![]() |
Oleh: Duski Samad
Ketua Yayasan Islamic Centre Syekh Burhanuddin Pariaman
Tulisan ini dibuat setelah H. Arisal Aziz anggota DPR RI dapil dua Sumatera Barat melakukan kunjungan ke Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Syekh Burhanuddin Pariaman. Beliau melihat langsung gedung Islamic Centre yang diresmikan sejak 1978 lalu telah lapuk di makan zaman.
Gedung ini wujud dari sejarah kehendak kuat dari pimpinan umat dan pemerintah daerah kabupaten Padang Pariaman untuk menyediakan sarana pendirian Perguruan Tinggi Agama Islam di daerah ini.
Profetik berarti mengikuti jalan kenabian—menjadikan nilai wahyu, akhlak, amanah, dan kemaslahatan sebagai fondasi kepemimpinan. Dalam sejarah para nabi, kepemimpinan tidak lahir secara tiba-tiba. Ia dipersiapkan, ditempa, dan “diperjalankan” melalui skenario sejarah yang dirancang Allah SWT.
Nabi Musa ‘alaihissalam dibesarkan di istana Fir’aun—musuh terbesar dakwahnya sendiri. Di sana Musa belajar membaca kekuasaan, memahami struktur penindasan, sekaligus disiapkan menjadi pembebas kaum tertindas. Allah memperjalankan Musa bukan di ruang sunyi, tetapi di tengah pusat kekuasaan yang zalim.
Demikian pula Nabi Muhammad SAW. Sejak kecil beliau dipelihara dalam lingkungan yang menjaga kesucian fitrah dan kemuliaan akhlak. Diasuh Halimah Sa’diyah di perkampungan Bani Sa’ad, hidup sederhana namun bersih dari kerusakan moral kota. Setelah itu beliau ditempa dalam kehidupan yatim, perdagangan, pergulatan sosial, hingga dipercaya masyarakat dengan gelar Al-Amin jauh sebelum diangkat menjadi Rasul.
Artinya, pemimpin profetik bukan sekadar hasil pemilihan politik. Ia adalah hasil perjalanan panjang sejarah, tempaan moral, pendidikan kehidupan, dan penjagaan ilahi terhadap kepribadiannya.
Karena itu pemimpin profetik sesungguhnya adalah pemimpin yang “diperjalankan”—diproses oleh kehidupan sebelum memimpin manusia.
Di sinilah perbedaan besar antara kepemimpinan profetik dan kepemimpinan transaksional modern. Demokrasi hari ini sering melahirkan pemimpin melalui kekuatan modal, manipulasi citra, oligarki, pencitraan digital, bahkan intrik kekuasaan. Popularitas lebih penting daripada integritas. Viral lebih menentukan daripada moral. Akibatnya lahir pemimpin yang besar di baliho, tetapi kecil dalam amanah.
Padahal sejarah menunjukkan, pemimpin besar lahir bukan semata karena ambisi pribadi, tetapi karena perjalanan panjang yang membentuk kedalaman jiwa dan keteguhan prinsip.
Ada beberapa indikator pemimpin yang “diperjalankan” oleh sang pemilik hidup, seperti dapat di baca dalam sejarah:
1. Teguh Kepribadian dan berintegritas kuat.
Pemimpin profetik memiliki karakter yang matang sebelum memperoleh kekuasaan. Ia tidak mudah berubah karena pujian, tekanan, atau kepentingan sesaat. Kepribadiannya kokoh, berintegritas kuat karena dibangun oleh nilai, pengalaman, dan kesadaran pengabdian.
Nabi Muhammad SAW tetap jujur ketika miskin maupun ketika menjadi pemimpin besar. Amanah bukan pencitraan, tetapi watak hidupnya.
Di era demokrasi penuh intrik, keteguhan kepribadian menjadi barang langka. Banyak pemimpin berubah setelah memperoleh jabatan karena sejak awal tidak memiliki fondasi moral yang kuat.
