![]() |
Oleh: Duski Samad
Guru Besar UIN Imam Bonjol Padang
Ketika Orang Kampung Menganggap Kami Gila
“Awalnya orang kampung mengatakan kami gila. Mengapa membangun usaha di tempat yang bukan permukiman, jauh dari keramaian, dan belum tentu didatangi pembeli?”
Ungkapan ini menggambarkan keberanian mengambil risiko dalam membangun usaha kuliner di kawasan Kayu Jao, Kebun Teh, Kabupaten Solok, Sumatera Barat.
Dalam logika bisnis konvensional, lokasi usaha yang baik biasanya berada di pusat keramaian, dekat permukiman, pasar, perkantoran, atau jalan utama. Namun, perkembangan ekonomi kreatif dan pariwisata telah mengubah cara pandang tersebut. Orang tidak lagi hanya mendatangi tempat makan karena lapar. Mereka datang untuk mencari pengalaman, menikmati keindahan alam, memperoleh ketenangan, dan mengabadikan momen.
Di sinilah keberanian pengusaha muda bernama Zaki dan Loni, pasangan suami istri yang masih berusia 45 tahun, menarik untuk dipelajari. Kreativitasnya dalam mengembangkan usaha kuliner, mulai dari Ayam Geprek Arosu hingga racikan minuman Acilihili, memperlihatkan bahwa peluang ekonomi dapat lahir dari hobi, keberanian, dan kemampuan membaca perubahan gaya hidup masyarakat.
Dari Hobi Kuliner Menjadi Usaha
Perjalanan Zaki dimulai dari kegemarannya terhadap dunia kuliner dan meracik minuman. Pada 2017, ia merintis Ayam Geprek Arosu di depan Kantor Bupati. Pengalaman tersebut menjadi ruang belajar untuk memahami produk, selera konsumen, pelayanan, dan pengelolaan usaha.
Ia menggunakan pendekatan ATM: Amati, Tiru, dan Modifikasi. Praktik usaha yang baik dipelajari, lalu dikembangkan menjadi produk dengan karakter dan keunikan sendiri.
Pelajaran pentingnya adalah pemilik usaha harus menguasai bisnisnya secara langsung. Ia harus memahami rasa, kualitas bahan, biaya produksi, pelayanan, serta alasan pelanggan mau datang kembali.
Kreativitas tanpa penguasaan usaha akan mudah berhenti sebagai percobaan. Sebaliknya, kreativitas yang disertai ketekunan, disiplin, dan kemampuan mengelola keuangan dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi.
Risiko Terbesar: Akses Jalan dan Ketergantungan pada Pengunjung
Membangun usaha di luar kawasan permukiman mempunyai risiko berbeda dibandingkan usaha di pusat kota. Salah satu faktor paling menentukan ialah akses jalan.
Ketika jalan terganggu akibat longsor, cuaca buruk, kemacetan, atau kerusakan infrastruktur, jumlah pengunjung berpotensi turun drastis. Usaha kuliner yang bergantung pada wisatawan sangat rentan terhadap gangguan mobilitas tersebut.
Karena itu, keindahan alam saja tidak cukup. Usaha memerlukan perencanaan risiko, dana cadangan, informasi akses perjalanan, pemasaran digital, dan kemampuan menghadapi perubahan jumlah pengunjung.
Prinsipnya sederhana: lokasi yang indah menarik pengunjung, tetapi akses yang baik memungkinkan usaha bertahan.
Wisata Sudah Menjadi Gaya Hidup
Perubahan sosial juga membuka peluang besar bagi usaha kuliner berbasis wisata alam.
Di kalangan masyarakat perkotaan, termasuk Pekanbaru, liburan bukan lagi sekadar kegiatan rekreasi, tetapi telah menjadi bagian dari gaya hidup dan pergaulan sosial. Bahkan muncul tekanan sosial berupa candaan atau ejekan ketika seseorang tidak bepergian pada masa liburan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kebutuhan berwisata tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga psikologis dan sosial. Masyarakat mencari penyegaran, kebersamaan keluarga, pengalaman baru, dan kesempatan membagikan aktivitasnya melalui media sosial.
Pengusaha yang memahami perubahan perilaku tersebut dapat mengembangkan tempat kuliner sebagai destinasi, bukan sekadar tempat berjualan makanan.
Alam Solok sebagai Modal Ekonomi
Kawasan Kebun Teh Kayu Jao mempunyai daya tarik alam yang kuat. Hamparan perkebunan teh, udara sejuk, bentang pegunungan, serta keberadaan Danau Di Atas dan Danau Di Bawah di kawasan Solok menjadi kekayaan wisata yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi lokal.
Pemandangan bukan hanya latar belakang. Ia menjadi bagian dari nilai yang dinikmati pengunjung.
Konsep ini sejalan dengan experience economy, yaitu ekonomi yang menjadikan pengalaman konsumen sebagai sumber nilai tambah. Orang membayar bukan hanya untuk secangkir kopi, melainkan juga untuk suasana, pemandangan, kenyamanan, dan kenangan yang diperoleh.
Namun, pengembangan ekonomi wisata alam harus tetap menjaga kebersihan, kelestarian lingkungan, keselamatan pengunjung, dan hubungan baik dengan masyarakat setempat.
Anak Muda, Risiko, dan Masa Depan Ekonomi Nagari
Kisah Zaki mengajarkan bahwa kewirausahaan tidak cukup hanya dengan keberanian membuka usaha. Diperlukan kreativitas, kemampuan membaca pasar, perhitungan risiko, penguasaan produk, dan kesanggupan bertahan ketika keadaan tidak sesuai harapan.
Usaha yang semula dianggap tidak masuk akal dapat memperoleh peluang ketika perubahan gaya hidup masyarakat mendukungnya. Tetapi keberhasilan tidak boleh membuat pengusaha mengabaikan risiko.
Pemerintah daerah pun memiliki peran strategis dalam memastikan akses jalan, keamanan kawasan wisata, infrastruktur dasar, dan promosi destinasi tetap terjaga.
Kayu Jao Kebun Teh memberikan pesan bahwa daerah yang jauh dari pusat keramaian bukan berarti jauh dari peluang ekonomi. Dengan kreativitas, alam yang indah dapat menjadi daya tarik, hobi dapat menjadi usaha, dan anak muda dapat menjadi penggerak ekonomi nagari.
Pada akhirnya, yang membedakan pengusaha kreatif bukan keberaniannya menentang pendapat orang lain, melainkan kemampuannya membuktikan gagasan melalui kerja nyata, perhitungan matang, dan manfaat yang dirasakan masyarakat.
Dulu dianggap gila karena membangun jauh dari keramaian. Kini, gagasannya mengingatkan kita bahwa keramaian juga dapat diciptakan melalui kreativitas, keindahan alam, dan pengalaman yang bernilai.

