Type Here to Get Search Results !

Suara yang Tertinggal di Perantauan

Oleh: Ririe Aiko

‎Penulis

_‎(Puisi esai ini merupakan dramatisasi dari fenomena social fatigue di kalangan generasi milenial dan Gen Z, yang kerap muncul saat momen berkumpul bersama keluarga pada perayaan Lebaran.) (1)_

‎---ooo---

‎Setiap tahun jutaan orang pulang.

‎Kereta penuh, terminal riuh,

‎jalan tol memanjang

‎menelan ribuan kendaraan.

‎lebih dari seratus juta manusia

‎bergerak menuju kampung halaman

‎setiap Lebaran tiba.

‎Tetapi angka tak pernah menghitung

‎berapa banyak hati

‎yang sebenarnya tak ingin pulang

‎---ooo---

‎Di sebuah kamar kos yang sempit 

‎Faiz memandangi kalender.

‎Lingkar merah di tanggal Lebaran

‎terlihat seperti tanda tanya

‎yang menempel di dadanya.

‎Di grup keluarga

‎pesan-pesan berdatangan.

_‎“Kapan berangkat?”_

_‎“Tiketnya sudah beli?”_

_‎“Jangan lupa bawa oleh-oleh.”_

‎Kalimat itu terdengar biasa,

‎tetapi bagi Faiz

‎ia seperti gema yang berulang

‎di ruang kepala yang melelahkan

‎Sebab ia tahu

‎mudik bukan hanya tentang pulang.

‎Mudik adalah

‎pertanyaan yang sama (2)

‎yang akan dihidangkan di meja makan.

_‎“Kapan nikah?”_

‎_‎“Sudah punya apa sekarang?”_

‎_‎“Gajinya berapa?”_

‎Pertanyaan-pertanyaan itu

‎datang seperti gerimis

‎pelan-pelan merusak atap kesabaran 

‎yang ia bangun sendiri 

‎Tak ada yang tahu

‎bagaimana ia bertahan

‎menukar hari-harinya

‎dengan semangkuk mie instan

‎yang dihemat sepanjang bulan.

‎Tak ada yang tahu

‎betapa letih tubuhnya

‎duduk berjam-jam di meja kerja,

‎dengan lembur tanpa bayaran.

‎‎Tak ada yang peduli semua itu

‎Orang-orang lebih tertarik

‎pada angka pencapaian 

‎daripada proses perjalanan.

‎Lebih ingin tahu hasil

‎daripada perih yang dihasil.

‎---ooo---

‎Kampung halaman 

‎kadang bukan hanya tempat

‎yang penuh pelukan.

‎Kadang ia menjadi panggung kecil

‎di mana hidup seseorang

‎dibandingkan.

‎Di meja makan Lebaran

‎terhidang daftar prestasi panjang

‎nama-nama kerabat

‎mereka dielu-elukan seperti raja,

‎karena bertahta tinggi

‎dimahkotai kekayaan.

‎Dan Faiz

‎merasa seperti catatan kaki

‎yang tertinggal dihalaman belakang 

‎Tak pernah benar-benar dibaca

‎---ooo---

‎Di luar jendela

‎lampu kota masih menyala.

‎Bus-bus malam berangkat penuh.

‎Stasiun dipadati koper

‎dan wajah-wajah yang bersemangat untuk

pulang.

Tapi tak semua rumah menjadi tempat aman

‎Kadang ia menumbuhkan luka lebih dalam

---ooo---

‎Faiz pun menutup layar ponselnya.

‎‎Ia tidak membeli tiket.

‎Bukan karena ia lupa jalan pulang.

‎Namun ia terlalu lelah

‎untuk menjelaskan tentang dirinya

‎tentang hidup

‎yang masih berjalan di tempat.

‎Ia tak punya jawaban

‎mengapa kerja kerasnya

‎belum juga berbuah hasil.

‎Sepuluh tahun di perantauan,

‎waktu hanya ditukar dengan harapan kosong

‎Maka malam itu

‎ia memilih tinggal.

‎Ia lebih memilih sunyi

‎yang tidak menghakimi.

‎CATATAN:

‎(1)https://www.infodesanews.com/muncul-fenomena-malas-mudik-demi-jaga-kesehatan-mental-begini-trik-menghadapi-interogasi-lebaran-tanpa-drama/

‎(2)https://www.unisayogya.ac.id/mudik-lebaran-momen-bahagia-atau-tantangan-psikologis/

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.