Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Seri Kelima Risalah Tuanku, Dzikrillah dan Kesehatan Mental Oleh: Dr. Etriyel dan Prof Duski Samad Tuanku Mudo

Kajian virtual series kelima Halaqah Tuanku Nasional, hari Jumat, 17 November 2024 mengangkat tema dzikir dan kesehatan mental, disingkat dengan sehat dengan dzikir. Dzikir sebagai ibadah mahdah, dirikan shalat untuk dzikir kepada-Ku (QS.Thaha/20:14), dzikir juga disebut al-Quran sebagai sumber ketenangan jiwa, (QS. Al-Ra’du/13:20). 


Dzikir diperintahkan untuk terus dilakukan di dalam diri setiap orang dengan kerendahan hati, dengan suara kecil dan besar, pagi dan petang dimaksudkan jangan hati menjadi lalai, (QS. Al-‘araf/7:205) adalah bahagian dari kajian tasawuf tarekat yang lazim dipahami umat, lebih lagi tentunya dikalangan Tuanku, ilmuwan Islam yang berbasis Halaqah Surau. 

Pengungkapan nash al-Quran tentang dzikir sebagaimana di atas dari segi normatif dalam kajian dan praktik tasawuf dijelaskan dengan penedekatan diintegrasikan dengan pengetahuan medis (ilmu kedokteran) yang memang dalam perkembangannya semangkin mendekat dan bertemu dalam titik yang sama. 


Firman suci yang normatif dan diyakini dengan iman seperti ayat ini,

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَ لَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ

Artinya: "(yaitu) orang orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."(QS. Ar-Ra'd 13: 28

Dalam teori dan praktiknya pada penelitian terbatas ternyata dapat dikonfirmasi oleh penelitian ilmiah, begitu penjelasan Doktor, dokter Etriyel, Myh, SpU(K)Dokter spesialis bedah Urologi dan Dosen Fakultas kedokter Unand Padang yang juga praktisi Tarekat Naqsabandi mengasuh (mursyid) pa Surau Tarekat Naqsabandiyah Payakumbuh dan Padang.

Sang Dokter yang mengetahui dan menjadi praktisi tasawuf melalui jalur naqsabandi menyampaikan pengalamannya bahwa memperkenalkan tasawuf dengan bingkai syariat, tarekat, hakikat dan marifat itu sulit dan ada hambatan, sedangkan mengajarkan tasawuf melalui pendekatan ihsan itu lebih mudah. Kurikulum yang didasarkan pada iman, Islam dan ihsan yang tujuannya adalah pembentukan akhlakul karimah sudah menjadi mata kuliah Karakter pada Fakultas kedokteran Unand. 

Basis keilmuan yang dijadikan dasar memahami hubungan tasawuf tarekat, khususnya dzikir dengan kesehatan mental adalah definisi kesehatan itu sendiri. 


WHO menyatakan sehat adalah “keadaan yang sempurna baik fisik, mental maupun sosial, tidak hanya terbebas dari penyakit atau kelemahan/cacat” Sedangkan “Kesehatan mental adalah keadaan di mana individu menyadari kemampuan dirinya, dapat mengatasi stress, bekerja secara produktif dan mampu memberikan kontribusi kepada komunitasnya”

Kenyataan bahwa dzikir dapat memulihkan kesehatan mental dilakukan melalui penelitian skripsi saat Fakultas Kedokteran UNAND. Penelitian itu membuktikan bahwa dzikir dapat berkontribusi bagi kesehatan mental seperti yang dijelaskan dalam surat Alra'ad, 28. Kesehatan itu ditandai dengan pengukuran tekanan darah terhadap beberapa mahasiswa kedokteran tahun ketiga, pengamal Tarekat naqsabandi sedang suluk, pasien kanker prostat dengan cara mereka melakukan dzikir yang penuh konsentrasi selama 10 (sepuluh) menit ternyata membawa pengaruh bagi kesehatan mereka, baik tekenan darah maupun tingkat kecemasannya. 

Pada kasus pasien kanker prostat konsentrasi 10 menit dzikir ternyata menurunkan depresi akibat vonis penyakit kanker yang dikenal mematikan. Walaupun perdebatan ilmiah tentang pengaruh dzikir dalam kehidupan praktis ini masih sering disalahpahami oleh ilmuan kedokteran dan masyarakat lainnya, sehingga ada menyebutnta orang mengalami keadaan tertentu setelah dzikir atau setelah mengaji tareka disebut "tamakan kaji" itu tidaklah benar semuanya, beberapa kasus ada orang salah paham dan perlu diluruskan. 

