![]() |
Oleh: Bima Putra, S.Pd., M.Pd.,Gr.
(Plt Ketua Karang Taruna IPPK Nagari Kapalo Koto Periode 2024-2025)
Dalam diskursus keislaman, peristiwa Hijrah Nabi Muhammad SAW sering kali hanya dilihat sebagai perpindahan fisik dari Mekkah ke Madinah. Namun, secara intelektual, Hijrah adalah sebuah metamorfosis pola pikir. Ia adalah simbol keberanian untuk meninggalkan status quo yang tidak produktif menuju tatanan baru yang lebih bermartabat.
Kini, di penghujung tahun 1447 H dan menjelang fajar 1448 H, kita tidak hanya berganti kalender. Kita sedang berada pada titik balik untuk mengevaluasi diri: Apakah kita telah menjadi individu yang lebih baik bagi lingkungan, atau justru terjebak dalam kenyamanan yang stagnan?
Tahun 1447 H telah mengajarkan kita bahwa perubahan sosial di tingkat nagari membutuhkan ketangguhan. Kita telah melihat bagaimana dinamika sosial baik di sektor pendidikan, ekonomi, maupun hubungan antarwarga memerlukan adaptasi yang terus-menerus.
Secara sosiologis, tahun ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan kolektif tidak bisa hanya bergantung pada figur sentral, melainkan pada sinergi antar-elemen. Jika ada capaian yang belum maksimal, atau gesekan yang sempat terjadi, itu adalah data empiris yang menunjukkan bahwa sistem sosial kita masih terus tumbuh dan membutuhkan perbaikan secara berkelanjutan.
Agenda Pemilihan Wali Nagari (Pilwana) di Kapalo Koto yang akan datang bukan sekadar ritual politik delapan tahunan. Dalam bahasa yang sederhana, ini adalah proses seleksi visi. Kita sedang memilih nakhoda yang akan membawa nagari ini bergerak maju di tahun 1448 H.
Sebagai sebuah entitas intelektual masyarakat, menurut penulis Pilwana seharusnya menjadi ruang bagi dialektika yang sehat. Kita harus "berhijrah" dari politik yang berbasis sentimen atau pragmatisme sesaat, menuju politik yang berbasis pada gagasan dan kompetensi. Wali Nagari yang ideal adalah sosok yang mampu menggabungkan kecerdasan intelektual dalam tata kelola pemerintahan dengan kearifan lokal yang membumi.
Menyambut 1448 H, resolusi kita harus bersifat transformatif dan aplikatif. Berikut adalah kerangka kerja sederhana namun mendalam yang bisa penulis tawarkan untuk Nagari Kapalo Koto:
1. Transparansi dan Partisipasi: Mengubah sistem tata kelola nagari menjadi lebih inklusif. Masyarakat harus dilibatkan, bukan hanya sebagai objek pembangunan, melainkan sebagai subjek yang ikut menentukan arah kebijakan.
2. Pendidikan Berbasis Karakter: Membangun ekosistem yang mendukung kecerdasan generasi muda, agar mereka tidak hanya cakap secara akademis, tetapi juga memiliki integritas moral yang kuat sesuai nilai-nilai agama dan adat.
3. Politik Badunsanak yang Beradab: Mengedepankan musyawarah sebagai instrumen utama dalam setiap perbedaan. Di tahun 1448 H, kita harus menunjukkan bahwa perbedaan pilihan dalam Pilwana tidak akan memutus silaturahmi.
Tahun 1448 H adalah lembaran baru yang memberikan kita kesempatan untuk memperbaiki kesalahan di tahun sebelumnya. Mari kita jadikan Pilwana Nagari Kapalo Koto sebagai langkah awal yang besar untuk melakukan perubahan substantif.
Dengan niat yang lurus (ikhlas) dan kerja keras yang terukur (profesional), kita tidak hanya akan membangun nagari yang maju secara infrastruktur, tetapi juga nagari yang masyarakatnya hidup dalam kesejahteraan spiritual dan intelektual.
Selamat menyambut Tahun Baru Islam 1448 H. Mari kita hijrah menuju Kapalo Koto yang lebih baik, lebih cerdas, dan lebih kompak.

