![]() |
Oleh: Duski Samad
Guru Besar UIN Imam Bonjol Padang
Kampus, Masjid, dan Rasa Bangga
Hari ini, Ahad, 18 Oktober 2026, penulis berkesempatan menjadi dosen tamu pada Program Studi Magister (S2) Pendidikan Agama Islam STAI Solok Nan Indah. Ada kesan tersendiri ketika memasuki lingkungan perguruan tinggi Islam ini. Kampusnya tampak baru, representatif, dan memberikan harapan bagi kemajuan pendidikan Islam di Kabupaten Solok.
Di samping kampus berdiri Masjid Bachtiar yang indah. Kehadiran dua bangunan tersebut, kampus dan masjid, memberikan pesan simbolik yang kuat. Kampus menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, sedangkan masjid merupakan pusat pembinaan iman, akhlak, dan spiritualitas. Keduanya saling melengkapi dalam membangun manusia berilmu dan beradab.
Ketika berbincang dengan sejumlah dosen, penulis memperoleh informasi bahwa pembangunan dan pengembangan fasilitas tersebut tidak terlepas dari kontribusi Bapak Gamawan Fauzi, yang akrab dikenal dengan inisial GF.
Mendengar penjelasan itu, hati penulis merasa bangga. Ada tokoh daerah yang setelah menempuh perjalanan panjang dalam pemerintahan tetap memberikan perhatian kepada pendidikan dan kehidupan keagamaan masyarakat.
Dalam ungkapan Minangkabau, inilah yang dapat disebut lakek tangan, yakni jejak kebaikan dan hasil pekerjaan seseorang yang tetap dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Dari Bupati, Gubernur, hingga Menteri
Gamawan Fauzi bukan nama asing dalam perjalanan pemerintahan daerah dan nasional. Ia pernah menjabat sebagai Bupati Solok selama dua periode. Kepemimpinannya kemudian berlanjut sebagai Gubernur Sumatera Barat hasil pemilihan kepala daerah secara langsung yang pertama, sebelum dipercaya menjadi Menteri Dalam Negeri pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Perjalanan tersebut menunjukkan pengalaman kepemimpinan yang panjang, mulai dari pemerintahan kabupaten, provinsi, hingga pemerintahan pusat.
Namun, jabatan publik pada hakikatnya hanyalah amanah yang memiliki batas waktu. Seorang bupati akan berakhir masa jabatannya, gubernur akan berganti, dan menteri pun pada waktunya meninggalkan kabinet.
Pertanyaannya, apa yang tersisa setelah kekuasaan berakhir?
Di sinilah pentingnya membedakan antara bekas jabatan dan bekas pengabdian. Bekas jabatan tercatat dalam riwayat hidup, sedangkan bekas pengabdian hidup dalam ingatan dan pengalaman masyarakat.
Seorang pemimpin yang baik tidak cukup dikenang karena pernah menduduki jabatan tinggi. Ia akan lebih bermakna apabila meninggalkan karya yang terus memberikan manfaat setelah dirinya tidak lagi memegang kekuasaan.
Masjid sebagai Warisan Spiritual
Perhatian GF terhadap pembangunan masjid, termasuk dua masjid yang dikenal dengan nama Ummy, memperlihatkan dimensi lain dari pengabdian seorang mantan pejabat publik.
Masjid bukan sekadar bangunan tempat melaksanakan salat. Dalam sejarah Islam, masjid menjadi pusat pendidikan, pembinaan umat, musyawarah, solidaritas sosial, dan pembentukan peradaban.
Membangun masjid berarti menyediakan ruang bagi masyarakat untuk memperkuat hubungan dengan Allah sekaligus mempererat hubungan antarsesama manusia.
Akan tetapi, kemegahan fisik masjid perlu diikuti kemakmuran jamaah dan kualitas programnya. Masjid yang baik bukan hanya indah dipandang, tetapi juga hidup dengan kegiatan ibadah, pendidikan Al-Qur'an, pembinaan generasi muda, dan pemberdayaan masyarakat.
Dalam perspektif Islam, kontribusi semacam ini dekat dengan konsep amal jariyah, yakni amal yang manfaat dan pahalanya diharapkan terus mengalir selama kebaikan yang ditinggalkan masih dimanfaatkan.
STAI Solok Nan Indah dan Investasi Peradaban
Kontribusi GF dalam merintis, mengasuh, dan mengembangkan STAI Solok Nan Indah patut memperoleh perhatian khusus.
Perguruan tinggi Islam swasta memiliki posisi strategis dalam memperluas akses pendidikan tinggi, terutama bagi masyarakat daerah yang menghadapi keterbatasan ekonomi dan geografis.
