Oleh: Joni Mardianto, S.S., M.Par
Tanggal 1 Muharam setiap tahun selalu mengingatkan umat Islam pada sebuah peristiwa besar yang mengubah arah sejarah dunia: hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah menuju Madinah. Peristiwa itu sering dipahami sebagai perpindahan tempat tinggal untuk menghindari tekanan kaum Quraisy. Padahal, jika ditelaah lebih dalam, hijrah bukan sekadar perjalanan geografis, melainkan perjalanan peradaban.
Hijrah adalah simbol keberanian meninggalkan keadaan yang tidak lagi memungkinkan berkembangnya nilai-nilai kebaikan menuju lingkungan yang memberi ruang bagi lahirnya perubahan. Dalam konteks inilah, hijrah memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar berpindah dari satu kota ke kota lain. Hijrah adalah perjalanan menuju kualitas hidup yang lebih baik.
Makna tersebut menjadi sangat relevan ketika dikaitkan dengan dunia pariwisata modern. Selama ini, perjalanan sering dipersepsikan hanya sebagai aktivitas rekreasi untuk mengisi waktu luang. Orang bepergian demi menikmati pemandangan baru, mencicipi kuliner khas, atau sekadar mengabadikan momen melalui kamera telepon genggam. Tidak ada yang salah dengan itu. Namun, apabila perjalanan berhenti hanya pada aspek hiburan, maka kita kehilangan esensi terdalam dari aktivitas tersebut.
Islam mengajarkan bahwa setiap perjalanan semestinya menghasilkan perubahan. Perubahan cara berpikir, perubahan sikap, perubahan wawasan, bahkan perubahan spiritual. Perjalanan yang tidak meninggalkan pelajaran hanyalah perpindahan lokasi, bukan perpindahan kualitas diri.
Hijrah Rasulullah SAW memberikan contoh nyata tentang bagaimana sebuah perjalanan mampu melahirkan transformasi besar. Di Madinah, Rasulullah membangun masyarakat yang menjunjung tinggi persaudaraan, keadilan, toleransi, dan etika sosial. Masjid didirikan bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan, musyawarah, pelayanan masyarakat, dan pembangunan ekonomi. Dari sebuah perjalanan lahirlah fondasi peradaban Islam yang kemudian memengaruhi dunia selama berabad-abad.
Fenomena ini menunjukkan bahwa perjalanan memiliki kekuatan untuk menciptakan perubahan apabila diiringi dengan visi dan tujuan yang jelas. Dalam ilmu pariwisata modern, konsep ini dikenal sebagai transformative tourism, yaitu perjalanan yang tidak hanya memberikan pengalaman, tetapi juga mengubah cara seseorang memandang kehidupan. Wisatawan tidak sekadar pulang membawa oleh-oleh, melainkan juga membawa pemahaman baru, empati yang lebih besar, dan penghargaan yang lebih mendalam terhadap budaya serta lingkungan.
Menariknya, konsep tersebut sejatinya telah hidup dalam ajaran Islam sejak empat belas abad yang lalu. Al-Qur'an berkali-kali mengajak manusia berjalan di muka bumi untuk memperhatikan bagaimana Allah membangun dan menghancurkan peradaban, bagaimana alam bekerja dalam keseimbangan, dan bagaimana manusia seharusnya mengambil pelajaran dari sejarah. Perjalanan menjadi media pembelajaran yang tidak tergantikan oleh ruang kelas.
Di era digital saat ini, ketika informasi dapat diakses hanya melalui layar ponsel, sebagian orang menganggap perjalanan tidak lagi terlalu penting. Padahal, pengalaman langsung tidak pernah dapat digantikan oleh teknologi. Melihat Candi Borobudur melalui foto tentu berbeda dengan merasakan suasana pagi di kawasan candi. Menyaksikan hamparan sawah di Minangkabau melalui video tidak akan sama dengan berbincang bersama petani yang setiap hari menggantungkan hidupnya pada alam. Pengalaman nyata selalu menghadirkan dimensi emosional yang membentuk karakter seseorang.
Karena itu, pembangunan pariwisata Indonesia seharusnya tidak berhenti pada pembangunan infrastruktur dan peningkatan jumlah kunjungan wisatawan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana setiap destinasi mampu menjadi ruang belajar. Wisatawan diajak memahami sejarah, menghargai budaya, menjaga lingkungan, serta membangun hubungan yang lebih manusiawi dengan masyarakat lokal.
Indonesia memiliki modal yang sangat besar untuk mewujudkan konsep tersebut. Kekayaan budaya, tradisi, bahasa, kuliner, dan bentang alam dari Sabang sampai Merauke merupakan laboratorium kehidupan yang sangat kaya. Setiap perjalanan di negeri ini sesungguhnya adalah kesempatan untuk belajar tentang keberagaman, toleransi, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Hijrah juga mengajarkan bahwa perubahan tidak pernah lahir dari zona nyaman. Rasulullah SAW meninggalkan kota kelahirannya demi sebuah cita-cita yang lebih besar. Dalam kehidupan modern, setiap perjalanan mengandung semangat yang sama: keberanian keluar dari rutinitas untuk memperoleh perspektif baru. Ketika seseorang membuka diri terhadap pengalaman baru, ia sedang membuka peluang untuk bertumbuh.
Di sinilah letak filosofi terdalam pariwisata dalam perspektif Islam. Perjalanan bukan sekadar aktivitas ekonomi, bukan pula sekadar hiburan. Perjalanan adalah proses pendidikan, pembentukan karakter, dan pembangunan peradaban. Semakin jauh seseorang melangkah dengan hati yang terbuka, semakin luas pula cara pandangnya terhadap kehidupan.
Mungkin inilah alasan mengapa hijrah menjadi tonggak sejarah Islam. Sebab, hijrah membuktikan bahwa perubahan besar selalu diawali oleh keberanian untuk melangkah. Demikian pula dengan pariwisata. Setiap perjalanan yang dilakukan dengan niat mencari ilmu, memperkuat persaudaraan, dan mensyukuri ciptaan Allah bukan hanya akan mengubah destinasi yang dikunjungi, tetapi juga mengubah diri orang yang menjalaninya.
Pada akhirnya, perjalanan terbaik bukanlah perjalanan yang membawa kita ke tempat paling jauh, melainkan perjalanan yang membawa kita menjadi pribadi yang lebih baik. Itulah makna hijrah yang sesungguhnya—sebuah perjalanan menuju perubahan diri sekaligus perubahan peradaban. (*)
Joni Mardianto, S.S., M.Par.: Praktisi Pariwisata, Direktur PT. Amanah Triwania Wisata, Dosen, Konsultan Pariwisata, dan Penulis buku Pariwisata Dalam Islam.

