Type Here to Get Search Results !

Jurnalis Sastrawi Tambah Usia

oleh ReO Fiksiwan 

“Aku adalah bukit yang sangat tua… akar-akar panjang menahanku, seperti tangan-tangan para leluhur yang menjaga dunia tetap seimbang.” — Satrio Arismunandar(65), Tanda Cinta bagi Korban Bencana Sumatera(2025).

Hari ini, 11 April 2026, menandai ulang tahun ke-65 Dr. Ir. Satrio Arismunandar, seorang tokoh yang perjalanan hidupnya merefleksikan konsistensi dalam memperjuangkan kebebasan berpikir, integritas jurnalisme, dan pengembangan ilmu pengetahuan. 

Lahir di Semarang pada 11 April 1961, ia menempuh pendidikan di SMA Negeri 14 Jakarta Timur sebelum melanjutkan ke Jurusan Elektro Fakultas Teknik Universitas Indonesia dan lulus pada 1989. 

Ia kemudian meraih gelar Magister Sains di bidang Pengkajian Ketahanan Nasional UI pada tahun 2000 dengan tesis tentang peran pers mahasiswa dalam gerakan 1998, serta memiliki gelar MBA. 

Sejak masa kuliah, ia aktif di berbagai organisasi mahasiswa, mulai dari Badan Perwakilan Mahasiswa FTUI, Ikatan Mahasiswa Elektro, pencinta alam Kamuka Parwata FTUI, Resimen Mahasiswa UI, Warta UI, ISAFIS, hingga kepengurusan Masjid Arief Rachman Hakim UI.

Kariernya dimulai sebagai aktivis gerakan mahasiswa yang menentang represi rezim Orde Baru, terutama melalui peran pentingnya dalam mendirikan Aliansi Jurnalis Independen(AJI) pada 1994, sebuah tonggak bersejarah dalam perjuangan kebebasan pers di Indonesia. 

Setelah itu, ia beralih ke dunia akademik dan sejak 2013 menjadi staf pengajar di Kwik Kian Gie School of Business, Jakarta, mengajar penulisan media modern serta mengoordinasi penerbitan majalah ilmiah populer. 

Ia juga aktif menulis di blog pribadi dan berbagai media, memperlihatkan komitmen yang tak pernah surut terhadap dunia pengetahuan dan kebebasan berekspresi. 

Saat ini, ia menjabat sebagai Sekretaris Jenderal organisasi penulis Satupena mendampingi Denny Januar Ali untuk periode 2021–2026, memperkuat peranannya dalam membangun ekosistem literasi dan penulisan di Indonesia.

Perayaan ulang tahun ke-65 ini bukan sekadar penanda usia, melainkan simbol perjalanan panjang seorang intelektual yang tetap setia pada idealisme, keberanian, dan tanggung jawab sosial. 

Satrio Arismunandar adalah contoh nyata bagaimana seorang individu dapat mengabdikan hidupnya untuk memperjuangkan nilai-nilai demokrasi, kebebasan, dan pendidikan, menjadikan hari ini bukan hanya perayaan pribadi, tetapi juga penghormatan atas kontribusi besar yang telah ia berikan bagi masyarakat dan bangsa.

Analisis atas perjalanan ini dapat dikaitkan dengan gagasan dalam buku The Elements of Journalism karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel yang pertama kali terbit pada tahun 2001 dan direvisi hingga edisi keempat pada 2021. 

Buku tersebut merumuskan sembilan prinsip dasar jurnalisme yang menekankan kewajiban pertama kepada kebenaran, loyalitas kepada warga negara, disiplin verifikasi, independensi dari objek liputan, peran sebagai pemantau kekuasaan, forum publik untuk kritik dan kompromi, serta menjaga proporsionalitas dan komprehensivitas. 

Prinsip-prinsip ini sejalan dengan kiprah Satrio yang sejak awal menekankan integritas jurnalisme sebagai bagian dari perjuangan demokrasi.

Selain itu, refleksi Sartre dalam Les Mots yang terbit pada 1964 melalui Gallimard juga relevan. Sartre membagi pengalaman literernya ke dalam dua bagian, Lire (membaca) dan Écrire (menulis). 

Membaca baginya adalah proses eksistensial untuk memahami diri dan dunia, sementara menulis adalah tindakan kreatif yang mengafirmasi eksistensi, menguji kebebasan, dan menegaskan tanggung jawab moral seorang intelektual. 

Hakikat membaca dan menulis yang digambarkan Sartre memperlihatkan bagaimana kata-kata membentuk identitas dan panggilan hidup, sesuatu yang juga tercermin dalam perjalanan Satrio sebagai akademisi, jurnalis, dan penulis.

Dengan demikian, perayaan ulang tahun ke-65 Satrio Arismunandar dapat dipandang bukan hanya sebagai momentum pribadi, tetapi juga sebagai refleksi atas nilai-nilai fundamental jurnalisme dan literasi yang ia perjuangkan, sejalan dengan prinsip-prinsip yang dirumuskan Kovach dan Rosenstiel serta refleksi eksistensialis Sartre tentang membaca dan menulis.

Sementara, dalam Menulis di Era AI: Tantangan dan Harapan Kreator(2024) — Satria ikut menulis — menjadi salah satu karya penting yang menggabungkan refleksi filosofis dengan pengalaman praktis.

Ditegaskan bahwa di tengah derasnya arus digital, menulis tetap merupakan tindakan eksistensial yang menuntut kejujuran, keberanian, dan komitmen terhadap kebenaran.

Dalam buku tersebut, ia dijutip: “menulis di era AI bukan lagi sekadar menyusun kata, melainkan dialog antara manusia dan mesin, di mana nurani tetap harus menjadi penentu arah.” 

Hal ini menunjukkan pandangannya bahwa teknologi kecerdasan buatan dapat membantu proses kreatif, tetapi tidak boleh menggantikan tanggung jawab moral dan kejujuran seorang penulis.

Selain itu, lagi ia mengulas, “Kreator AI hanyalah alat, bukan pengganti jiwa. Kata-kata tetap harus lahir dari kesadaran manusia, agar tidak kehilangan makna.” 

Pandangan ini sejalan dengan kiprahnya, kini sebagai Sekjen Satupena, yang mendorong para penulis untuk memanfaatkan teknologi tanpa meninggalkan integritas literasi.

#coverlagu:

Lagu “Terus Berkarya”(feat. Nelly) adalah karya terbaru dari Cakra Khan yang dirilis pada tahun 2026. 

Cakra Khan saat ini berusia 34 tahun, lahir pada 27 Februari 1992 di Pangandaran, Jawa Barat. 

Lagu ini membawa pesan motivasi untuk terus berkarya, berkreasi, dan tidak berhenti menghadapi tantangan zaman.

#credit foto dicopas dari Denny JA di WAG Satupena.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.