Type Here to Get Search Results !

Nuzulul Quran di Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al Minangkawi: Membumikan Al-Quran Melangitkan Doa

Peringatan Nuzulul Quran di Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi.

Padang, -- Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Barat, Minggu malam (8/2) menyelenggarakan peringatan Nuzul Quran di Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi, dengan thema “Membumikan Al-Qur’an Melangitkan Do’a , Berkah Untuk Negeri”,. Tampil sebagai penceramah Prof. DR. H. Shobhan Lubis, MA, Guru Besar UIN Imam Bonjol Padang.

Dalam paparan ceramahnya Prof. Dr. Shobhan Lubis mengemukakan, bahwa nilai-nilai Al-Quran harus dihidupkan dalam tindakan nyata kehidupan, agar kesempurnaan ajarannya benar-benar terasa manfaat dan hikmahnya. Tanpa pengalaman, wahyu hanya akan menjadi bacaan yang indah di lisan, tapi kehilangan daya transformasi dalam membentuk masyarakat yang adil, beradab di bawah naungan nilai-nilai ketuhanan yang luhur.

"Ayat yang turun di Arafah itu sesungguhnya menegaskan, bahwa wahyu telah mencapai titik final penyempurnaannya. Namun kesempurnaan wahyu tidak serta-merta menjadikan kehidupan manusia otomatis ideal. Wahyu memerlukan kesadaran umat untuk mengamalkannya dalam realitas kehidupan," katanya.

Menurut Shobhan, nilai-nilai Al-Quran harus dihidupkan dalam tindakan nyata agar kesempurnaan ajaran benar-benar terasa manfaatnya. Tanpa pengamalan, wahyu hanya akan menjadi bacaan yang indah di lisan, tetapi kehilangan daya transformasi dalam membentuk masyarakat yang adil, beradab, dan sejahtera di bawah naungan nilai-nilai ketuhanan yang luhur. 

"Kesadaran akan tanggung jawab tersebut membawa kita kepada pemahaman mendalam, bahwa kesempurnaan agama menuntut kesungguhan umat dalam menghidupkan ajarannya. Islam tidak menghendaki pemeluk yang pasif, melainkan pribadi dan masyarakat yang aktif menegakkan nilai-nilai ilahi dalam kehidupan nyata. Wahyu harus diterjemahkan menjadi etika kerja, kejujuran dalam amanah," kata dia.

Dengan demikian, kesempurnaan risalah untuk membumikan Al-Quran tidak berhenti sebagai catatan sejarah, tetapi berlanjut sebagai energi moral yang menggerakkan peradaban manusia menuju kemajuan yang selaras dengan kehendak Allah.

Membumikan Al-Qur’an berarti menjadikannya pedoman dalam bekerja, memimpin, melayani masyarakat, serta mengambil kebijakan publik yang adil dan amanah. Nilai kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian sosial yang diajarkan wahyu menjadi prinsip etika dalam menjalankan tugas kehidupan. 

Pada saat yang sama, umat melangitkan doa-doa mereka dengan penuh keyakinan kepada Allah, memohon pertolongan dan keberkahan agar setiap usaha memperoleh ridha serta bimbingan-Nya. 

Apabila Al-Qur’an dibumikan dalam amal nyata dan doa-doa dilangitkan dengan keyakinan yang tulus, maka keberkahan akan turun bagi kehidupan berbangsa dan negara. Keberkahan tersebut hadir dalam bentuk kedamaian sosial, keadilan hukum, kesejahteraan ekonomi, serta persatuan masyarakat yang kokoh.

Negeri yang menjadikan wahyu sebagai pedoman akan memperoleh kekuatan moral dalam menghadapi tantangan zaman dan kemajuan peradaban. Dengan demikian, Nuzulul Qur’an mengajarkan bahwa kesempurnaan wahyu harus diiringi kesungguhan amal, sehingga langit meridhai, bumi menguatkan, dan negeri dipenuhi keberkahan Ilahi sepanjang masa.

Dalam ceramahnya Shobhan menutup dengan sebuah pantun "rendang terhidang di hari bahagia, duduk basamo dalam jamuan. Nuzulul Qur’an menguatkan jiwa, menjadi cahaya sepanjang zaman. Dari Payakumbuh menuju Pariaman, 

Singgah berdoa di Masjid tua. Membumikan Qur’an dalam amalan, Melangitkan doa penuh takwa.

Gubernur Sumbar H. Mahyeldi Ansharullah dalam sambutannya mengajak segenap jemaah dan warga Sumbar, untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum memperkuat komitmen, memperbanyak membaca dan memahami Al-Qu’an, mengamalkan nilai-nilai dalam kehidupan, memperkuat persatuan umat serta meningkatkan kepedulian sosial terhadap sesama.

"Semoga dengan kita membumikan Al-Quran dalam artian membaca memahami, mendalami Al-Qur’an serta mentadabburkan, serta melangitkan doa sesuai dengan tema peringatan Nuzul Qur’an. Allah akan menurunkan rahmat dan keberkahan bagi kita semua di Sumatera Barat dan negara Indonesia yang kita cintai ini dan terjauh dari mara bencana," katanya.

Gubernur Sumbar juga mengajak semua jamaah dan warga, untuk menjadikan peringatan Nuzulul Qur’an sebagai momentum memperkuat iman, memperbaiki diri, serta membangun negeri yang lebih maju, religius dan bermartabat.

Di akhir ceramahnya, Gubernur Mahyeldi juga menyampaikan pantun: pergi ke pasar beli sajadah, sajadah biru dari Mekkah, tadarus Al-Quran sungguhlah indah, Ramadhan 1447 penuh keberkahan. Ke Gua Hirak jalan mendaki, tempat Rasulullah menerima wahyu, bacalah Al-Qur’an setiap hari, agar hati lagi kayu.

Peringatan Nuzulul Quran itu dihadiri ribuan jemaah masjid terdiri dari para ASN dari berbagai instansi, para siswa-siswi sekolah, pegawai BUMN dan BUMD, kalangan jemaah lainnya. Sebelum ceramah peringatan Nuzul Quran, terlebih dulu Shalat Isya dan dilanjutkan denga Shalat Tarawih dan Witir berjamaah. Akhir Shalat Witir, imam membaca doa qunut untuk keselamatan negeri ini. 

Laporan: Asfar Tanjung

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.