2. Dukungan Ekonomi yang Mandiri
Sejarah kenabian menunjukkan pentingnya kemandirian ekonomi dalam menjaga integritas perjuangan. Nabi Muhammad SAW adalah pedagang yang terpercaya. Banyak nabi bekerja dan hidup mandiri.
Pemimpin yang lemah secara ekonomi sering mudah disandera oleh sponsor politik, oligarki, atau kepentingan kelompok tertentu. Demokrasi transaksional menjadikan biaya politik sangat mahal sehingga kekuasaan sering dibayar dengan kompromi moral.
Karena itu pemimpin profetik harus memiliki kemandirian ekonomi atau dukungan ekonomi yang bersih agar tidak menjual kebijakan demi membayar hutang politik.
3. Komitmen Ideologi Pengabdian
Pemimpin profetik memimpin bukan untuk kekuasaan semata, tetapi untuk pengabdian. Jabatan dipahami sebagai amanah, bukan alat memperkaya diri.
Ideologi pengabdiannya jelas: membela rakyat, menjaga keadilan, menegakkan moral, dan menghadirkan kemaslahatan.
Di tengah demokrasi yang sering dipenuhi transaksi, pragmatisme, dan politik identitas, komitmen ideologis menjadi sangat penting. Tanpa itu, pemimpin mudah berubah arah mengikuti kepentingan pemodal dan tekanan kekuasaan global.
Dalam konteks lokal Sumatera Barat, masyarakat sesungguhnya merindukan hadirnya figur pemimpin yang sederhana, amanah, bersih, dan dekat dengan rakyat. Sosok yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga memiliki rekam jejak keberpihakan kepada masyarakat.
Di antara figur yang sering dipersepsikan publik memiliki prototipe kepemimpinan demikian adalah H. Arisal Aziz. Latar belakang sebagai pengusaha dan pengalaman sosialnya membentuk karakter kepemimpinan yang relatif mandiri secara ekonomi, sehingga tidak terlalu mudah tersandera kepentingan pragmatis kekuasaan.
Citra yang berkembang di tengah masyarakat memperlihatkan sosok yang dekat dengan rakyat kecil, terbiasa membantu masyarakat, dan memiliki kepedulian sosial yang nyata. Dalam situasi demokrasi yang sering diwarnai transaksi politik, kehadiran figur yang dipandang bersih dan amanah menjadi harapan tersendiri bagi masyarakat.
Tentu kepemimpinan tidak cukup hanya dibangun oleh popularitas dan pencitraan. Yang lebih penting adalah konsistensi moral, keberanian membela kepentingan rakyat, serta kemampuan menjaga marwah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah di tengah tantangan globalisasi dan krisis moral.
Karena itu umat dan bangsa hari ini tidak cukup hanya mencari pemimpin yang populer, pintar berbicara, atau kuat membangun citra media sosial. Yang dibutuhkan adalah pemimpin yang matang secara ruhani, kuat secara moral, mandiri secara ekonomi, dan teguh dalam ideologi pengabdian.
Pemimpin seperti itu biasanya tidak lahir secara instan. Ia diperjalankan oleh sejarah. Diuji oleh kehidupan. Ditempa oleh penderitaan. Diperkuat oleh nilai. Dan dipanggil oleh keadaan untuk melayani masyarakat.
Al-Qur’an mengingatkan: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya...”(QS. An-Nisa: 58)
Ayat ini menegaskan bahwa kepemimpinan bukan sekadar kompetisi politik, tetapi amanah moral dan spiritual.
Di tengah zaman ketika demokrasi sering berubah menjadi arena transaksi dan intrik, bangsa ini memerlukan pemimpin profetik—pemimpin yang tidak hanya menang dalam pemilu, tetapi juga menang dalam akhlak, amanah, dan keberpihakan kepada rakyat.
Sebab sejarah membuktikan:
bangsa besar tidak hanya ditentukan oleh sistem politiknya, tetapi oleh kualitas moral pemimpinnya.ds.090526.

