Type Here to Get Search Results !

Aprinaldi: Pilwana Adalah Ruang Masyarakat Menentukan Pemimpin Sesuai Aspirasi

Aprinaldi 

PADANG PARIAMAN — Tahun 2026 diproyeksikan menjadi musim demokrasi bagi masyarakat nagari di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Pemerintah daerah setempat memastikan Pemilihan Walinagari (Pilwana) serentak akan digelar di 74 nagari. Sebuah agenda politik lokal yang tak hanya menentukan pemimpin, tetapi juga menguji daya tahan persaudaraan sosial Minangkabau di tengah perbedaan pilihan.

Ketua DPRD Padang Pariaman, Aprinaldi, menilai Pilwana serentak merupakan komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat tata kelola nagari yang demokratis, transparan, dan partisipatif. Namun ia mengingatkan, selepas seluruh tahapan Pilwana, masyarakat akan berhadapan dengan realitas klasik demokrasi, yakni perbedaan pilihan politik yang tak terhindarkan.

"Pilwana adalah ruang masyarakat menentukan pemimpin sesuai aspirasi. Tapi perbedaan pilihan tidak boleh memecah hubungan badunsanak,” ujar Aprinaldi seusai penutupan Safari Ramadan di Masjid Nurul Ikhlas, Kecamatan V Koto Timur, Jumat (27/2/2026).

Di Padang Pariaman, sebut Aprinaldi, nagari bukan sekadar unit administratif, melainkan ruang sosial yang ditautkan oleh kekerabatan adat dan ikatan suku. Karena itu, Pilwana kerap membawa dinamika emosional lebih dalam dibanding pemilu formal. 

Pertarungan kandidat dapat merembes ke relasi keluarga, surau, hingga lapau, ruang-ruang percakapan publik yang menjadi jantung demokrasi lokal.

Aprinaldi menegaskan, pemilihan walinagari harus dipahami sebagai ajang mencari pemimpin terbaik, bukan arena polarisasi. Ia menyerukan kedewasaan politik, dialog, dan penghormatan terhadap pilihan individu sebagai fondasi menjaga harmoni nagari.

“Kemenangan dan kekalahan harus diterima dengan kedewasaan, diimbangi rasa persaudaraan yang kuat,” katanya.

Ia menempatkan tokoh masyarakat, niniak mamak, alim ulama, dan cadiak pandai sebagai penjaga keseimbangan sosial pasca kontestasi. Mereka diharapkan menjadi teladan yang merangkul seluruh warga tanpa memandang afiliasi politik.

Ajakan itu berkelindan dengan falsafah Minangkabau duduak samo randah, tagak samo tinggi, semua duduk setara, berdiri sama tinggi yang menempatkan musyawarah dan mufakat di atas konflik terbuka. 

Dalam konteks Pilwana, falsafah itu akan diuji, apakah demokrasi elektoral dapat berjalan seiring dengan demokrasi adat yang menjunjung persaudaraan.

Ia menyebutkan, tahapan Pilwana sudah dimulai. Pengumuman pendaftaran bakal calon walinagari berlangsung 23 Februari–3 Maret 2026, diikuti masa pendaftaran 4–12 Maret 2026. Pemungutan dan penghitungan suara dijadwalkan pada 27 Juni 2026 di seluruh nagari peserta.

Bagi Padang Pariaman, sebut Aprinaldi, Pilwana serentak bukan sekadar kalender politik lokal. Ia menjadi cermin bagaimana masyarakat adat menegosiasikan modernitas demokrasi dengan nilai badunsanak yang diwariskan turun-temurun. 

Jika berhasil, nagari akan memperoleh bukan hanya pemimpin baru, tetapi juga solidaritas yang diperbarui modal sosial terpenting bagi pembangunan daerah.

“Dengan semangat persatuan dan persaudaraan, masyarakat dapat tetap damai dan sejahtera meski berbeda pilihan,” tandasnya mengakhiri.

Aprinaldi. Di tengah hiruk pikuk kontestasi, pesan itu terdengar sederhana, namun justru di situlah masa depan nagari dipertaruhkan, musyawarah dan mufakat tetap di atas konflik terbuka. (*)

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.