Bahwa dzikir yang dilakukan dengan metode tarekat ataupun hanya melakukan tanpa terikat dengan metode tarekat, sejatinya semuanya dapat menekan frustasi, stres dan ketidaktenangan jiwa bila dilakukan sampai pada dzauq (rasa jiwa), dan nantinya dapat menurunkan strest. 


Sedangkan dzikir yang diterapkan pada penderita sakit mental yang sudah akut seperti mereka yang berhalusinasi, waham (freming) diri, dianjurkan untuk dilakukan pengobatan tindak lanjutannya ayat kauniyah, artinya diobati oleh dokter ahlinya. Praktik menunjukkan bahwa dzikir untuk kesehatan mental adalah sebatas depresi ringan dan sedang, seperti stress, kegelisahan batin yang dapat di atasi dengan dzikir.

DZIKIR DAN KEDUDUKAN HATI

Pembahasan tentang makna dan kedudukan hati yang dapat diobati dengan dzikir adalah sebagaimna anatomi hati (qalbu), Hadist ingatlag di dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, mak baik pula seluruh jasad, jika ia rusak maka rusak seluruh jasad, ketahuilah ia adalah hati (HR. Bukhari Nomor 52). Begitu juga hadis taqwa itu diini (nabi menunjuk dadanya), hadis HR Muslim dan dipahami lagi dari surat al-Hajji, ayat 46, ... bukanlah mata yang buta, tetap yang buta adalah hati.  

Perbedaan pemahaman medis dan norma ayat dan hadist di atas terus berkembang karena penyelidikan kedokteran berbasis empiris, sedangkan nash lebih menekankan pada keyakinan (iman), maka untuk menemukan titik kesamaan anatomi hati seperti Hadis Riwayat Imam Buchari nomor 52 dan hadist Imam Muslim nomor 1599 di atas adalah kajian yang sesungguhnya bisa dilihat dari berbagai disiplin ilmu. Rasanya yang tepat itu dikembalikan pada pendapat Imam Al Ghazali bahwa qalbu itu ada yang jasadi dan ruhani. Hati dalam makna jasadi, itu basis teorinya ilmu medis dan hati dimaksudkan ruhani, itulah dasarnya tasawuf dan tarekat.

Kedudukan hati makna ruhani dalam kenyataan dilingkungan pengamal tarekat ada yang mengunakannya bersamaan dengan dzikir untuk obat, bagaimana menyikapinya? 


Realitasnya bahwa ada penyakit mental yang menjadi sebab penyakit fisik (psikosomatik), jenis penyakit yang berhubungan dengan kejiwaan memang efektif dan dapat disehatkan dengan dzikir. Sedangkan gangguan kesehatan mental berat sebaiknya dilanjutkan secara kauniyah, ahli kesehatan jiwa, psikolog. 

Kajian lebih dalam tentang kedudukan hati, dzikir dan tasawuf untuk memperoleh kesehatan mental yang prima, mestinya hanya dilakukan ulama yang alim dan dokter yang ahli, namun ada yang belajar ilmu tasawuf dan tarekat tanpa guru atau mursyid yang memanuhi syarat, bagaimana pengalamannya membawa kesehatan jiwa orang tertentu?. Jawaban terhadap kenyataan ini adalah ilmu dan praktik tawasuf, tarekat melalui dzikir awalnya memang harus dilakukan ahlinya, namun boleh jadi pengamalan dzikir membawa hasil kesehatan komperhensif, seperti pengalaman ulama masa lalu. 

Ulama tasawuf, pengamal tarekat dan praktisi kesehatan mental dapat berkolaborasi untuk mengangkat nilai dan praktik sipritual, tasawuf dan tarekat pada level presisi. 


Artinya dzikir dapat meningkatkan bahkan menyehatkan keluhan fisik yang berawal dan tidaknya sehatnya mental, patut juga diperhatikan dzikir tidak boleh menafikan ilmu kauniyah, atau ilmu empiris seperti ilmu medis dan psikologis. Tasawuf dan Tarekat substansi pada dasarnya tetap, permanent dan tidak mesti diubah, sedangkan metode dan pendekatan bisa menyesuaikan, inilah peran penting integrasi antar ilmu. 

