![]() |
Beberapa tahun lalu saya pernah diajak bermain teater di Taman Ismail Marzuki. Judulnya Toean Besar, ditulis dan disutradarai oleh Agus Noor, bersama Butet Kartaredjasa. Di panggung itu, humor dan sindiran berjalan beriringan. Ada kelakar sunyi ala Cak Lontong, celoteh lugas Marwoto, dan celetukan lepas Inayah Wahid. Saya sendiri hanya remah-remah di panggung itu. Semuanya terasa akrab, seolah kita sedang bercermin tanpa sadar.
Ceritanya sederhana. Di sebuah istana yang tak disebutkan namanya, beredar kabar bahwa “Toean Besar” akan datang. Sosok ini misterius. Ada yang bilang ia sangat kaya dan hendak menyelamatkan negeri. Ada pula yang membayangkannya gagah, tampan, bertubuh besar. Seolah ukuran fisik dan jumlah harta dapat menjamin kebijaksanaan.
Kabar itu membuat orang-orang berubah. Cara berjalan diatur ulang. Nada suara ditinggikan atau direndahkan sesuai kepentingan. Ada yang mendadak ramah pada musuh lamanya. Ada yang menyamar dan mengaku sebagai Toean Besar. Identitas menjadi kostum. Kesetiaan menjelma properti panggung.
Saya masih ingat suasana belakang panggung malam itu: lampu redup, bau debu tirai, dan bisik-bisik para aktor yang bersiap. Di sana saya belajar bahwa kekuasaan sering kali bukan soal jabatan, melainkan soal imajinasi. Ketika seseorang percaya dirinya besar, ia akan menuntut dunia mengecil agar sesuai dengan perannya.
Hari ini, di dunia nyata, kita melihat banyak “Toean Besar” lahir di berbagai bidang. Sebagian mungkin mengalami post-power syndrome. Bayang-bayang masa lalu yang tak rela pergi, sehingga harga diri ditopang cerita lama. Sebagian lain mengidap sindrom merasa kekuasaannya begitu besar hingga aturan hanyalah dekorasi. Ada pula yang terjebak dalam god complex, meyakini dirinya pusat kebenaran, tak tersentuh kritik.
Sebagai seorang mind programmer, saya sering melihat bahwa semua itu sebenarnya berakar dari satu tempat yang sunyi, pikiran. Kekuasaan bukan pertama-tama soal jabatan, melainkan soal narasi batin. Ketika seseorang terus-menerus memprogram dirinya sebagai pusat, sebagai yang paling tahu, sebagai yang paling berjasa, maka perlahan ia membangun istananya sendiri di dalam kepala. Dari sanalah lahir kebutuhan untuk dihormati, untuk ditakuti, untuk selalu dianggap benar. Dunia luar hanya mengikuti skenario yang sudah ditulis di dalam dirinya.
Ciri-cirinya mudah dikenali. Selalu ingin dihormati, bahkan sebelum dihargai. Intimidasi menjadi bahasa sehari-hari. Kritik dianggap serangan. Mereka lupa bahwa jabatan hanyalah kursi kayu; ia bisa diduduki siapa saja, dan suatu hari akan ditinggalkan.
Mungkin ini juga warisan panjang dari struktur kolonial dan budaya priyayi. Sebuah hierarki yang menempatkan sebagian orang sebagai “tuan” dan lainnya sebagai “kacung”. Dalam bayang-bayang sejarah itu, kita masih terpesona pada gelar dan protokol, seolah kewibawaan bisa diwariskan lewat silsilah atau papan nama.
Padahal, di atas panggung kehidupan, semua orang pada akhirnya hanyalah aktor dengan waktu terbatas. Lampu akan padam. Tirai akan turun. Yang tersisa bukan seberapa sering kita dipanggil “Toean”, melainkan seberapa manusia kita memperlakukan sesama.
Mungkin pertanyaannya sederhana: ketika tak ada yang melihat, masihkah kita membutuhkan gelar untuk merasa berharga?
Jangan-jangan, yang benar-benar besar adalah mereka yang tak pernah merasa perlu menjadi Toean Besar. Mereka yang tak menganggap orang lain lebih rendah. Karena di dunia yang sunyi ini, kita semua hanyalah pejalan. Kita mencari arti, bukan mencari pangkat atau jabatan. Sebab sebelum seseorang menjadi “Toean” bagi orang lain, ia telah lebih dulu menjadi “Toean” bagi pikirannya sendiri. *(Dwi Sutarjantono, penulis/Mind Programmer)*

