Type Here to Get Search Results !

Kita Semua Mungkin Dapat Berkata "Aku Cinta Tuhan""

𝐓𝐞𝐭𝐚𝐩𝐢 𝐚𝐩𝐚𝐤𝐚𝐡 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩 𝐤𝐢𝐭𝐚 𝐬𝐞𝐝𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐮𝐛𝐚𝐡 𝐨𝐥𝐞𝐡-𝐍𝐲𝐚?

𝐎𝐥𝐞𝐡 𝐌𝐨𝐧𝐢𝐜𝐚 𝐉𝐑

Di zaman modern, terutama di Indonesia, menjadi orang beragama bukan sesuatu yang sulit.

Kita hidup di negeri yang hampir setiap hari dipenuhi simbol keagamaan.

Rumah ibadah berdiri di mana-mana. Ayat suci ditulis dan di-post, reposted, memenuhi media sosial. Doa-doa dibacakan sebelum rapat. Nama Tuhan diucapkan hampir dalam setiap pidato.

Tetapi kaum Puritan mengingatkan sesuatu yang menggetarkan.

𝗠𝗲𝗻𝗴𝗮𝗸𝘂 𝗽𝗲𝗿𝗰𝗮𝘆𝗮 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝘀𝗮𝗺𝗮 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗱𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶𝘂𝗯𝗮𝗵𝗸𝗮𝗻.

Seseorang dapat berbicara tentang Tuhan sepanjang hidupnya. Namun hatinya tetap mencintai keduniawian dan kedagingan yang karnal lebih daripada Tuhan.

Richard Baxter menulis dengan sangat tajam:

“Pikiran orang munafik mungkin mengatakan bahwa Allah adalah kebaikan tertinggi, tetapi emosinya belum mengamininya. Dunia lebih banyak mendapat cintanya daripada Allah, dan karena itu dunia adalah tuhannya.”

Meditasi Baxter terasa sekali seperti cermin, bukan palu untuk memukul orang lain. Ya, tapi, cermin untuk melihat diri kita sendiri.

•••

Ada satu kalimat yang terus menggema dalam hati saya setelah mengikuti kelas tentang kaum Puritan.

𝙋𝙧𝙤𝙜𝙧𝙚𝙨𝙨𝙞𝙫𝙚 𝙨𝙖𝙣𝙘𝙩𝙞𝙛𝙞𝙘𝙖𝙩𝙞𝙤𝙣 𝙞𝙨 𝙩𝙝𝙚 𝙞𝙣𝙙𝙞𝙘𝙖𝙩𝙤𝙧 𝙩𝙝𝙖𝙩 𝙮𝙤𝙪 𝙝𝙖𝙫𝙚 𝙗𝙚𝙡𝙞𝙚𝙫𝙚𝙙 𝙖𝙣𝙙 𝙖𝙘𝙘𝙚𝙥𝙩𝙚𝙙 𝙂𝙤𝙙’𝙨 𝙜𝙧𝙖𝙘𝙚.

Semakin saya merenungkannya, semakin saya merasa kalimat itu bukan sedang menunjuk kepada orang lain.

Kalimat itu menunjuk kepada saya.

Dan hal itu tak bertanya apakah saya sudah dibaptis, apakah saya rajin beribadah, atau apakah saya menguasai teologi.

Melainkan pertanyaan yang jauh lebih sunyi.

𝘼𝙥𝙖𝙠𝙖𝙝 𝙨𝙖𝙮𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙞 𝙞𝙣𝙞 𝙨𝙚𝙙𝙞𝙠𝙞𝙩 𝙡𝙚𝙗𝙞𝙝 𝙠𝙪𝙙𝙪𝙨 𝙙𝙞𝙗𝙖𝙣𝙙𝙞𝙣𝙜 𝙠𝙚𝙢𝙖𝙧𝙞𝙣?

Itulah pertanyaan yang paling sulit dijawab.

