![]() |
Oleh Anto Narasoma
PEMBANGUNAN rumah di pedesaan selalu dibangun atas dasar tradisi budaya yang memiliki corak khas di lingkungan sekitarnya.
Yang pasti, bentuk dan corak rumah dibangun dengan mempertimbangkan kebiasaan masyarakat setempat
Paling tidak, bahan-bahan yang diperlukan untuk membangun tempat tinggal mereka, disesuaikan dengan kebiasaan sehari-hari, dan dilengkapi dengan ketersediaan hasil alam di sekitarnya.
Biasanya, ketika rumah tradisi itu didirikan, struktur bangunannya disesuaikan dengan situasi dan kondisi alam sekitarnya.
Tak hanya bahan bangunan yang menjadi pertimbangan dn masukan-masukan dari para sesepuh, cerdik pandai kampung, dan perangkat adat setempat.
Ada beberapa bagian strategi untuk membangun corak dan bentuk rumah tersebut. Seperti bahan-bahan yang ada, bisa menggunakan kayu, bambu, bahkan ada yang membuat dinding dari tanah liat.
Itu dilakukan sesuai ketersediaan bahan bangunan di wilayahnya. Biasanya, membangun rumah tinggal di satu daerah, mencerminkan nilai-nilai tradisi dan budaya gotong-royong antarsesama warga.
Bahkan kaum wanita pun tak kalah sibuknya ketika rumah tempat tinggal mereka dibangun.
Apakah kaum wanita ikut menggotong bahan bangunan dan turut mendirikan kayu-kayu yang bakal ditegakkan? Tentu saja tidak !
Posisi wanita saat itu secara bergotong-royong --memasak dan menyediakan makan minum bagi kaum lelaki yang sibuk membangun rumah tersebut.
Skema yang diterapkan dalam tiap perhitungan sebagai konsep pembangunan rumah tersebut, biasanya perlu mempertinbangkan arah mata angin.
Bagi kebanyakan masyarakat, arah mata angin merupakan simbol keberuntungan sesuai dengan mitos lokal (tradisi).
Lantas dari sisi bentuk dan corak bangunan, rumah tradisional seringkali memiliki ciri atap yang curam, tiang-tiang kayu dan ruang luas dan terbuka seperti rumah limas, misalnya, itu karena mengikuti cuaca, situasi alam di sekitar, bahkan terlihat sangat estetis.
Selain bentuknya sangat indah dan bernilai seni, tapi fungsi sosialnya menjadi pertimbangan yang esensial.
Di Sumatera Selatan, terutama di Palembang, alamnya terdiri dari sembilan sungai. Bahkan air sungai seringkali pasang surut.
Karena itu tiang rumahnya dipasang tinggi, sehingga ketika air sungai sedang pasang, kondisinya tidak membasahi penghuni rumah. Makanya rumah limas dibangun dalam bentuk panggung dengan kayu-kayu tahan lapuk, terdiri dari kayu _unglen_ atau kayu ulin dan tembesu.
Rumah limas merupakan rumah tradisional di Sumatera Selatan, khususnya bagi warga Palembang.
Atap rumwh limas bercorak limasan dengan struktur lantai bertingkat (kekijing), disesuaikan dengan strata sosial masyarakatnya.
Lantas, mengapa rumah limas dibangun dengan corak panggung dan lantai _bekijing_?
Dari struktur yang ada, desain rumah limas diadaptasi dari suasana lingkungan rawa atau genangan air sungai yang mengitari wilayah tersebut.
Dan, rumah limas Palembang terdiri dari dua corak, yakni rumah limas _bekijing_ dan limas gudang. Apa perbedaan dari dua corak tersebut?
Rumah limas _bekijing_ lantainya tinggi-rendah, sedangkan rumah limas panggung lantainya datar dari dalam hingga ke luar.
Rumah limas memiliki nilai filosofi mendalam dengan ornamen unik dan sangat menarik. Rumah limas Palembang pernah diabadikan dalam pecahan uang Rp 10 ribuan.
Karakteristik rumah limas memiliki struktur panggung yang dibangun setinggi 1,5 hingga dua meter. Dengan corak ketinggian semacam itu untuk menghindari genangan banjir, dengan pondasi kayu _unglen_ (ulin), kayu seru, dan tembesu.
Sedangkan rumah limas _kekijing_ merupakan lantai berundak (tinggi rendah) untuk masyarakat umum, kaum bangsawan, atau tetua adat.
Artinya, lantai terendah untuk masyarakat umum, sedangkan lantai tinggi diprioritaskan bagi kaum bangsawan dan tetua adat.
Sedangkan atap dan ornamen rumah limas dilengkapi hiasan simbar dan tanduk kerbau.
Secara filosofis, rumah limas dibangun selalu menghadap ke arah timur atau matahari terbit (_*matoari edop*_). Ini melambangkan awal kehidupan. Sedangkan ke arah barat merupakan ruang matahari tenggelam (_*matoari mati*_) melambangkan akhir kehidupan.
Uniknya, rumah limas tidak menggunakan paku. Dinding dan tiangnya dipasang melalui konstruksi tradisional yang mrnggunakan pasak dan ikatan kayu.
Satu contoh rumah limas tertua ada di Museum Balaputra Dewa Palembang. (*)
Palembang, 6 Februari 2026
Dari berbagai sumber

