Type Here to Get Search Results !

Kemampuan Menulis sebagai Modal Profesional Bernilai Ekonomi

Oleh: Ririe Aiko

Penulis dan konten kreator

Selama ini, ketika seseorang mengatakan dirinya seorang penulis, bayangan yang muncul sering kali tidak jauh dari buku, media cetak, dan penerbitan. Padahal, kemampuan seorang penulis sebenarnya jauh lebih luas daripada itu.

Dalam satu kesempatan, saya menjadi narasumber dalam sesi “Membuat Konten Storytelling dengan AI” bersama B ERL Diamond Class, sebuah brand kecantikan di bawah naungan PT Mutiara Erly Sejahtera. Dari ruang tersebut, saya melihat satu sisi lain dari dunia kepenulisan yang menarik untuk dibicarakan: kemampuan menulis, khususnya storytelling, ternyata memiliki nilai ekonomi yang dapat menjadi peluang profesional bagi seorang penulis.

Kemampuan menyusun cerita, membangun emosi, menemukan sudut pandang, dan menyampaikan pesan secara persuasif ternyata juga dibutuhkan oleh dunia bisnis. Brand tidak hanya membutuhkan orang yang mampu menjelaskan produk, tetapi juga orang yang mampu membuat konsumen tertarik pada cerita di balik produk tersebut.

Storytelling akhirnya bukan sekadar keterampilan menulis. Ia menjadi bagian dari strategi komunikasi bisnis.

Kita bisa melihat praktik ini pada brand-brand besar yang telah lama menggunakan storytelling untuk membangun hubungan dengan konsumennya. Salah satunya Patagonia, perusahaan pakaian asal Amerika Serikat. Mereka tidak hanya berbicara tentang jaket sebagai produk, tetapi juga membangun cerita tentang lingkungan, keberlanjutan, dan konsumerisme. Salah satu kampanye mereka yang terkenal bahkan menggunakan pesan “Don’t Buy This Jacket” pada momentum Black Friday, sebuah pendekatan yang justru mengajak konsumen mempertimbangkan kembali kebiasaan membeli secara berlebihan.

Patagonia juga mengembangkan Worn Wear, sebuah gerakan yang mendorong konsumen merawat, memperbaiki, dan menggunakan kembali pakaian yang mereka miliki. Produk akhirnya tidak hanya dipandang sebagai barang yang dibeli dan dipakai, tetapi menjadi bagian dari cerita yang lebih besar tentang keberlanjutan.

Di Indonesia, pendekatan serupa juga dapat kita lihat dalam komunikasi brand lokal. Gojek, misalnya, dalam sejumlah kampanyenya tidak selalu menjadikan layanan sebagai pusat cerita. Mereka kerap mengangkat sisi manusia di balik layanan tersebut: kehidupan para pengemudi ojek, perjuangan mencari nafkah, hubungan antara driver dan pelanggan, hingga cerita-cerita sederhana yang dekat dengan keseharian masyarakat.

Akibatnya, iklan tidak selalu terasa seperti iklan.

Pesan tentang layanan Gojek dapat hadir melalui cerita yang membuat penonton merasa dekat, tersentuh, atau merasa bahwa menggunakan layanan tersebut juga berarti ikut mendukung kehidupan orang lain.

Di sinilah kekuatan storytelling dalam bisnis. Orang tidak hanya membeli produk. Mereka juga membeli pengalaman, nilai, kepercayaan, dan cerita yang mereka anggap relevan dengan dirinya.

Saya datang ke ruang diskusi tersebut bukan sebagai marketer. Saya datang sebagai penulis yang berbicara tentang sesuatu yang sejak lama menjadi bagian dari pekerjaan saya: bagaimana sebuah cerita dibangun, bagaimana sebuah pesan disampaikan, dan bagaimana kata-kata bisa membuat orang berhenti sejenak untuk memperhatikan.

Menariknya, ketika kemampuan itu dibawa ke ruang bisnis, cara melihat tulisan pun menjadi berbeda. Sebuah produk tentu memiliki manfaat. Tetapi konsumen tidak selalu tertarik hanya karena daftar manfaat. Mereka juga ingin tahu mengapa sebuah produk hadir, siapa yang membuatnya, pengalaman seperti apa yang melatarbelakanginya, dan nilai apa yang ingin dibawa.

Di situlah storytelling bekerja. Storytelling bukan sekadar membuat tulisan menjadi lebih indah. Lebih jauh dari itu, storytelling adalah cara memberikan konteks pada sebuah pesan. Produk tidak lagi berdiri sebagai benda yang harus dibeli, tetapi hadir bersama cerita yang membuat orang memahami alasan di baliknya.

Bagi saya, pendekatan ini sebenarnya bukan hal yang benar-benar baru.

Beberapa waktu lalu, ketika masih berkecimpung di dunia media bisnis, saya sering mengangkat kisah tentang suatu produk dan unit usaha. Saya belajar bahwa memperkenalkan sebuah usaha kepada pembaca bukan sekadar memindahkan informasi tentang produk ke dalam tulisan. Ada pekerjaan lain yang jauh lebih penting: menemukan cerita di balik usaha tersebut.

Ada perjalanan. Ada perjuangan. Ada alasan seseorang memulai bisnis. Ada kegagalan yang pernah dilewati. Ada nilai yang dipertahankan.

Semua itu bisa menjadi cerita.

Pengalaman yang dulu mungkin terlihat sebagai bagian kecil dari pekerjaan menulis ternyata tidak berhenti sebagai pengalaman masa lalu. Hari ini, kemampuan yang sama kembali saya gunakan dalam ruang yang berbeda. B ERL Diamond Class menjadi salah satu ruang tersebut.

Dalam sesi bersama para peserta, kami membicarakan bagaimana storytelling dapat digunakan untuk membuat konten yang tidak terasa seperti sedang memaksa orang membeli. Kami juga membahas bagaimana AI dapat membantu proses kreatif, mulai dari menemukan ide, mengembangkan sudut pandang, menyusun naskah, hingga mengolah cerita menjadi berbagai bentuk konten.

Di titik inilah saya semakin melihat bahwa karier kepenulisan tidak berhenti pada buku. Jika seorang penulis hanya mengandalkan penjualan buku atau honor dari media, peluang ekonominya tentu menjadi lebih terbatas. Saat ini, kemampuan menulis bisa membawa seorang penulis ke ruang yang jauh lebih luas: menjadi content creator, creative writer, hingga bekerja sama dengan brand untuk menemukan dan membangun suaranya.

Kita tidak pernah benar-benar tahu kemana kemampuan menulis akan membawa kita. Namun, selama kita terus percaya dan mengasah kemampuan itu, sebuah tulisan yang awalnya hanya lahir dari halaman kosong, bisa saja bertahun-tahun kemudian membawa kita pada peluang dan kesuksesan yang sama sekali tidak pernah kita bayangkan.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.