•••

Semakin saya belajar tentang kehidupan rohani, semakin saya menyadari sebuah paradoks.

Orang yang paling bertumbuh justru semakin sadar betapa berdosanya dirinya. Mereka tidak merasa semakin suci, malah merasa semakin membutuhkan anugerah.

Mereka tidak berjalan dalam hidup ini sambil berkata,

“𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘪𝘬.”

Sebaliknya mereka berdoa seperti Daud:

“𝘚𝘦𝘭𝘪𝘥𝘪𝘬𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶, 𝘺𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩, 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘬𝘶.”

Mengapa? Karena mereka tahu hati manusia sangat licik.

Kita bahkan mampu menipu diri sendiri. Kita mampu menganggap kesombongan sebagai keyakinan, mampu menganggap kemalasan sebagai penyerahan diri, dan mampu menganggap kompromi sebagai kasih.

Dan yang paling berbahaya, kita mampu menganggap pengalaman emosional sebagai tanda kedewasaan rohani.

•••

Kaum Puritan sangat berhati-hati terhadap emosi.

Bukan karena mereka anti perasaan. Justru sebaliknya.

Mereka sangat menghargai yang namanya afeksi kudus.

Mereka percaya kasih kepada Kristus, kerinduan kepada Allah, sukacita dalam firman, bahkan air mata pertobatan adalah pekerjaan Roh Kudus.

Tetapi mereka juga mengingatkan bahwa air mata belum tentu pertobatan.

Seseorang dapat menangis ketika mendengar lagu rohani dan merinding saat mendengar khotbah yang menyentuh juga membolak-balikkan emosi. Dan seringkali, dapat sangat tersentuh ketika berdoa, sampai menangis megap-megap.

Namun setelah semua pengalaman batin itu, orang-orang itu kembali hidup seperti sebelumnya. Kembali melakukan kesalahan-kesalahan yang sama dan menjustifikasinya.

Karena itu, kaum Puritan, mereka selalu mengajukan dua pertanyaan sederhana.

𝗔𝗽𝗮𝗸𝗮𝗵 𝗲𝗺𝗼𝘀𝗶 𝗶𝘁𝘂 𝗺𝗲𝗺𝗯𝘂𝗮𝘁𝗺𝘂 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗻𝗰𝗶 𝗸𝗲𝘀𝗮𝗹𝗮𝗵𝗮𝗻-𝗸𝗲𝘀𝗮𝗹𝗮𝗵𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗸𝗮𝘂 𝗯𝘂𝗮𝘁?

𝗔𝗽𝗮𝗸𝗮𝗵 𝘀𝗲𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗲𝗺𝗼𝘀𝗶 𝗶𝘁𝘂 𝗯𝗲𝗿𝗹𝗮𝗹𝘂, 𝗵𝗶𝗱𝘂𝗽𝗺𝘂 𝗯𝗲𝗿𝘂𝗯𝗮𝗵?

Jika tidak, mungkin yang bergerak hanyalah perasaan. Belum tentu hati.

•••

Saya teringat sebuah prinsip yang sangat sederhana.

𝗘𝗺𝗼𝘀𝗶 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗮𝗸𝗮𝗿 𝗸𝗲𝗵𝗶𝗱𝘂𝗽𝗮𝗻 𝗿𝗼𝗵𝗮𝗻𝗶. 𝗜𝗮 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗯𝘂𝗮𝗵𝗻𝘆𝗮.

Di zaman sekarang kita sering membalik urutannya.

Kita seharusnya taat terlebih dahulu kepada Tuhan. Lalu perlahan Tuhan membentuk afeksi kita.

Ketaatan melahirkan sukacita, damai, dan kasih yang semakin dalam. Bukan sebaliknya.

Maka ukuran kerohanian bukanlah seberapa tinggi emosi kita ketika menyembah. Melainkan seberapa setia kita menaati Tuhan ketika tidak ada emosi sama sekali.

