![]() |
Oleh: Duski Samad
Flayer “Kaum Terpelajar Setelah 81 Tahun Indonesia Merdeka” mengajak kita melihat pendidikan tinggi sebagai urusan bangsa. Angka lulusan S1, S2, dan S3 yang ditampilkan menunjukkan capaian yang patut dihargai, sekaligus mengingatkan bahwa kesempatan kuliah masih harus diperluas. Data pendidikan dalam flayer berasal dari Juni 2022, sedangkan angka penduduk berasal dari akhir 2025. Karena tahunnya berbeda, keduanya tidak dapat langsung dipakai untuk menghitung persentase pada tahun yang sama.
Di balik angka itu ada pertanyaan yang lebih dekat dengan kehidupan kita: berapa banyak lulusan SLTA yang ingin kuliah, tetapi terhenti karena biaya, jarak, kurangnya informasi, atau tidak adanya dukungan? Ketika seorang anak muda kehilangan kesempatan belajar, bangsa juga kehilangan sebagian potensinya.
Taman Pendidikan Indonesia Emas (TPIE) adalah ikhtiar dan kerja kolektif untuk membuka jalan itu. Melalui gerakan ini, STIT Syekh Burhanuddin Pariaman menyediakan layanan pendidikan bagi semua yang ingin bertumbuh. Program Tuanku Sarjana dan Sarjana Tuanku mempertemukan tradisi keilmuan agama dengan pendidikan tinggi. Ilmu agama dan ilmu umum perlu berjalan bersama untuk membentuk lulusan yang berpengetahuan, berakhlak, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Kesiapan STIT Syekh Burhanuddin memiliki dasar yang kuat. Kampus milik umat ini dikelola oleh Yayasan Islamic Centre Syekh Burhanuddin Pariaman dan telah hadir sejak 1978. Lebih dari tiga ribu mahasiswa telah diwisuda. Pada 24 September 2026, STIT Syekh Burhanuddin menyelenggarakan wisuda ke-35. Perjalanan panjang itu menjadi modal pengalaman dan kepercayaan masyarakat, sekaligus tanggung jawab untuk terus memperluas layanan pendidikan.
Di Piaman Laweh, terdapat pula tantangan laten yang kerap luput dari perhatian. Sebagian warga belajar agama secara tradisional dan memiliki pengetahuan yang hidup di tengah masyarakat, tetapi belum terhubung dengan lembaga pendidikan negara, madrasah, atau sekolah. Akibatnya, mereka dapat kesulitan mengakses jalur pendidikan formal dan kesempatan pengembangan diri. TPIE perlu membantu membangun jembatan melalui pendampingan, penguatan kemampuan dasar, informasi tentang jalur masuk yang sesuai ketentuan, serta pembelajaran yang menghargai pengalaman keilmuan mereka.
Tugas ini memerlukan kerja bersama. Pemerintah perlu memperkuat bantuan pendidikan; sekolah dan madrasah mendampingi siswa merencanakan masa depan; keluarga memberi dorongan; dunia usaha dan para dermawan membuka beasiswa. Ulama dan tokoh agama perlu mengajak umat menyekolahkan anak sampai sarjana, seraya menjaga kesinambungan tradisi keilmuan surau. Mahasiswa serta alumni pun dapat mendampingi adik-adik mereka dalam memilih program studi dan menyesuaikan diri dengan kehidupan kampus.
Karena itu, TPIE bersama seluruh pemangku kepentingan harus bekerja dengan sasaran yang jelas: jangan biarkan lulusan SLTA yang ingin kuliah gagal melanjutkan pendidikan karena hambatan yang dapat kita atasi bersama. Bantuan tidak cukup berhenti pada penerimaan mahasiswa baru. Mereka memerlukan informasi, pilihan pembiayaan, dan pendampingan agar mampu bertahan hingga menyelesaikan studi. Pada saat yang sama, mereka yang belajar melalui jalur tradisional perlu memperoleh jalan untuk mengembangkan ilmunya lebih jauh.
Indonesia Emas 2045 tidak lahir dari slogan. Ia tumbuh ketika kesempatan belajar dibuka lebih luas, mutu pendidikan dijaga, dan ilmu disertai integritas. Dari STIT Syekh Burhanuddin Pariaman, kita mengajak seluruh masyarakat menjadikan Taman Pendidikan Indonesia Emas sebagai kerja kolektif: memberi lebih banyak anak bangsa kesempatan untuk belajar, meraih gelar, dan mengabdi.

