Type Here to Get Search Results !

MENTALITAS DETOK DIGITALISASI: Ancaman Sunyi bagi Pembangunan Bangsa

Oleh: Duski Samad

Pengasuh Suraudigital tuankuprofessor.com

Diskusi lintas generasi pagi ini antara pejabat yang bekerja di zaman orde baru dan zaman reformasi konklusinya ternyata era digital ini lebih ganas, luas dan menyeluruh kerusakan khususnya korupsi.

Era digitalisasi ini manfaatnya kalah dari dampak buruk bagi hampir semua lapis generasi. Tidak saja anak muda yang terpapar detok (penyakit) digital, tetapi generasi tuapun tak luput dari dijakiti virus digital.

Di tengah gegap gempita digitalisasi, kita sering terpesona oleh kemajuan teknologi: kecerdasan buatan, media sosial, dan konektivitas tanpa batas. Namun di balik itu, tersembunyi satu krisis yang jarang disadari—krisis mentalitas.

Digitalisasi tidak hanya mengubah cara manusia bekerja dan berkomunikasi, tetapi juga membentuk cara berpikir, merespons, dan mengambil keputusan. Di sinilah muncul fenomena yang dapat disebut sebagai mentalitas detok digitalisasi—yakni kondisi rapuhnya karakter manusia akibat arus informasi yang tak terkendali.

Fenomena ini bukan sekadar gejala individual, tetapi telah menjadi masalah kultural yang berdampak langsung terhadap masa depan pembangunan bangsa.

Dari Etos Kerja ke Budaya Instan

Salah satu ciri paling mencolok dari mentalitas digital hari ini adalah melemahnya etos kerja. Budaya instan yang diproduksi oleh media sosial membentuk pola pikir serba cepat: ingin hasil tanpa proses, ingin popularitas tanpa kualitas.

Padahal, Islam telah meletakkan kerja sebagai bagian dari iman. Allah SWT berfirman: “Dan katakanlah: bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu...” (QS. At-Taubah: 105)

Ayat ini menegaskan bahwa kerja bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi tanggung jawab moral dan spiritual. Namun dalam realitas digital, kerja seringkali tergantikan oleh konsumsi konten, bukan produksi nilai.

Mentalitas Pragmatis dan Mudah Dibeli

Digitalisasi juga melahirkan manusia yang mudah diiming-imingi. Viralitas menjadi ukuran kebenaran, keuntungan cepat mengalahkan integritas.

Fenomena ini mengingatkan kita pada kritik klasik Koentjaraningrat tentang mentalitas pembangunan bangsa Indonesia: kecenderungan mencari jalan pintas, orientasi jangka pendek, dan lemahnya tanggung jawab.

Hari ini, kritik itu menemukan bentuk barunya:

manusia digital yang mudah “dibeli” oleh opini, algoritma, dan kepentingan.

Masyarakat Reaktif, Bukan Reflektif

Salah satu dampak paling serius dari arus digital adalah lahirnya masyarakat yang mudah tersulut konflik. Informasi yang tidak diverifikasi langsung memicu emosi.

Al-Qur’an telah mengingatkan: “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti (tabayyun)...” (QS. Al-Hujurat: 6)

Namun realitasnya, ruang digital justru dipenuhi oleh:

hoaks, framing, provokasi, dan adu domba.

Akibatnya, masyarakat kehilangan daya refleksi dan terjebak dalam reaksi emosional.

Dari Subjek Menjadi Objek

Lebih jauh lagi, digitalisasi melahirkan apa yang dapat disebut sebagai mental agent—manusia yang tidak lagi menjadi subjek, tetapi objek.

Ia: mengikuti tanpa berpikir,

menyebarkan tanpa memahami, membela tanpa prinsip.

Dalam kondisi ini, manusia kehilangan otonomi moralnya. Ia menjadi perpanjangan dari kepentingan yang bahkan tidak ia sadari.

Koentjaraningrat dan Relevansi Kekinian

Jauh sebelum era digital, Koentjaraningrat telah mengingatkan bahwa hambatan pembangunan Indonesia bukan hanya soal ekonomi atau politik, tetapi mentalitas budaya.

Ciri-ciri mentalitas penghambat pembangunan yang ia sebutkan—seperti kurang disiplin, orientasi jangka pendek, dan kecenderungan instan—hari ini justru diperkuat oleh teknologi digital.

Digitalisasi tidak menghapus kelemahan itu.

Ia justru mempercepat dan memperluasnya.

Puasa dan Rekonstruksi Mentalitas

Di sinilah relevansi ibadah puasa menjadi sangat penting. Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi latihan pengendalian diri.

Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)

Puasa adalah proses detoksifikasi spiritual—membersihkan jiwa dari:

keserakahan,

emosi berlebihan,

dan ketergantungan duniawi.

Jika digitalisasi menciptakan mentalitas detok, maka puasa adalah antitesisnya: rekonstruksi karakter.

Membangun Kembali Mentalitas Bangsa

Pembangunan bangsa tidak cukup dengan infrastruktur fisik. Ia membutuhkan infrastruktur mental.

Beberapa langkah strategis yang perlu dilakukan:

1. Revitalisasi Etos Kerja Profetik

Kerja harus dikembalikan sebagai ibadah, bukan sekadar alat mencari keuntungan.

2. Literasi Digital Berbasis Etika

Masyarakat harus dilatih untuk: berpikir kritis, memverifikasi informasi,

bertanggung jawab secara moral.

3. Penguatan Nilai Adat dan Agama

Falsafah Minangkabau: Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah

harus menjadi fondasi etika digital.

4. Penguatan Spiritualitas

Tanpa dimensi ruhani, teknologi hanya akan melahirkan manusia cerdas, tetapi rapuh secara moral.

Penutup: 

Ancaman yang Tak Terlihat

Mentalitas detok digitalisasi adalah ancaman sunyi. Ia tidak menghancurkan secara fisik, tetapi menggerogoti dari dalam.

Bangsa bisa memiliki teknologi canggih, tetapi jika mentalitasnya rapuh, maka pembangunan akan kehilangan arah.

Sebaliknya, bangsa dengan mentalitas kuat—etos kerja tinggi, integritas kokoh, dan spiritualitas dalam—akan mampu menjadikan teknologi sebagai alat kemajuan, bukan sumber kehancuran.

Di sinilah tugas kita hari ini:

membangun manusia, sebelum membangun peradaban.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.