Type Here to Get Search Results !

Lahirnya Kembali Generasi Pecinta Literasi di Era Digital

Oleh: Ririe Aiko

Founder Gerakan Literasi AI

Pertengahan tahun 2024 menjadi awal perjuangan saya dalam menumbuhkan kembali kecintaan literasi pada anak-anak Generasi Alpha.

Di sebuah ruang kelas sederhana, saya berhadapan dengan mereka yang lahir dan tumbuh bersama layar sentuh, notifikasi, dan algoritma. Mereka begitu lincah memainkan gawai. Namun ketika diminta membuka buku lebih dari lima menit, kebosanan segera terlihat di wajah mereka.

Sebagai Founder Gerakan Literasi AI, saya terbiasa berbicara tentang pentingnya membaca. Namun di hadapan mereka, saya belajar satu hal penting: teori saja tidak cukup untuk membuat anak-anak memahami manfaat literasi. Dunia mereka berbeda, maka cara mendekatinya pun harus berbeda.

Awalnya tidak mudah. Beberapa anak menunduk bosan ketika saya membagikan buku. Sebagian lainnya bahkan bertanya polos,

“Bu, ini ada versi videonya?”

Pertanyaan sederhana itu justru menyiratkan jurang kebiasaan yang cukup lebar antara generasi saya dan mereka.

Namun saya percaya satu hal: tidak ada anak yang benar-benar tidak suka membaca. Yang ada hanyalah mereka belum menemukan pintu masuknya.

Kami pun memulai dengan cara yang lebih lentur. Saya meminta mereka menulis tentang hal-hal yang paling dekat dengan kehidupan mereka—tentang permainan favorit, tentang persahabatan, bahkan tentang konflik kecil dengan orang tua. