Type Here to Get Search Results !

Miskin Literasi Budaya: Mengapa Pola Pikir Stereo Tipikal Berbahaya Integrasi Nasional

Muhammad Raffi Nasdi, SE

Belakangan ini, ruang publik kembali diramaikan oleh narasi yang menyudutkan identitas masyarakat Sumatera Barat. Pelabelan negatif yang ditujukan kepada wilayah yang dikenal sebagai tanah kelahiran para pemikir bangsa ini adalah bentuk generalisasi yang tidak hanya dangkal, tetapi juga berbahaya bagi integrasi nasional.Sebagai seseorang yang memegang teguh nilai-nilai budaya, saya merasa perlu meluruskan kekeliruan narasi yang dilontarkan oleh tokoh seperti Permadi Arya atau yang kerap disapa Abu Janda. Menyebut suatu daerah sebagai "bar-bar" adalah bentuk simplifikasi yang mencerminkan ketidakpahaman atas sejarah panjang masyarakat Minangkabau. 

Narasi ini tidak hanya keliru secara historis, akan tetapi juga mengerdilkan realitas bahwa Sumatera Barat adalah Benteng Intelektualitas bangsa.

Masyarakat Minangkabau bukan lahir dari kekosongan budaya.

Sejak berabad-abad lalu, filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah telah membentuk karakter masyarakat yang menjunjung tinggi tata krama, etika, dan logika. Bagaimana mungkin sebuah masyarakat yang melahirkan tokoh-tokoh besar—seperti Hatta yang dikenal dengan integritasnya, atau Tan Malaka dengan pemikiran revolusionernya—dianggap sebagai masyarakat yang tidak beradab?Menggunakan diksi yang merendahkan identitas kedaerahan menunjukkan kegagalan dalam berdialog.

Kritik yang sehat seharusnya diarahkan pada perilaku atau kebijakan, bukan pada identitas kolektif sebuah suku atau wilayah.

Bahaya "Influencer" Tanpa Literasi Budaya

Seorang tokoh publik atau influencer memiliki tanggung jawab moral atas setiap narasi yang ia bangun di media sosial. Ketika kata-kata digunakan sebagai senjata untuk menghina, ia bukan sedang berargumen, melainkan sedang memprovokasi. Menyamaratakan sifat jutaan manusia di Sumatera Barat dengan stigma "bar-bar" adalah tindakan yang tidak mencerminkan kedewasaan berpikir, narasi seperti ini hanya akan memicu polarisasi. 

Alih-alih membawa perdebatan ke arah yang lebih substantif, gaya komunikasi seperti ini justru mereduksi ruang digital kita menjadi tempat caci maki yang tidak berujung.

Menuntut Dialog yang Beradab

Indonesia adalah bangsa yang besar karena keberagamannya. Menghormati identitas daerah adalah bagian dari merawat keindonesiaan itu sendiri. 

Bagi saya, kritik tidak boleh menjadi kedok untuk menyebarkan kebencian.

Jika memang ada perilaku yang ingin dikritisi, lakukanlah dengan data, argumen, dan cara yang beradab—sesuatu yang seharusnya dipahami oleh mereka yang mengaku sebagai pegiat media sosial.

Kita tidak butuh narasi yang memecah belah dengan label-label rendahan.

Kita membutuhkan dialektika yang membangun, yang menghargai sejarah, dan yang mampu melihat Indonesia sebagai satu kesatuan yang utuh, bukan sebagai kumpulan stereotip yang dipaksakan.

Sudah saatnya ruang publik kita diisi oleh gagasan yang mencerdaskan, bukan provokasi yang mendegradasi martabat kemanusiaan dan persatuan bangsa.

Muhammad Raffi Nasdi, SE

Bendahara Pemuda Muhammadiyah Padang Pariaman 

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.