![]() |
Oleh: Firdaus Djafri
Relawan WAMY / Dosen Sosiologi UNU Sumbar / Wkl Ketua PW DMI Sumbar
Buka puasa bersama warga di tengah suasana pascabencana bukan sekadar agenda keagamaan rutin.
Ia adalah simbol kebangkitan sosial—tanda bahwa masyarakat mulai bergerak dari fase keterkejutan menuju fase pemulihan dan rekonstruksi kehidupan bersama.
Sebagai relawan yang terlibat langsung di tengah masyarakat, saya menyaksikan bagaimana kebersamaan saat berbuka menghadirkan energi baru. Di atas sajadah yang digelar sederhana, anak-anak, orang tua, dan para relawan duduk sejajar tanpa sekat. Tidak ada perbedaan status sosial; yang ada hanyalah rasa syukur karena masih diberi kesempatan untuk berkumpul dan berbagi.
Dalam perspektif sosiologi, momen seperti ini mencerminkan solidaritas sosial sebagaimana dikemukakan oleh Émile Durkheim. Masyarakat bertahan bukan semata karena kekuatan individu, tetapi karena adanya kesadaran kolektif yang mengikat mereka dalam nilai dan tujuan bersama.
Bencana memang merusak bangunan fisik, tetapi sering kali justru memperkuat ikatan sosial.
Ketika warga berkumpul untuk berbuka, mereka tidak hanya mengisi perut setelah seharian berpuasa, tetapi juga mengisi kembali ruang-ruang batin yang sempat kosong oleh rasa takut dan kehilangan.
Konsep modal sosial yang dipopulerkan oleh Robert D. Putnam menjelaskan bahwa jaringan, kepercayaan, dan partisipasi sosial merupakan faktor penting dalam mempercepat pemulihan komunitas.
Buka puasa bersama mempertemukan kembali warga yang mungkin sebelumnya terpencar, membangun kembali rasa percaya, serta menumbuhkan optimisme kolektif.
Secara psikososial, bencana meninggalkan luka yang tidak selalu terlihat. Namun kegiatan komunal seperti buka puasa bersama berfungsi sebagai ruang penyembuhan sosial. Ia menjadi terapi kolektif—menguatkan, menenangkan, sekaligus memulihkan rasa memiliki terhadap komunitas.
Ketahanan sosial tidak lahir dari kemewahan fasilitas, melainkan dari kemampuan masyarakat menjaga nilai kebersamaan. Ketika warga masih bisa duduk bersama, berbagi makanan, dan tertawa di tengah keterbatasan, itu pertanda bahwa daya lenting sosial mereka tetap hidup.
Sebagai relawan dan akademisi sosiologi, saya meyakini bahwa kebangkitan sejati dimulai dari ruang-ruang sosial seperti ini. Karena pada akhirnya, masyarakat tidak hanya dibangun oleh beton dan semen, tetapi oleh rasa peduli dan persaudaraan.
Dari kebersamaan itulah, kebangkitan dimulai.

