![]() |
oleh Reiner Emyot Ointoe
„Ada cacat dalam hadis ini karena pesannya bertentangan dengan akal sehat, khususnya dalam menyingkirkan peran perempuan sebagai pemimpin dan menolak mereka dari ruang publik.” — Fatima Mernissi(1940-2015), Women and Islam: A Historical and Theological Inquiry(1991).
Novel Women Without Men (زنان بدون مردان — Zanān bedūn-e mardān) karya Shahrnush Parsipur(80) telah melampaui batas-batas nasional Iran dan menjadi teks feminis global yang terus dibaca, didiskusikan, dan dianalisis.
Dampak globalnya terletak pada keberanian Parsipur menyingkap represi perempuan melalui alegori yang kuat, sehingga karya ini menjadi referensi penting dalam kajian feminisme transnasional.
Di banyak negara, novel ini dibaca sebagai perlawanan terhadap patriarki universal, bukan hanya dalam konteks Iran.
Larangan penerbitannya di tanah air justru memperkuat statusnya sebagai simbol keberanian intelektual perempuan yang menantang norma misoginis.
Di Iran sendiri, feminisme Parsipur menghadapi risiko besar: penjara, pengasingan, dan sensor.
Namun, karya ini tetap menjadi inspirasi bagi gerakan perempuan yang menuntut kebebasan berpikir, tubuh, dan nasib mereka sendiri.
Parsipur menantang tabu besar seperti keperawanan, pernikahan paksa, dan subordinasi perempuan dalam keluarga.
Dengan realisme magis, ia menunjukkan bahwa feminisme bukan sekadar teori, melainkan pengalaman hidup yang penuh luka dan perlawanan.
Tokoh-tokoh perempuan dalam novel ini memperlihatkan variasi bentuk perlawanan terhadap patriarki.
Mahdokht menanam dirinya sebagai pohon di kebun Karaj, sebuah simbol keinginan untuk tetap suci dan bebas dari dunia laki-laki.
Munis dan Faizeh, setelah mengalami kekerasan, menuju kebun sebagai tempat perlindungan, menegaskan bahwa solidaritas perempuan adalah jalan keluar dari trauma.
Farrokhlagha, seorang perempuan kaya, membeli kebun tersebut dan menjadikannya ruang aman bagi tokoh lain, menunjukkan bahwa kekuasaan ekonomi bisa menjadi alat pembebasan.
Zarrinkolah, seorang pekerja seks, bergabung di kebun untuk mencari kehidupan baru, menyingkap dimensi lain dari marginalisasi perempuan.
Taman (باغی در کرج — bāghi dar Karaj) menjadi simbol utama dalam narasi.
Dikutip frase berikut:
«اصلاً منطقی نیست که یک زن بیرون برود. خانه برای زنان است، دنیای بیرون برای مردان
Aslan mantaghi nist ke yek zan birun beravad. Khāneh barāye zanān ast, donyā-ye birun barāye mardān.
"Tidak masuk akal bagi seorang
wanita untuk keluar rumah. Rumah
adalah untuk wanita, dunia luar untuk pria."
Ia bukan sekadar ruang fisik(rumah), melainkan utopia di mana perempuan dapat hidup tanpa kontrol patriarki.
Unsur mistisisme dan sufistik menjadikan taman sebagai ruang transendensi, sementara kebersamaan para tokoh dari latar belakang berbeda menegaskan solidaritas sebagai inti feminisme Parsipur.
Dengan demikian, Women Without Men menghadirkan kritik feminisme yang tajam.
Di sini, perempuan tidak lagi digambarkan sebagai korban pasif, melainkan sebagai agen aktif yang menolak definisi tradisional atas diri mereka.
Ulasannya:
زندگی آنها نه خوب است و نه بد. فقط ادامه دارد
Zendegi-ye ānhā na khub ast va na bad. Faqat edāme dārad.
"Kehidupan mereka
tidak baik maupun buruk.
Hanya terus berjalan."
Novel ini, dalam bahasa Persia: زنان بدون مردان — Zanān bedūn-e mardān, menghubungkan pengalaman lokal Iran dengan wacana feminis global, memperlihatkan bahwa perjuangan perempuan melawan represi adalah universal.
#coversong:
Lagu “Eschghe Lori”(Cinta Lori) dari Maryam Akhondy(67). Lagu ini dirilis dan merupakan bagian dari proyek musik tradisional yang dibawakan Maryam Akhondy bersama kelompok vokal perempuan Banu. Album Banu – Songs of Persian Women diterbitkan pada 2004.
Lagu ini mengekspresikan cinta, kerinduan, dan kehidupan sehari-hari perempuan Lur. Akhondy mengangkatnya sebagai bagian dari misi untuk melestarikan nyanyian perempuan Iran yang biasanya hanya dinyanyikan di ruang privat.

