![]() |
Oleh: Duski Samad
Pembelajar pada UIN Imam Bonjol
Tulisan ini dibuat membaca share medsos yang isinya di negara Kuba sejak Fidel Castro pendidikan sejak Taman Kanak-Kanak sampai Perguruan Tinggi gratis. Itu sebabnya buku dan instrumen pendidikan begitu dilaku dan populer di masyarakat.
Beberapa waktu sebelumnya cerita kawan yang lama belajar di Mesir menyampaikan bahwa negara Mesir gratis pendidikan, gratis buku, gratis surat kabar. Negara sejak lama yang ingin maju dan masyarakatnya cerdas mengeluarkan pembiayaan terhadap pendidikan, buku, surat kabar dan sejenisnya.
Bagaimana di negara RI yang sudah merdeka 80 an pendidikan mahal, buku selangit, dan media belajar lainnya selalu mengunakan uang yang banyak, sulit dijangkau masyarakat berpenghasilan rendah.
Narasi bahwa masyarakat Indonesia malas membaca dan enggan membeli buku sesungguhnya perlu dikaji ulang secara lebih jernih. Kesimpulan itu sering terlalu cepat diambil hanya karena toko buku sepi, penerbit banyak mengeluh, atau sebagian penulis merasa pasar buku semakin mengecil. Padahal realitas di lapangan tidak selalu demikian.
Fenomena ramainya bazar buku murah, membludaknya pengunjung pameran literasi, dan cepat habisnya buku-buku tertentu menunjukkan bahwa masyarakat sebenarnya masih memiliki minat terhadap buku. Persoalannya bukan semata pada kemauan membaca, tetapi pada daya beli dan ekosistem perbukuan yang belum sehat.
Ketika harga buku menjadi terlalu mahal dibanding kemampuan ekonomi masyarakat, maka buku perlahan berubah menjadi barang mewah. Di tengah tekanan ekonomi, kebutuhan primer tentu lebih diutamakan daripada membeli buku. Apalagi jika satu buku harus ditebus dengan harga ratusan ribu rupiah, sementara masyarakat masih berjuang memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
Karena itu, menyebut masyarakat malas membeli buku sering kali kurang adil. Yang terjadi adalah keterbatasan akses ekonomi terhadap buku. Ketika buku dijual dengan harga terjangkau, masyarakat ternyata tetap antusias membeli. Banyak bukti memperlihatkan bahwa buku murah tetap diserbu pembaca. Ini menunjukkan bahwa budaya literasi belum mati.
Masalah sebenarnya terletak pada ekosistem perbukuan nasional yang belum sepenuhnya berpihak kepada pembaca maupun penulis. Biaya produksi tinggi, distribusi tidak merata, ongkos kirim mahal, dominasi pasar tertentu, lemahnya perpustakaan, rendahnya subsidi literasi, hingga perubahan pola konsumsi digital menjadi faktor yang saling berhubungan.
Di sisi lain, budaya instan dan dominasi media sosial memang ikut memengaruhi cara masyarakat mengonsumsi pengetahuan. Informasi pendek, cepat, sensasional, dan visual lebih mudah menarik perhatian dibanding membaca buku yang membutuhkan ketekunan berpikir. Akibatnya, literasi mendalam mulai tergeser oleh budaya scrolling tanpa refleksi.
Namun demikian, buku tetap memiliki masa depan. Peradaban besar selalu ditopang oleh tradisi membaca dan menulis. Tidak ada bangsa maju tanpa budaya literasi yang kuat. Buku tetap menjadi ruang kontemplasi, kedalaman ilmu, dan penyimpan memori intelektual manusia.
Karena itu, para pegiat literasi, penerbit, penulis, dan pedagang buku tidak perlu pesimis. Dunia buku belum berakhir. Yang diperlukan adalah inovasi dan pembenahan ekosistem.
Harga buku harus lebih ramah bagi masyarakat. Negara perlu hadir memperkuat perpustakaan, membantu distribusi, memberi insentif penerbitan, dan mendukung gerakan literasi berbasis komunitas. Pesantren, masjid, surau, kampus, dan komunitas lokal perlu dihidupkan kembali sebagai pusat budaya baca.
Pedagang buku pun tidak perlu ragu. Selama ilmu masih dibutuhkan manusia, buku akan tetap dicari. Bahkan dalam tradisi Islam, aktivitas menyebarkan ilmu memiliki nilai ibadah yang sangat tinggi. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
Hadis ini menunjukkan bahwa penyebaran ilmu adalah amal mulia. Menjual buku bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi juga bagian dari dakwah dan investasi peradaban.
Karena itu, optimisme perlu dijaga. Jika dikelola dengan kreatif, dunia buku masih memiliki masa depan. Buku murah, akses mudah, promosi digital yang sehat, komunitas literasi aktif, dan dukungan sosial yang kuat dapat menghidupkan kembali gairah membaca bangsa.
Mungkin yang harus diubah bukan masyarakatnya, tetapi cara kita membangun ekosistem literasi itu sendiri.
Di tengah zaman yang serba cepat dan dangkal, buku justru semakin penting agar manusia tidak kehilangan kedalaman berpikir, kejernihan nurani, dan arah peradaban.

