![]() |
Oleh: Duski Samad
STP@series59.31032026.
Tulisan ini hadir dari percakapan dengan perantau pulang kampung yang menyaksikan pergeseran adat, budaya dan kepatutan sosial anak nagari di tengah kegaduhan digital saat ini.
Seorang pimpinan daerah yang sedang menjalani amanah dan sebelumnya besar di rantau curhat sama penulis, mengapa anak nagari, tidak yang muda, juga yang tua, miskin raso pareso, indak ba malu, krisis moral dan lemahnya kepemimpin di tingkat nagari?
Tentu tidak selesai dengan kritik, curhat dan mengeluh, yang diperlukan solusi cerdas dan segera di mengambil langkah strategis untuk kembali ke pangkal, sasek di ujung jalan baliak ka pangka jalan.
Namun, di tengah berbagai kegelisahan tentang perubahan perilaku generasi muda hari ini, patut disyukuri mulai tumbuhnya kesadaran bersama di Sumatera Barat bahwa menjaga anak nagari bukan hanya tugas orang tua, tetapi tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Pemerintah daerah, ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai, guru, serta tokoh masyarakat mulai bergerak bersama melakukan pembinaan, penertiban, dan edukasi agar marwah nagari Minangkabau tidak ternodai oleh perilaku yang bertentangan dengan nilai adat dan agama.
Kesadaran ini sesungguhnya bukan hal baru. Ia adalah kearifan lama Minangkabau yang pernah menjadi kekuatan utama masyarakatnya. Dalam sistem sosial Minangkabau, pendidikan tidak pernah diserahkan hanya kepada keluarga inti, tetapi menjadi tanggung jawab sosial kolektif. Karena itu lahir petatah adat:
Anak dipangku kamanakan dibimbiang, urang kampuang dipatenggangkan.
Maknanya jelas: anak dijaga dalam keluarga, kemenakan dibimbing oleh mamak, dan masyarakat kampung ikut bertanggung jawab menjaga moral generasi. Inilah konsep pendidikan berbasis masyarakat (community based education) yang jauh sebelum dikenal dalam teori pendidikan modern sudah hidup dalam tradisi Minangkabau.
Namun hari ini tantangan yang dihadapi generasi muda jauh berbeda. Anak-anak Minangkabau tidak lagi hanya bergaul dalam batas nagari, tetapi hidup dalam dunia tanpa batas melalui media sosial. Informasi masuk tanpa filter. Nilai datang tanpa seleksi. Gaya hidup ditiru tanpa proses pendewasaan.
Dalam kajian sosiologi modern, kondisi ini disebut sebagai melemahnya kontrol sosial tradisional akibat perubahan struktur masyarakat dan perkembangan teknologi. Dahulu kontrol sosial berjalan alami melalui struktur adat dan lingkungan sosial yang kuat. Hari ini kontrol itu mulai longgar karena pengaruh individualisme dan dunia digital.
Padahal adat Minangkabau telah lama mengingatkan pentingnya pengawasan moral kolektif melalui petatah:
Kamanakan barajo ka mamak, mamak barajo ka penghulu, penghulu barajo ka mufakat, mufakat barajo ka nan bana.
Ini bukan sekadar struktur kepemimpinan adat, tetapi sistem pembinaan sosial. Artinya, generasi tidak dibiarkan tumbuh tanpa arah, tetapi berada dalam sistem nilai yang jelas.
Dalam perspektif sosiologi Minangkabau, kekuatan masyarakat tradisional sebenarnya terletak pada apa yang disebut kohesi sosial (social cohesion), yaitu kuatnya ikatan nilai bersama yang membuat masyarakat mampu menjaga dirinya sendiri. Ketika kohesi sosial kuat, penyimpangan perilaku dapat dicegah bukan hanya oleh hukum, tetapi oleh rasa malu dan tanggung jawab sosial.
Karena itu dalam budaya Minangkabau dikenal nilai:
Malau jo sopan,
raso jo pareso.
Malu menjadi benteng moral. Raso jo pareso menjadi kompas sosial.
Ketika dua nilai ini melemah, maka yang muncul adalah sikap individualistik dan lunturnya kepedulian sosial.
Inilah sebabnya upaya pembinaan generasi hari ini harus dilakukan secara bersama. Rumah harus kembali menjadi madrasah pertama. Sekolah harus menjadi pusat pembentukan karakter, bukan sekadar tempat transfer ilmu. Nagari harus kembali berfungsi sebagai lingkungan sosial yang mendidik.
Dalam tradisi Minangkabau, pendidikan sebenarnya berlangsung dalam tiga ruang utama:
Rumah gadang membentuk akhlak,
surau membentuk iman,
nagari membentuk tanggung jawab sosial.
Jika tiga ini berjalan, maka lahirlah generasi yang kuat.
Adat Minangkabau juga mengingatkan pentingnya kebersamaan dalam menjaga nagari melalui petatah:
Barek samo dipikua,
ringan samo dijinjiang.
Masalah generasi bukan masalah keluarga saja. Ini masalah nagari. Karena itu penyelesaiannya harus melalui kebersamaan.
Langkah pemerintah daerah yang melibatkan seluruh unsur masyarakat sesungguhnya sudah berada pada jalur yang tepat. Karena hanya dengan pendekatan kolaboratif, pembinaan generasi bisa berhasil.
Dalam kajian sosiologi pembangunan, pendekatan seperti ini disebut:
collaborative social responsibility, Tanggung jawab sosial bersama.
Pemerintah membuat kebijakan. Sekolah membangun karakter. Orang tua menanamkan nilai. Ninik mamak menjaga adat. Ulama memberi arah spiritual. Masyarakat menciptakan lingkungan sehat.
Inilah sistem pendidikan Minangkabau yang sebenarnya.
Apa yang sedang dilakukan hari ini pada hakikatnya adalah investasi peradaban. Generasi muda bukan hanya pewaris keluarga, tetapi pewaris adat, pewaris budaya, dan pewaris masa depan nagari. Karena itu adat telah lama mengingatkan:
Patah tumbuah hilang baganti.
Yang tua akan pergi. Yang muda akan mengganti.
Tetapi pertanyaan pentingnya: apakah generasi pengganti sudah disiapkan?
Di sinilah pentingnya pembinaan hari ini. Karena masa depan nagari ditentukan oleh kualitas generasi mudanya.
Minangkabau juga memberi pesan penting:
Tagak nagari dek anak mudo, hancua nagari dek anak mudo. Jika generasi kuat, nagari kuat. Jika generasi lemah, nagari ikut lemah.
Karena itu menjaga generasi bukan sekadar program sosial. Ia adalah strategi menjaga marwah Minangkabau sebagai peradaban yang berlandaskan: Adat basandi syarak,
syarak basandi Kitabullah.
Jika adat dijaga, agama diperkuat, dan generasi dibimbing bersama, maka Minangkabau akan tetap berdiri sebagai masyarakat yang kuat identitasnya, kokoh nilai agamanya, dan mulia karakter generasinya.
Semoga ikhtiar bersama pemerintah daerah, ninik mamak, orang tua, tokoh agama, pendidik, dan seluruh masyarakat menjadi jalan lahirnya generasi Minangkabau yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak; tidak hanya modern, tetapi juga berakar; tidak hanya maju, tetapi juga bermartabat.
Karena sesungguhnya:
Rusak anak nagari, rusak masa depan nagari.
Baik anak nagari, baik masa depan nagari.
Semoga Sumatera Barat tetap menjadi negeri yang kuat adatnya, kokoh agamanya, dan mulia generasinya. Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.ds.

