![]() |
Oleh : Ririe Aiko
Founder Gerakan Literasi AI
Setiap karya besar selalu dimulai dari langkah kecil. Begitu pula dengan antologi cerpen Baroedak Al Lathif yang saat ini siap untuk launching. Cerpen-cerpen di dalam buku ini mungkin menjadi langkah awal anak-anak dalam dunia kepenulisan. Masih sederhana dalam penyampaian, masih belajar dalam merangkai kata, dan masih mencari warna khasnya masing-masing. Namun justru di situlah letak keindahannya: kejujuran, keberanian, dan ketulusan yang tumbuh dari proses belajar.
Sebagai pendidik sekaligus Founder Gerakan Literasi AI, saya, Ririe Aiko, merasakan kebanggaan yang begitu besar ketika melihat anak-anak kembali akrab dengan dunia menulis. Di tengah derasnya arus digital dan distraksi yang seolah tak ada habisnya, menyaksikan mereka duduk, berpikir, berimajinasi, lalu menuangkannya dalam bentuk cerita adalah sebuah harapan yang menyala.
Gerakan Literasi AI lahir dari kegelisahan sederhana yang saya rasakan: ketika anak-anak generasi Alpha semakin dekat dengan layar, tetapi perlahan menjauh dari kebiasaan membaca dan menulis. Dari pengalaman itulah langkah kecil ini dimulai, mengajak mereka berdialog, bermain kata, dan menemukan kembali kesenangan dalam bercerita. Tujuan Gerakan Literasi AI adalah senantiasa menumbuhkan kembali kecintaan anak-anak generasi Alpha terhadap dunia literasi, agar mereka tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta gagasan.
Gerakan Literasi AI hadir bukan untuk menggantikan kreativitas anak-anak, tetapi untuk membangkitkannya. Teknologi seharusnya menjadi jembatan, bukan penghalang. Melalui pendampingan, diskusi, dan proses kreatif yang menyenangkan, anak-anak belajar bahwa menulis bukan sekadar tugas sekolah, melainkan ruang untuk menyuarakan gagasan, menyimpan nilai, dan menumbuhkan empati.
Cerpen-cerpen dalam buku ini lahir dari pengalaman, pengamatan, serta imajinasi mereka tentang persahabatan, toleransi, kebaikan, keluarga, dan makna Ramadhan. Tema-tema yang mungkin terlihat sederhana, tetapi sesungguhnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dari situlah karakter terbentuk. Dari situ juga literasi menjadi hidup dan bermakna bagi mereka.
Peluncuran perdana buku ini menjadi wujud nyata dari mimpi yang diperjuangkan bersama, bahwa anak-anak mampu berkarya, bahwa keberanian menulis layak dirayakan, dan bahwa literasi bukan sekadar slogan, melainkan gerakan yang tumbuh dari ruang-ruang kelas dan hati yang percaya.
Ketika anak-anak diberi ruang untuk berkarya, mereka menemukan kepercayaan diri. Ketika tulisan mereka dihargai, mereka belajar menghargai proses. Dan ketika dibimbing dengan sabar, mereka tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kaya rasa dan nilai.
Antologi ini bukanlah akhir, melainkan awal perjalanan panjang. Langkah kecil hari ini diharapkan menjadi pijakan untuk karya-karya berikutnya yang lebih matang, lebih berani, dan lebih berdampak.
Semangat literasi anak-anak kita masih hidup dan akan terus tumbuh selama ada ruang, dukungan, dan keyakinan bahwa setiap anak memiliki cerita yang layak didengar.
Bagi rekan-rekan yang ingin mendukung karya anak-anak silahkan melakukan pemesanan di link berikut
https://s.id/bookmts

