![]() |
- Pengantar Buku Jamal D. Rahman, Mutiara di Langit Malam: Religiusitas dan Spiritualitas dalam Puisi Esai Denny JA
Oleh Denny JA
Suatu malam, seorang perempuan berdiri di tepi dunia yang runtuh.
Tubuhnya masih hidup, tetapi jiwanya seperti telah dikubur bersama suaminya yang ditembak di depan matanya. Ia diperkosa. Diusir. Dihapus dari sejarah.
Ia tak lagi percaya pada manusia. Bahkan hampir tak percaya pada Tuhan.
Namun di tengah reruntuhan itu, sesuatu bergerak pelan.
Bukan khotbah.
Bukan ayat yang dihafal.
Hanya bisikan yang sangat sunyi:
“Ada angin menyusup hati
bagai wahyu dini hari”
Dan ia menangis.
Bukan karena luka yang bertambah.
Tetapi karena ia menyadari:
Tuhan ternyata tidak meninggalkannya.
Ia hanya berpindah tempat.
Dari langit yang jauh
ke luka yang paling dalam.
-000-
Buku Mutiara di Langit Malam karya Jamal D. Rahman adalah sebuah kajian sastra yang tidak biasa. Ia bukan sekadar analisis teks, melainkan perjalanan spiritual untuk memahami bagaimana religiositas dan spiritualitas hidup dalam puisi esai saya.
Penulisnya, Jamal D. Rahman, adalah kritikus sastra yang memilih jalan reflektif. Ia tidak membaca puisi dari jarak akademik yang dingin, tetapi dari kedalaman pengalaman batin. Ia membaca puisi seperti seseorang membaca dirinya sendiri.
Puisi esai adalah genre yang saya rintis sebagai upaya membawa puisi kembali ke tengah kehidupan. Ia menggabungkan narasi puitik dengan fakta sosial dan sejarah. Ia bukan hanya menyentuh rasa, tetapi juga menggugah kesadaran.
Dalam buku ini, fokusnya adalah satu buku puisi esai saya saja: antologi Jiwa yang Berzikir (2018), yang berisi 30 puisi esai berbasis refleksi atas 30 juz Al-Qur’an.
Saya dibaca bukan hanya sebagai penulis, tetapi sebagai seorang manusia yang mencoba memahami luka sosial melalui bahasa puisi.
-000-
Merenungkan buku Jamal D. Rahman ini, saya teringat satu momen yang tak pernah benar-benar pergi dari ingatan saya.
Saya pernah duduk diam membaca laporan tentang tragedi kemanusiaan. Nama-nama korban berderet seperti angka. Tidak ada wajah. Tidak ada suara. Hanya statistik.
Namun ketika saya menulisnya menjadi puisi, sesuatu berubah. Luka itu tidak lagi jauh. Ia menjadi dekat. Ia menjadi hidup. Ia bahkan terasa seperti luka saya sendiri.
Di situlah saya mulai memahami sesuatu yang sederhana tetapi dalam. Bahwa Tuhan tidak selalu datang melalui ayat yang dihafal.
Kadang Ia datang melalui rasa yang tak tertahankan.
Dan mungkin, puisi adalah cara manusia menjaga agar luka itu tidak menjadi sia-sia.
-000-
Merenungkan buku Jamal D. Rahman lebih jauh, terasa tiga hal istimewa yang membuatnya berbeda dari kritik sastra yang biasa.
Pertama, pendekatan kritik sastra personal dan reflektif.
Buku ini menolak kritik sastra sebagai aktivitas dingin. Jamal D. Rahman mengikuti jejak Harold Bloom dalam melihat kritik sebagai tindakan personal yang radikal. Ia tidak berdiri di luar teks, tetapi masuk ke dalamnya, bahkan larut di dalamnya.
Di sini, membaca puisi bukan lagi sekadar memahami struktur atau tema. Membaca puisi menjadi dialog batin, pengalaman eksistensial, bahkan ziarah spiritual.
Kritikus tidak lagi sekadar pengamat. Ia menjadi peziarah.
Ia membawa luka pribadinya, kegelisahan zamannya, dan pencariannya akan makna ke dalam pembacaan.
Pendekatan ini membuat buku ini hidup. Ia tidak menggurui, tetapi mengajak. Ia tidak memberi jawaban final, tetapi membuka ruang pertanyaan.
Dan dalam dunia yang semakin mekanis, pendekatan ini menjadi penting. Karena manusia tidak hanya butuh pengetahuan. Ia butuh makna.
-000-
Kedua, sintesis besar: Bloom, Mangun, Kunto.
Keistimewaan kedua adalah keberhasilan buku ini menyatukan tiga dunia.
Harold Bloom berbicara tentang jiwa yang menyendiri. Mangunwijaya berbicara tentang iman yang membumi. Kuntowijoyo berbicara tentang sastra sebagai misi kenabian.
Dan buku ini menyatukan semuanya.
Hasilnya adalah satu gagasan besar bahwa sastra adalah ruang pertemuan antara jiwa, Tuhan, dan masyarakat.
Dalam sintesis ini, religiositas tidak kaku, spiritualitas tidak liar, dan sastra tidak kosong.
Semua berpadu dalam satu kesadaran bahwa manusia adalah makhluk yang berpikir, merasa, dan mencari.
Inilah kontribusi besar buku ini. Ia tidak hanya membaca puisi. Ia membangun kerangka baru untuk memahami manusia.
-000-
Ketiga, membaca puisi esai secara sistematis.
Buku ini juga kuat secara metodologi. Ia tidak berhenti pada refleksi, tetapi juga melakukan pemetaan yang sistematis.
