Oleh: Joni Mardianto, S.S., M.Par.
"Katakanlah: Berjalanlah di muka bumi, lalu perhatikanlah bagaimana Allah memulai penciptaan itu..." (QS. Al-'Ankabut: 20).
Ayat tersebut bukanlah satu-satunya. Al-Qur'an berulang kali mengajak manusia untuk berjalan di muka bumi (sirû fil ardh). Ajakan serupa muncul dalam berbagai surah dengan redaksi yang berbeda, tetapi memiliki pesan yang sama: manusia diperintahkan untuk keluar dari ruang sempit kehidupannya, menyaksikan langsung realitas dunia, kemudian mengambil pelajaran darinya.
Pertanyaannya, mengapa Al-Qur'an begitu sering mengulang ajakan itu?
Bukankah Allah Maha Mengetahui bahwa manusia dapat belajar melalui membaca kitab, mendengar ceramah, atau berdiskusi dengan orang lain?
Jawabannya terletak pada hakikat pengalaman. Tidak semua ilmu dapat diperoleh dari buku. Ada pengetahuan yang hanya lahir ketika seseorang benar-benar berjalan, melihat, merasakan, dan berinteraksi dengan kehidupan.
Di era digital seperti sekarang, kita dapat menyaksikan hampir seluruh penjuru dunia melalui layar telepon genggam. Teknologi memungkinkan seseorang mengunjungi Museum Louvre secara virtual, menikmati panorama Grand Canyon melalui video, atau menyaksikan keindahan Raja Ampat dari media sosial. Namun, pengalaman digital tetap tidak mampu menggantikan pengalaman nyata.
Melihat Gunung Merapi melalui foto tentu berbeda dengan merasakan hawa dingin di lerengnya. Menonton Tari Saman melalui YouTube tidak akan sama dengan menyaksikannya secara langsung di tengah masyarakat Aceh.
Demikian pula membaca sejarah Kota Tua Jakarta tidak akan pernah memberikan kesan yang sama seperti berjalan di jalan-jalan berbatunya sambil membayangkan dinamika perdagangan Nusantara berabad-abad silam.
Al-Qur'an memahami hakikat tersebut jauh sebelum ilmu psikologi modern menjelaskan pentingnya experiential learning atau pembelajaran berbasis pengalaman.
Perjalanan bukan sekadar perpindahan fisik, tetapi juga perpindahan cara berpikir.
Karena itulah, Al-Qur'an tidak hanya memerintahkan manusia berjalan, tetapi juga memperhatikan, merenungkan, dan mengambil pelajaran. Kata-kata seperti afalâ yanzhurûn (tidakkah mereka memperhatikan), afalâ yatafakkarûn (tidakkah mereka berpikir), dan la'allakum ta'qilûn (agar kalian menggunakan akal) berulang kali muncul setelah ajakan untuk mengamati alam dan sejarah. Pesan ini menunjukkan bahwa perjalanan dalam Islam bukanlah aktivitas konsumtif, melainkan proses intelektual dan spiritual.
Jika dicermati, hampir seluruh peradaban besar lahir dari budaya perjalanan. Jalur Sutra mempertemukan Timur dan Barat bukan hanya dalam perdagangan, tetapi juga dalam pertukaran ilmu pengetahuan. Para ulama Muslim menempuh ribuan kilometer untuk mencari hadis, berdiskusi dengan guru-guru terbaik, dan menyebarkan ilmu ke berbagai negeri.
Ibnu Battutah menjelajahi puluhan negara selama hampir tiga dekade, meninggalkan catatan yang hingga kini menjadi sumber sejarah penting. Laksamana Cheng Ho memperkuat hubungan antarbangsa melalui pelayaran damai yang membawa perdagangan dan persahabatan.
Perjalanan selalu menjadi pintu lahirnya peradaban.
Ironisnya, sebagian besar perjalanan pada masa kini justru kehilangan makna tersebut. Wisata sering kali berhenti pada aktivitas berfoto, berburu kuliner, atau mengejar destinasi yang sedang viral di media sosial. Tidak sedikit wisatawan yang mengunjungi tempat-tempat indah tanpa memahami sejarahnya, tidak mengenal budaya masyarakatnya, bahkan tidak peduli terhadap kelestarian lingkungannya.
Padahal, Islam mengajarkan etika perjalanan yang jauh lebih mendalam. Setiap langkah seharusnya menambah ilmu, setiap pertemuan memperluas persaudaraan, dan setiap pemandangan menumbuhkan rasa syukur kepada Allah SWT.
Dalam perspektif pariwisata modern, pendekatan seperti ini sejalan dengan konsep quality tourism dan meaningful travel. Wisatawan tidak lagi hanya mencari destinasi yang indah, tetapi pengalaman yang mampu mengubah cara pandang mereka terhadap kehidupan. Mereka ingin memahami budaya lokal, mencicipi kehidupan masyarakat setempat, belajar tentang sejarah, dan kembali dengan perspektif yang lebih luas.
Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi contoh perjalanan yang bermakna. Negeri ini bukan hanya kaya akan panorama alam, tetapi juga menyimpan ribuan kisah tentang keberagaman budaya, perjuangan sejarah, dan kearifan lokal.
Dari surau-surau tua di Minangkabau, tradisi gotong royong di desa-desa Jawa, hingga kehidupan masyarakat pesisir di Maluku, semuanya merupakan "ruang kelas" yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan.
Karena itu, pembangunan pariwisata Indonesia seharusnya tidak hanya berorientasi pada peningkatan jumlah wisatawan. Yang lebih penting adalah bagaimana setiap perjalanan mampu membangun kesadaran, memperluas wawasan, dan menumbuhkan tanggung jawab terhadap alam serta sesama manusia.
Barangkali inilah makna terdalam mengapa Al-Qur'an berkali-kali mengajak manusia berjalan di muka bumi. Allah tidak sekadar menginginkan manusia menjadi pelancong, tetapi menjadi pembelajar. Bukan sekadar melihat keindahan alam, melainkan membaca tanda-tanda kebesaran-Nya. Bukan hanya mengunjungi tempat baru, tetapi juga menemukan pemahaman baru tentang kehidupan.
Di tengah dunia yang semakin cepat berubah, ajakan Al-Qur'an itu justru semakin relevan. Perjalanan bukan lagi sekadar aktivitas wisata, tetapi menjadi sarana membangun manusia yang berilmu, berakhlak, dan mampu menghargai keberagaman ciptaan Allah.
Sebab pada akhirnya, perjalanan yang paling berharga bukanlah perjalanan yang membawa kita ke tempat paling jauh, melainkan perjalanan yang membuat kita pulang dengan hati yang lebih bijaksana, pikiran yang lebih terbuka, dan keimanan yang semakin kokoh. (*)
Joni Mardianto, S.S., M.Par.: Praktisi Pariwisata, Direktur PT. Amanah Triwania Wisata, Dosen, Konsultan Pariwisata, dan Penulis buku Pariwisata Dalam Islam.