Kedudukan dzikir, hati dan praktiknya melalui tarekat atau tidak disampaikan faktanya bahwa wirid ayat tertentu dan amaliah tasawuf dapat berjalan menghasilkan ketenangan hati, begitu pengalaman Ustad Hasanuddin AS yang bergabung dalam zoom dari Jakarta. Mereka bersama almarhum Arifin Ilham pernah mencobakan pada 10 (sepuluh) orang jamaah yang diajarkan bacaan ayat pendek, tanpa kaifiat atau metode tarekat tertentu, kemudian dievaluasi ternyata pengakuan mereka ada kenyamanan hati setelah berdzikir itu. 

Pemahaman lebih lanjut tentang dzikir yang berpengaruh terhadap tekanan psikologis mahasiswa yang sedang belajar berat, pasien kanker prostat dan orang-orang yang dzikir saat tawajuh dzikir naqsabandi ditanyakan bagaimana kondisi tauhid mereka yang diuji apakah sudah sama, pengajian sifat dua puluh atau kondisi iman mereka sudah setara? 

Dokter Etriyel menjelaskan bahwa pengujian dizkir itu membawa dampak pada ketenangan batin dan kesehatan mental, setelah diyakini bahwa dasar ketauhidan mereka sudah sama, karena mereka dilakukan pengecekannya setelah 10 (sepuluh )menit selesai shalat dan dzikir bakda sahalat itu dilakukannya. Artinya pangkal berpijak kondisi jiwa dan mental ruhaniyah mereka sama, yakni saat selesai ibadah mahdah, shalat berikut dzikir menyertainya. 

TASAWUF DAN TAREKAT SANGAT PERLU.

Syahril Tuanku Tanjung ulama dan cendikiawan yang mendampingi majelis ilmu Halaqah Tuanku Nasional ini dalam pandangannya menegaskan bahwa tasawuf dan tarekat sangat perlu. Tanpa kajian tasawuf yang dimulai dari tarekat, hakikat dan marifat sesuai tingkatannya maka orang baru mengenal sebatas adanya Allah, belum mengakui keberadaan Allah. 


Sedangkan orang dapat sehat konperhensif itu adalah bila ia sudah mengenal dan mengakui keberadaan itu yang ilmu dan amalnya melalui tasawuf dan tarekat. Dasarnya dapat dipahami dari ayat ini, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

ۗ وَهُوَ مَعَكُمْ اَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۗ وَا للّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

"... Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."(QS. Al-Hadid 57: Ayat 4). 

Bahagian yang disoroti dalam hubungan bersama Allah adalah pengajian tasawuf dan tarekat yang menyimpang dari alquran dan hadist. Artinya keulamaan mursyid menjadi penting diperhatikan untuk menjaga kemurnian tasawuf dan tarekat, diantara dalam menjelaskan bagaimana hubungan dan cara bersama Allah dimana dan kapan saja. Memang pambahasan ruhaniyah tentang ayat di atas tidak jarang diuraikan dengan pemahaman isyari yang hanya itu bisa dipahami oleh mereka yang mengalami atau mendapatkan pengetahuan, isyari, hikmah atau biasa juga disebut ladunni. 

Pengamal tasawuf, tarekat, metode, pelaksanaan dan kaifiat dzikir ragamnya banyak, pengamal tarekat memiliki cara yang tak sama, ini menjadi sumber kritik yang tentu mestinya dapat dimaklumi. Penemu dan penyusun tasawuf, tarekat dan metode dzikir yaitu ulama sufi, dapat dikategorikan pada yang mu’tabarah (dapat dikonfirmasikan ke nash al-Quran dan hadis), namun ada yang tidak mu’tabarah, cendrung sesat dan umumnya bila yang mengamalkan sudah keluar dari nash yang mutawatir, praktik dzikirnya tidak merujuk pada sunnah. 

Sebagai bahagian akhir penulis menegaskan bahwa ada kesamaan atau ada titik temu antara kajian medis dengan norma ayat dan hadis bahwa ketahanan mental, menyehatkan ruhani, dan kesehatan mental ringan dan sedang lainnya dapat diperoleh atau dicapai melalui dzikir. 


Dzikir yang sesuai dengan metode tarekat atau langsung dilakukan dengan amaliah membaca ayat tertentu ternyata keduanya bermanfaat untuk kesehatan mental dan menjaga kesehatan yang konperhensif. 


Patut dilakukan reformasi pembelajaran tasawuf dan tarekat yang manual dari ilmu semata disesuaikan dengan alam pikiran ilmiah dan kajian populer, seperti memperkenalkan tasawuf dengan mengali lebih awal tentang ihsan itu lebih mudah diterima ilmuwan murni. DS. 17112023..

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Below Post Ad

Hollywood Movies