Sebanyak 30 puisi esai dalam Jiwa yang Berzikir diklasifikasikan menjadi religius, spiritual, dan religius spiritual.
Distribusinya bahkan dihitung secara jelas. Sebagian besar berada pada wilayah pertemuan antara iman dan pengalaman batin.
Pendekatan ini penting. Karena ia menunjukkan bahwa puisi esai bukan sekadar emosi, tetapi juga struktur yang bisa dipahami.
Namun yang lebih penting adalah makna di baliknya. Bahwa manusia modern tidak cukup hanya beragama, dan tidak cukup hanya spiritual.
Ia membutuhkan keduanya. Dan puisi esai menjadi ruang di mana keduanya bertemu.
Dalam setiap puisi yang dianalisisnya, Jamal menunjukkan bagaimana ayat, sejarah, dan air mata berkelindan; Tuhan tak hadir sebagai konsep abstrak, melainkan sebagai getaran batin yang menuntun manusia bertahan.
-000-
Membaca religiositas yang tersimpan dalam luka sosial, saya teringat The Varieties of Religious Experience, karya William James, Longmans, Green & Co, 1902.
William James meletakkan fondasi modern memahami spiritualitas sebagai pengalaman personal. Ia menolak melihat agama hanya sebagai institusi.
Ia menekankan bahwa inti agama adalah pengalaman batin individu, momen ketika manusia merasa bersentuhan dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya.
Ia mengkaji berbagai bentuk pengalaman religius, dari konversi hingga penderitaan.
Yang paling relevan dengan buku ini adalah gagasannya bahwa spiritualitas sering lahir dari krisis, dari luka, dari kehampaan.
Dalam konteks puisi esai yang saya tulis, teori ini menjelaskan mengapa Tuhan muncul dalam tragedi manusia, bukan hanya dalam ritual.
William James memberi dasar bahwa pengalaman religius tidak selalu rasional, tetapi sangat nyata bagi yang mengalaminya.
-000-
Dalam The Perennial Philosophy, Aldous Huxley, Harper & Brothers, 1945, juga menjelaskan dengan nada yang sama.
Huxley memperkenalkan gagasan bahwa semua agama memiliki inti spiritual yang sama.
Ia menunjukkan bahwa di balik perbedaan ritual dan doktrin, terdapat satu pengalaman universal, yaitu hubungan manusia dengan Yang Transenden.
Ia mengutip berbagai tradisi untuk menunjukkan kesatuan itu.
Relevansinya dengan buku ini sangat kuat, karena puisi esai yang saya tulis sering menampilkan tokoh lintas agama sebagai representasi nilai spiritual universal.
Dalam pembacaan Jamal D. Rahman, ini menjadi jelas bahwa spiritualitas tidak eksklusif.
Ia adalah bahasa universal manusia. Dan karena itu, Tuhan dapat ditemukan di mana saja, termasuk dalam luka sosial.
-000-
Saya juga teringat buku serupa.
Poetry and the Religious Imagination, Malcolm Guite, Routledge, 2017.
Buku ini membahas bagaimana puisi menjadi medium pengalaman religius. Guite menunjukkan bahwa puisi mampu menangkap dimensi spiritual yang tidak bisa dijelaskan oleh teologi formal.
Ia membaca puisi sebagai doa yang tersembunyi.
Dibandingkan dengan buku Jamal D. Rahman, pendekatan Guite lebih fokus pada estetika puisi dan tradisi Barat.
Sementara Mutiara di Langit Malam lebih berani. Ia membawa puisi ke tengah realitas sosial yang keras.
Jika Guite menemukan Tuhan dalam keindahan bahasa, Jamal menemukan Tuhan dalam luka manusia.
Buku lain yang relevan adalah Theopoetics, Stanley Hopper, Fortress Press, 1971.
Buku ini mengembangkan gagasan bahwa bahasa puitik adalah cara baru berbicara tentang Tuhan.
Hopper menolak bahasa teologi yang kaku dan menggantinya dengan simbol dan pengalaman.
Ia melihat bahwa Tuhan lebih bisa dirasakan daripada dijelaskan. Dalam hal ini, buku Jamal D. Rahman sejalan. Namun ia melangkah lebih jauh.
Ia tidak hanya menggunakan puisi sebagai bahasa Tuhan, tetapi juga sebagai cara membaca penderitaan sosial.
Jika Hopper berhenti di bahasa, Jamal melangkah ke realitas.
-000-
Buku Jamal D. Rahman mengajarkan satu hal yang sederhana, tetapi mengguncang. Bahwa Tuhan tidak selalu hadir di tempat yang kita kira suci.
Ia juga hadir pada tubuh yang terluka, pada air mata yang jatuh, pada manusia yang tetap memilih mencintai.
Dan mungkin, justru di sanalah Tuhan terasa paling nyata.
Karena pada akhirnya, Tuhan tidak hanya ditemukan dalam kitab suci, tetapi dalam keberanian manusia untuk tetap menjadi manusia, bahkan ketika dunia berhenti menjadi manusiawi.
Dan buku ini bukan sekadar kritik sastra, melainkan undangan terbuka bagi pembaca untuk menemukan kembali kemanusiaannya di tengah puing tragedi, ketika puisi dan doa melebur menjadi satu tarikan napas."
Jakarta, 13 April 2026
REFERENSI
1. The Varieties of Religious Experience, William James, Longmans, Green & Co, 1902
2. The Perennial Philosophy, Aldous Huxley, Harper & Brothers, 1945
-000-
Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA's World
https://www.facebook.com/share/17FpBNfx3B/?mibextid=wwXIfr

