Oleh: Duski Samad
Manusia modern hidup di zaman yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya.
Hari ini dunia bergerak dalam kecepatan algoritma. Informasi datang tanpa batas. Telepon genggam bukan lagi sekadar alat komunikasi, tetapi telah menjadi ruang hidup baru manusia. Dari bangun tidur hingga menjelang tidur kembali, manusia hampir tidak pernah lepas dari layar.
Di era digital ini, teknologi berhasil mendekatkan yang jauh, mempercepat pekerjaan, membuka ilmu pengetahuan, dan mempermudah banyak urusan kehidupan. Namun bersamaan dengan itu, lahir pula satu persoalan besar: manusia semakin cerdas secara teknologi, tetapi sering kehilangan kedalaman spiritual.
Manusia modern tahu banyak hal, tetapi kehilangan ketenangan.
Memiliki banyak koneksi, tetapi merasa sepi.
Sering tertawa di media sosial, tetapi batinnya gelisah.
Bahkan ada yang dikenal luas di dunia maya, tetapi asing dengan dirinya sendiri.
Di sinilah relevansi spiritualitas menjadi sangat penting.
Al-Qur’an sejak awal telah mengingatkan bahwa manusia bukan hanya makhluk jasmani, tetapi juga makhluk ruhani. Ia tidak cukup hidup dengan makanan, hiburan, dan teknologi semata. Jiwa manusia memerlukan makna, ketenangan, dan hubungan dengan Tuhan.
Allah berfirman:
> “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini terasa semakin relevan di tengah dunia digital yang penuh kebisingan. Sebab problem terbesar manusia modern bukan hanya krisis ekonomi atau teknologi, tetapi krisis ketenangan jiwa.
Media sosial bekerja dengan algoritma. Apa yang sering dilihat akan terus ditampilkan. Apa yang disukai akan diperbanyak. Apa yang membuat emosi akan diputar berulang-ulang. Akibatnya manusia hidup dalam arus informasi yang terus membentuk cara berpikir, emosi, bahkan perilakunya.
Jika seseorang terus mengonsumsi kemarahan, maka ia menjadi pemarah.
Jika terus mengonsumsi syahwat, maka jiwanya dikuasai hawa nafsu.
Jika terus mengonsumsi pencitraan, maka hidupnya sibuk mengejar pengakuan.
Karena itu Al-Qur’an mengingatkan:
> “Apakah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?”
(QS. Al-Jatsiyah: 23)
Ayat ini seakan berbicara langsung kepada manusia digital hari ini. Banyak orang tidak lagi dipimpin oleh nilai wahyu, tetapi oleh selera, tren, dan algoritma pasar.
Ukuran kebenaran berubah menjadi viralitas.
Ukuran kehormatan berubah menjadi popularitas.
Ukuran kebahagiaan berubah menjadi pengakuan publik.
Padahal semua itu sangat rapuh.
Di sinilah kehidupan spiritual berfungsi sebagai penjaga keseimbangan manusia. Spiritualitas bukan berarti meninggalkan teknologi atau anti terhadap kemajuan. Islam tidak mengajarkan umatnya lari dari zaman. Yang diajarkan adalah bagaimana teknologi tetap berada di bawah kendali akhlak dan kesadaran ilahi.
Tasawuf misalnya, mengajarkan tazkiyah al-nafs—penyucian jiwa. Manusia diajak membersihkan hati dari riya’, hasad, tamak, dan ketergantungan dunia. Dalam konteks era digital, tasawuf mengajarkan agar manusia tidak diperbudak layar, tidak kehilangan nurani karena algoritma, dan tidak menjadikan validasi publik sebagai sumber harga diri.
Manusia boleh aktif di media sosial, tetapi hatinya tetap terhubung dengan Allah.
Teknologi boleh berkembang pesat, tetapi akhlak harus tetap dijaga.
Informasi boleh melimpah, tetapi hikmah tetap menjadi cahaya utama.
Sebab sesungguhnya kecerdasan tanpa spiritualitas dapat melahirkan kehancuran. Teknologi tanpa moral dapat berubah menjadi alat manipulasi, fitnah, bahkan perusakan kemanusiaan.
Karena itu era digital membutuhkan lebih banyak manusia yang kuat secara ruhani: mampu mengendalikan diri, bijak menggunakan teknologi, menjaga hati di tengah kebisingan dunia maya, dan tetap menjadikan Allah sebagai pusat orientasi hidup.
Pada akhirnya, pertarungan terbesar manusia modern bukan lagi sekadar perebutan ekonomi atau politik, tetapi perebutan jiwa manusia.
Antara cahaya wahyu
dan cahaya layar.