•••

Inilah sebabnya orang yang sungguh mengenal Tuhan tidak pernah merasa dirinya sudah selesai. Mereka justru memiliki satu kerinduan yang tidak pernah padam.

𝗧𝘂𝗵𝗮𝗻, 𝗸𝘂𝗱𝘂𝘀𝗸𝗮𝗻 𝗮𝗸𝘂 𝗹𝗮𝗴𝗶.

Mereka tahu masih banyak dosa yang belum mereka lihat. Masih banyak kesombongan yang belum mereka sadari. Masih banyak motivasi yang masih bercampur dengan keinginan karnal.

Mereka bukan orang yang sempurna.

Justru mereka adalah orang yang paling sadar bahwa dirinya belum sempurna. Tetapi mereka memiliki sesuatu yang sangat berharga.

𝗞𝗲𝗿𝗶𝗻𝗱𝘂𝗮𝗻 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝘁𝗲𝗿𝘂𝘀 𝗯𝗲𝗿𝘂𝗯𝗮𝗵 𝗱𝗮𝗻 𝗱𝗶𝘂𝗯𝗮𝗵.

Kerinduan itu sendiri adalah anugerah.

•••

Joni Eareckson Tada menyukai sebuah doa Puritan dari 𝙏𝙝𝙚 𝙑𝙖𝙡𝙡𝙚𝙮 𝙤𝙛 𝙑𝙞𝙨𝙞𝙤𝙣.

“𝘽𝙖𝙟𝙖𝙠𝙡𝙖𝙝 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢-𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙙𝙞 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙙𝙞𝙧𝙞𝙠𝙪, 𝙏𝙪𝙝𝙖𝙣.”

Semakin saya merenungkan doa itu, semakin saya sadar mengapa doa tersebut begitu “berbahaya”.

Tidak ada seorang pun yang menikmati tanah yang dibajak.

Tanah harus dibelah. Diangkat. Dibalik. Dilukai.

Tetapi justru tanah yang dibajak itulah yang akhirnya siap menerima benih.

Demikian pula hati manusia.

Tidak ada pengudusan tanpa pembongkaran. Tidak ada pertumbuhan tanpa pertobatan yang terus-menerus.

Tidak ada kekudusan tanpa salib yang musti kita bawa hingga kematian menjemput.

•••

Mungkin, inilah yang membedakan iman yang hidup dengan iman yang hanya tinggal di bibir.

Iman yang sejati tidak bisa berkata, “𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱 𝘣𝘢𝘪𝘬.”

Iman yang sejati terus berdoa,

“𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬-𝘔𝘶.”

Karena itu, indikator kehidupan rohani bukanlah seberapa fasih kita berbicara tentang Tuhan dan seberapa kuat emosi kita ketika menyembah.

Melainkan pertanyaan yang jauh lebih sunyi.

𝗔𝗽𝗮𝗸𝗮𝗵 𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗶𝗻𝗶 𝗿𝗼𝗵 𝗧𝘂𝗵𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗺𝗮𝗸𝗶𝗻 𝗯𝗲𝗿𝘁𝗮𝗺𝗯𝗮𝗵 𝗱𝗶 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗱𝗶𝗿𝗶𝗸𝘂, 𝗱𝗮𝗻 𝗮𝗸𝘂 𝘀𝗲𝗺𝗮𝗸𝗶𝗻 𝗯𝗲𝗿𝗸𝘂𝗿𝗮𝗻𝗴?

Jika jawabannya ya, meski hanya sedikit, itulah jejak progressive sanctification.

Dan mungkin, itulah tanda paling sederhana bahwa Roh Kudus masih bekerja di dalam hati kita.

***

𝐌𝐢𝐧𝐠𝐠𝐮, 𝟐𝟔 𝐉𝐮𝐥𝐢 𝟐𝟎𝟐𝟔

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.