![]() |
Padang Pariaman — Sigi24.com — Di tengah janji Kapolda Sumatera Barat, Irjen Polisi Djati Wiyoto Abadhy, S.I.K., untuk segera menelusuri kebenaran, pengungkapan jaringan mafia BBM subsidi di Sumatera Barat kian terungkap jelas. Saat dihubungi melalui telepon genggam Senin (17/8/2026), beliau menyambut baik laporan media ini dan menegaskan: “Segera dilidik kebenaran infonya.”
Keresahan masyarakat tak berlebihan: kelangkaan dan antrean panjang di SPBU kini menjadi pemandangan sehari‑hari — jika Jakarta dikenal macet di jalan raya, kini Sumatera Barat pun punya “kemacetan khas”: kerumunan kendaraan berdesakan di setiap stasiun pengisian bahan bakar dan sepanjang jalan di sekitarnya.
Setelah ditelusuri mendalam dan mewawancarai pelaku langsung, awak media mengungkap fakta mengejutkan: penyebab kemacetan itu bukan sekadar pembeli biasa — melainkan truk tangki besar kosong, mobil pengangkut barang, yang kini berubah fungsi total menjadi armada pengangkut minyak ilegal. Para sopir pelansir yang identitasnya sudah terekam mengaku terbuka: “Kami ada payung — ada yang melindungi kami.”
Siapa sosok di balik istilah “payung” ini yang membuat mereka begitu berani melanggar aturan, mengalirkan Pertalite dan Biosolar — yang seharusnya untuk rakyat. Pengakuan mereka sungguh menggetarkan hati: bukan preman atau pengusaha besar, melainkan mereka yang seharusnya menjaga hukum — penegak hukum sendiri — benar‑benar ibarat pepatah “pagar makan tanaman”.
Berdasarkan rangkuman informasi dari berbagai sumber yang diperoleh awak media, kini muncul dua nama inisial yang diduga kuat terlibat:
“RD” — diduga anggota Polda Sumatera Barat
“DS” — diduga anggota Korem 032/Wirabraja
Saat dihubungi awak media lewat WhatsApp pada Jumat (14/8/2026), RD menyangkal keterlibatan saat ini: “Saya tidak lagi main di sana, Pak. Sudah enam bulan berhenti — berisiko sebagai anggota polisi.” Namun fakta di lapangan bercerita lain: meski ia mengaku mundur, awak media menerima laporan bahwa jaringan di gudang penimbunan — termasuk lokasi di kawasan Pasar Baru Kasang, Padang Pariaman — masih berjalan di bawah arahannya, meski aktivitas kini menurun pasca pemberitaan sebelumnya.
Sementara itu, saat dihubungi, DS Kamis (20/08/2026) menolak mengakui keterlibatan pribadi, namun saat disebutkan nama anggotanya dengan inisial "IZ" yang terlibat pasokan minyak, ia menjawab: “Anggota saya itu adalah saya juga, Pak.” Pengakuan ini membuka celah dugaan yang lebih luas — DS tak hanya diduga bergerak di bisnis minyak subsidi, namun juga terlibat pasokan material ilegal ke proyek‑proyek yang dikerjakan perusahaan milik negara di wilayah ini.
Modus apa saja yang dijalankan? Siapa kaki tangannya di lapangan? Ke mana pasaran hasil curian ini disalurkan? Semua ini akan kami bedah tuntas — pantau kelanjutan investigasi eksklusif tim media ini bersama media lainya.
Rakyat berharap pemerintah pusat, pemerintah daerah Sumatera Barat, serta seluruh pihak berwenang segera membentuk tim khusus, mengusut tuntas hingga ke akar‑akarnya, dan memproses setiap pihak yang terbukti bersalah sesuai hukum yang berlaku. Semoga nilai luhur budaya kita — semboyan ABS‑SBK — tidak ternoda dan rusak hanya karena ulah segelintir orang yang serakah. (Tim /red )

