang Pariaman, Kota Pariaman, serta bantuan SAGA PLUS dari Pemko Pariaman. Model ini menegaskan bahwa yayasan menempatkan pendidikan sebagai investasi sosial dan amal jariyah, bukan komoditas bisnis.
2. Optimalisasi Branding Syekh Burhanuddin
ICSB menjadikan figur Syekh Burhanuddin sebagai simbol warisan ilmu, akhlak, dan kebudayaan Minangkabau. Upaya branding dilakukan melalui:
Program Sarjana Tuanku hasil kerja sama dengan Ponpes Nurul Yakin Ringan-Ringan, Ambung Kapur, dan PPMTI Batang Kabung Padang. Program ini memperkuat tradisi tafaqquh fiddin sekaligus melahirkan ulama intelektual. Dukungan beasiswa bagi tuanku pengasuh pesantren agar tidak terbebani biaya studi. Gerakan literasi & promosi melalui Majelis Syekh dan Tuanku Nasional, penulisan buku Living Heritage, Ensiklopedia Syekh Burhanuddin, serta jejaring media sosial ICSB. Dengan branding ini, nama Syekh Burhanuddin bukan hanya dikenal di Minangkabau, tetapi juga di pentas nasional dan internasional.
3. Pengembangan Kampus II: Menuju IAI Syekh Burhanuddin
Alih status sudah di upload tiga Program Studi (1) S.2 Prodi PAI, (2). Prodi Manajemen haji dan Umrah (3). Prodi Hukum keluarga Islam (HKI). kerja alih status dari STIT menjadi Institut Agama Islam (IAI) Syekh Burhanuddin, yayasan menyiapkan dua lokasi Kampus II: Sungai Bua, Sungai Sarik, bekerja sama dengan Yayasan Ponpes Luhur Syekh Burhanuddin (sedang proses). di Nagari Sikabu, Lubuk Alung, di atas tanah wakaf yang telah disiapkan. Pengembangan ini bertujuan memperluas kapasitas kampus sekaligus menjawab kebutuhan pendidikan tinggi Islam di Padang Pariaman dan Sumatera Barat.
4. Sato Saki: Gerakan Basamo Mambangun Nagari
Visi ICSB sejalan dan memperkuat program Bupati Padang Pariaman, Dr. John Kenedy Aziz, SH., MH., yakni membangun nagari secara kolektif. Yayasan berperan mengerakkan Civitas STIT SB dan stakeholder dalam mengatasi lima patologi sosial akibat efek digital:
(1). Rendahnya pemahaman dan pengamalan Islam. (2). Kerusakan akhlak dan moral. (3). Pergeseran adat dan budaya luhur. (4). Minimnya tokoh panutan masyarakat. (5). Gaya hidup permisif, transaksional, dan tidak produktif. Solusi yang dikerjakan adalah mencetak generasi muda sarjana pendidikan yang tidak hanya berilmu, tetapi juga menjadi motor pembaruan Islam, adat, dan budaya. Dengan demikian, ICSB menjadi garda terdepan dalam melahirkan kader bangsa yang berkarakter ABS-SBK (Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah). Sekaligus mengerakkan potensi Tuanku (tokoh agama berbasis kultural) dalam mendidik umat BASAMO MAMBANGUN NAGARI.
Kesimpulan
Kinerja Yayasan Islamic Centre Syekh Burhanuddin membuktikan bahwa pendidikan Islam bisa dikelola dengan prinsip murah, berkualitas, berbasis tradisi, dan berorientasi pada masa depan. Dari optimalisasi beasiswa, branding tokoh ulama, pengembangan kampus, hingga gerakan sosial basamo membangun nagari, ICSB hadir sebagai motor transformasi pendidikan Islam dan kebudayaan Minangkabau.
Tagline:
“ICSB: Mewarisi Cahaya, Menggerakkan Peradaban” (Ketua YIC: Prof.Dr.Duski Samad, M.Ag)

