Oleh: Ririe Aiko
Penulis dan Pegiat Literasi
Menjadi pegiat literasi di tengah anak-anak Gen Alpha mengajarkan saya satu hal penting: kadang-kadang, pertanyaan paling sederhana justru memaksa kita mencari jawaban yang paling jujur.
Saya sering berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan yang, bagi orang dewasa, terdengar seperti asbun, spontan, bahkan kadang terkadang terdengar kurang sopan. Namun, semakin lama saya mendampingi mereka, semakin saya memahami bahwa pertanyaan-pertanyaan itu bukan sesuatu yang harus ditanggapi dengan emosi, karena mereka hanya sedang mencoba memahami dunia dengan cara mereka sendiri.
Gen Alpha tumbuh di zaman ketika informasi datang begitu cepat. Mereka bisa melihat kehidupan, kemewahan, kemiskinan, keberhasilan, kegagalan, bahkan berbagai macam ketidakadilan hanya melalui layar di genggaman mereka. Mereka tidak hanya mendengar apa yang dikatakan orang dewasa tentang kehidupan; mereka melihat realitasnya sendiri.
Cara pandang semacam inilah yang kemudian sering saya temui ketika berinteraksi dengan anak-anak Gen Alpha. Mereka tidak segan mempertanyakan sesuatu yang bagi kita sebagai orang dewasa mungkin sudah dianggap biasa. Mereka bertanya bukan sekadar karena ingin tahu, tetapi karena ingin memastikan apakah apa yang kita katakan benar-benar sesuai dengan kenyataan yang mereka lihat.
Dan saya pernah mendapatkan salah satu pertanyaan paling polos sekaligus paling menohok itu dari seorang anak didik saya. Sebut saja namanya Zahra. Usianya bahkan belum genap sepuluh tahun. Suatu ketika, ia bertanya kepada saya dengan polos, “Kak, ngapain jadi penulis? Kan penulis jarang yang kaya. Ngapain sok-sok berdedikasi kalau hidup kita aja susah?”
Saya terdiam sejenak.
Kalimat itu, jika keluar dari mulut orang dewasa, mungkin akan terdengar sinis. Namun, karena yang mengatakannya adalah seorang anak kecil, saya justru tersenyum. Saya tahu, saya tidak bisa menjawabnya dengan bahasa orang dewasa.
Saya tidak mungkin menjelaskan panjang lebar tentang bagaimana tulisan dapat menjadi alat perubahan sosial. Saya juga tidak mungkin menjelaskan bahwa pena pernah menjadi senjata perlawanan, bahwa tulisan dapat membongkar ketidakadilan, membangun kesadaran, mengubah cara manusia memandang sesuatu, bahkan menggerakkan sebuah masyarakat.
Bagi anak seusia Zahra, semua itu terlalu jauh karena dunia mereka masih sangat sederhana.
Mereka mengenal cita-cita sebagai sesuatu yang konkret: menjadi sukses, menjadi kaya, memiliki kehidupan yang menyenangkan, dan membuat orang-orang yang mereka sayangi bahagia.
Saya kemudian mencoba membawanya pada sebuah situasi yang mungkin lebih mudah ia pahami. Saya katakan, bayangkan jika suatu hari Zahra melihat teman yang sangat Zahra sayangi harus berhenti sekolah karena tidak punya uang. Kamu merasa sedih dan ingin sekali membantunya, tetapi kamu juga tidak punya uang, tidak punya kekuatan, dan tidak tahu harus berbuat apa. Lalu tiba-tiba kamu menceritakan kisah temanmu itu melalui sebuah tulisan.
Kamu menulis tentang bagaimana sebenarnya ia ingin terus bersekolah, tentang cita-citanya, tetapi keadaan keluarganya membuat ia terpaksa berhenti. Setelah tulisan itu selesai, kamu bagikan tulisan itu di media sosial, ternyata ada banyak orang yang membacanya. Mereka tersentuh oleh ceritamu. Sebagian kemudian memberikan bantuan, ada yang membantu biaya sekolahnya, ada yang memberikan perlengkapan belajar, dan ada pula yang menawarkan bantuan dalam bentuk lain.
Hingga akhirnya, temanmu bisa kembali bersekolah.
Saya kemudian bertanya kepada Zahra, “Kalau begitu, menurut Zahra, apa yang sudah dilakukan tulisanmu?”
Dengan polos ia menjawab, “Membantu teman.”
Saya tersenyum.
"Nah. Itu salah satu alasan mengapa orang menulis."
Saya mencoba menjelaskan kepadanya bahwa tulisan tidak selalu harus menghasilkan uang untuk menjadi berharga. Kadang-kadang, sebuah tulisan bisa menjadi dampak yang sangat berarti bagi orang lain, membuat banyak orang tergerak, berhenti sejenak, berpikir, kemudian melakukan sesuatu.
Dan mungkin, dari sesuatu yang kita anggap kecil itu, lahirlah sebuah perubahan yang besar.
Namun ternyata Zahra belum selesai.
Ia kemudian bertanya lagi dengan kepolosan khas seorang anak:
"Kalau begitu, aku yang nulis dapat apa, Kak?"
Saya tersenyum.
Pertanyaan itu membuat saya sadar bahwa ternyata anak-anak memang sedang belajar memahami konsep tentang memberi dan menerima.