Keberadaan STAI Solok Nan Indah memberi kesempatan kepada generasi muda untuk melanjutkan pendidikan, mengembangkan kompetensi keislaman, dan mempersiapkan diri menjadi pendidik, pemimpin masyarakat, serta tenaga profesional.
Apalagi, kehadiran Program Magister Pendidikan Agama Islam menunjukkan adanya upaya meningkatkan kapasitas akademik dan profesional guru agama, pengelola pendidikan, serta sumber daya manusia keislaman.
Namun, pengembangan perguruan tinggi tidak boleh berhenti pada pembangunan gedung dan pembukaan program studi. Tantangan berikutnya adalah peningkatan mutu dosen, akreditasi, riset, publikasi ilmiah, inovasi kurikulum, dan daya saing lulusan.
Kontribusi tokoh seperti GF akan semakin bermakna apabila dilanjutkan dengan tata kelola perguruan tinggi yang profesional, kemandirian kelembagaan, dan keberhasilan melahirkan lulusan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Membangun gedung kampus adalah investasi fisik, sedangkan membangun manusia melalui pendidikan adalah investasi peradaban.
Lakek Tangan:
Ukuran Kepemimpinan yang Berkelanjutan
Dalam budaya Minangkabau, ungkapan lakek tangan mengandung makna yang mendalam. Seseorang dinilai bukan hanya dari perkataan, kedudukan, atau kehormatannya, melainkan juga dari hasil pekerjaan yang ditinggalkannya.
Ada orang yang pernah berkuasa, tetapi setelah selesai menjabat tidak banyak karya yang dapat dikenang. Sebaliknya, ada orang yang meninggalkan jabatan, tetapi kontribusinya tetap hidup melalui lembaga pendidikan, rumah ibadah, kegiatan sosial, dan manusia-manusia yang pernah dibantunya.
Kepemimpinan yang berorientasi pada warisan kebaikan (legacy leadership) menempatkan keberlanjutan manfaat sebagai ukuran penting keberhasilan.
Dalam pandangan Islam, Rasulullah SAW mengajarkan bahwa ketika manusia meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya (HR. Muslim).
Hadis tersebut mengingatkan bahwa investasi terbaik bukan hanya harta yang dikumpulkan, tetapi manfaat yang diwariskan.
Keteladanan bagi Pejabat dan Tokoh Daerah
Pengalaman mengunjungi STAI Solok Nan Indah hari ini memberikan renungan mengenai tanggung jawab sosial para pemimpin, terutama mereka yang telah menyelesaikan pengabdian dalam pemerintahan.
Jabatan boleh berakhir, tetapi kepedulian terhadap masyarakat tidak harus berhenti. Pengalaman, jaringan, kemampuan manajerial, dan sumber daya yang dimiliki dapat terus digunakan untuk memperkuat pendidikan, kegiatan keagamaan, serta kesejahteraan masyarakat.
Sudah sepatutnya semakin banyak mantan pejabat, pengusaha, dan tokoh masyarakat yang menginvestasikan kemampuan serta sumber dayanya untuk membangun sekolah, pesantren, perguruan tinggi, perpustakaan, dan pusat pemberdayaan umat.
Pembangunan daerah tidak cukup hanya mengandalkan APBD dan program pemerintah. Diperlukan keterlibatan masyarakat, filantropi, wakaf produktif, dan kepemimpinan sosial yang berkelanjutan.
Dalam konteks inilah kontribusi GF yang penulis dengar dari kalangan dosen STAI Solok Nan Indah menjadi inspirasi.
Jabatan Berakhir, Manfaat Jangan Berakhir
Sepulang dari kegiatan akademik di STAI Solok Nan Indah, penulis membawa kesan bahwa kampus dan masjid yang berdampingan bukan hanya pemandangan fisik yang indah. Keduanya merupakan pengingat tentang pentingnya menghubungkan ilmu, iman, dan pengabdian.
Jejak kepemimpinan tidak selamanya harus berupa monumen besar atau nama yang diabadikan pada bangunan. Jejak yang lebih bermakna adalah ketika masyarakat memperoleh pendidikan, generasi muda memiliki masa depan, dan umat mendapatkan tempat untuk memperkuat kehidupan spiritualnya.
Itulah makna lakek tangan yang patut direnungkan.
Orang besar bukan semata-mata karena jabatan yang pernah dipegangnya, melainkan karena kebaikan yang tetap hidup setelah kekuasaannya berakhir.
GF telah melewati perjalanan panjang sebagai pejabat publik. Kini, kontribusi dalam pendidikan dan keagamaan menjadi bagian dari kisah pengabdian yang layak diapresiasi sekaligus dilanjutkan oleh generasi berikutnya.
Jabatan adalah amanah sementara. Ilmu, pendidikan, dan amal kebaikan adalah warisan yang dapat melampaui usia manusia.Ds
Solok, Ahad, 18 Oktober 2026.

