![]() |
Oleh: Zulnaidi SH Bagindo Sailan
Gema takbir hari ini masih menyisakan getaran di dada. Umat Muslim di seluruh dunia baru saja melintasi gerbang kemenangan Idulfitri setelah sebulan penuh menempa diri di "madrasah" Ramadan. Namun, perayaan ini sejatinya bukan sekadar ritual baju baru atau kemeriahan hidangan; ia adalah momentum sakral untuk pulang ke titik nol—kembali ke jati diri yang murni.
Kembali ke Kesucian dan Al-Hanif
Secara etimologis, para ahli tafsir menjelaskan bahwa Idulfitri berarti kembali berbuka atau kembali ke asal kejadian. Syekh Mutawalli ash-Sha’rawi menekankan bahwa Idulfitri adalah simbol kembalinya manusia pada kemurnian setelah noda dosa "dibakar" habis oleh ibadah Ramadan. Kita tidak sedang merayakan kemenangan atas rasa lapar, melainkan kemenangan jiwa yang berhasil menundukkan ego jasmani.
Dalam kajian mendalam, fitrah manusia digambarkan sebagai sosok yang Hanif. Merujuk pada konsep Millah Ibrahim, Hanif adalah kecenderungan alami jiwa untuk mencari kebenaran dan menolak kepalsuan. Kita terlahir dengan "kompas" batin yang selalu mengarah pada cahaya Tuhan. Maka, kembali ke jati diri berarti mengikis karat keduniawian yang selama ini menutupi kejernihan hati.
Namun, menjadi Hanif bukan sekadar konsep filosofis. Hakikat makhluk yang Hanif adalah ketaatan mutlak kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan inilah yang menjadi jangkar agar manusia tidak limbung diterpa arus zaman. Syariat hadir bukan untuk membelenggu, melainkan sebagai protokol bagi jiwa agar tetap berada di orbit keselamatannya.
Ummatan Wahidah: Kekuatan dalam Shaf
Idulfitri juga menjadi momentum besar untuk kembali pada risalah nubuwah: "Alaikum bil jama’ah" (hendaklah kalian berjamaah). Idulfitri adalah sebuah show of force sebagai Ummatan Wahidah (umat yang satu). Saat jutaan manusia bersujud di waktu yang sama, sekat-sekat kelas sosial menguap. Refleksi ini seharusnya menyadarkan kita bahwa kekuatan Islam bukan sekadar pada jumlahnya, melainkan pada kerapian shafnya. Persatuan bukanlah pilihan, melainkan mandat Ilahi.
Meruntuhkan Sekat Semu
Tetap dalam jamaah adalah perintah (QS Almaidah 103 & 105), namun tidak ada perintah untuk fanatik pada sekat firqah (golongan, organisasi, maupun batas negara). Sudah saatnya kita meruntuhkan tembok yang selama ini memenjarakan ukhuwwah. Fanatisme buta terhadap mazhab hingga sentimen kelompok sering kali menjadi "berhala baru" yang memicu perpecahan.
Ukhuwwah Islamiyah harus melampaui batas geografis dan ego kelompok. Kita adalah satu tubuh; jika satu bagian terluka, bagian lain semestinya merasakan lara. Di tengah euforia kemenangan ini, kita diingatkan oleh potret perlawanan di berbagai belahan dunia Islam—seperti keteguhan Iran dalam menjaga kedaulatan melawan hegemoni penindasan. Terlepas dari dinamika politiknya, kegigihan tersebut adalah refleksi tentang harga diri seorang Muslim yang tidak mudah tunduk pada kezaliman.
Penutup
Kembali ke jati diri berarti berani menjadi pribadi yang Hanif, taat, dan bersatu. Mari jadikan Idulfitri tahun ini sebagai momentum untuk menghapus garis pemisah di antara kita, demi tegaknya martabat umat yang satu di bawah naungan rida-Nya.
------------------------------
Penulis adalah Ketua Bidang Politik dan Hubungan Lembaga PD Perti Sumbar (2025-2030)