Dalam pikirannya, jika teman yang ditolong mendapatkan manfaat, lalu apa yang didapat oleh orang yang menolong?
Bukankah secara kasat mata, Zahra tidak mendapatkan apa-apa?
Tidak ada uang. Tidak ada hadiah. Tidak ada sertifikat. Tidak ada sesuatu yang bisa langsung ia terima dari kebaikan yang dilakukannya.
Saya kembali menjelaskan kepada Zahra bahwa dalam kehidupan, tidak semua kebaikan akan dibalas dalam bentuk yang sama.
"Zahra, kalau kamu menanam biji mangga hari ini, apakah besok kamu langsung mendapatkan mangga?"
Ia menggeleng.
"Enggak."
"Begitu juga dengan kebaikan."
Saya mengatakan kepadanya bahwa setiap benih kebaikan yang kita tanam mungkin tidak tumbuh di tempat yang sama. Bahkan, mungkin bukan orang yang kita bantu yang suatu hari membalas kebaikan itu. Tetapi entah bagaimana, dunia memiliki caranya sendiri untuk bekerja.
Dan mungkin, di situlah saya mulai menceritakan sedikit pengalaman hidup saya kepada Zahra. Saya pernah menulis tanpa mendapatkan imbalan yang menurut saya sepadan secara finansial. Saya pernah bergerak di dunia literasi tanpa bayaran. Saya juga pernah melakukan sesuatu hanya karena merasa itu penting, meskipun tidak ada yang menjanjikan keuntungan apa pun.
Lalu apakah semua kebaikan itu kembali dari orang yang sama?
Tidak.
Bahkan, sering kali bukan dari sumber yang sama.
Tetapi entah bagaimana, saya selalu menemukan bahwa kebaikan memiliki jalannya sendiri untuk kembali.
Ketika saya tidak sedang mengejar hadiah, tiba-tiba saya memenangkan sebuah lomba dengan hadiah bernilai dua digit. Ketika saya tidak pernah membayangkan akan bepergian, tiba-tiba saya terpilih mendapatkan kesempatan wisata gratis dengan fasilitas bintang lima. Ketika saya merasa sedang berjalan biasa-biasa saja, tiba-tiba kemudahan datang dari berbagai arah.
Saya tidak mengatakan bahwa setiap kebaikan pasti dibayar dengan uang.
Tidak.
Justru saya belajar bahwa balasan kebaikan sering kali datang dalam bentuk yang tidak pernah kita duga. Bisa berupa kesempatan, pertemuan dengan orang yang tepat, pintu pertolongan ketika kita sedang berada dalam kesulitan atau bisa juga sesederhana perasaan bahwa apa yang kita lakukan ternyata memiliki arti bagi kehidupan orang lain.
Saya percaya, mungkin begitulah cara Tuhan bekerja.
Misterius.
Kita tidak pernah benar-benar tahu benih kebaikan yang mana yang suatu hari akan tumbuh menjadi sesuatu yang besar.
Kita hanya bisa menanamnya.
Dengan tulus.
Tanpa terlalu sibuk menghitung kapan buahnya akan datang.
Saya kemudian berkata kepada Zahra:
"Jadi, kalau kamu menulis hanya supaya mendapatkan uang, suatu hari kamu mungkin akan kecewa. Tapi kalau kamu menulis karena ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan, ada seseorang yang ingin kamu bantu, atau ada kebaikan yang ingin kamu sebarkan, maka tulisanmu akan memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar uang."
Zahra diam.
Kali ini ia tidak bertanya lagi.
Ia hanya menyimak dengan mata yang berbinar.
Dan entah mengapa, saya merasa ada sesuatu yang sedang tumbuh di dalam dirinya.
Bukan sekadar pemahaman.
Tetapi sebuah keyakinan kecil.
Beberapa saat kemudian ia berkata:
"Kak, aku mau jadi penulis juga deh."
Saya tersenyum.
Bukan karena saya berhasil membuat seorang anak ingin menjadi penulis.
Tetapi karena pada hari itu saya menyadari sesuatu yang lebih penting: literasi bukan hanya tentang mengajarkan anak membaca dan menulis. Literasi adalah tentang mengajarkan mereka bagaimana menggunakan apa yang mereka baca dan tulis untuk memahami kehidupan.
Anak-anak Gen Alpha mungkin tidak selalu membutuhkan ceramah panjang tentang idealisme. Mereka membutuhkan contoh yang bisa mereka lihat. Dan yang paling penting, mereka membutuhkan orang dewasa yang tidak buru-buru mematikan pertanyaan mereka hanya karena pertanyaan itu terdengar polos, nakal, atau bahkan kurang sopan. Sebab di balik pertanyaan sederhana seorang anak, terkadang ada cara berpikir yang sedang tumbuh.
Pertanyaan Zahra sebenarnya bukan hanya pertanyaan tentang menjadi penulis. Ia juga sedang belajar tentang makna berbuat baik. Tentang alasan manusia harus berdedikasi.
Tanpa saya sadari, pertanyaan seorang anak berusia kurang dari sepuluh tahun itu justru membuat saya kembali bertanya kepada diri sendiri:
Mengapa saya masih menulis?
Jawabannya mungkin sederhana.
Karena saya percaya bahwa tulisan bisa menjadi kebaikan yang berjalan lebih jauh daripada kaki kita.
![]() |


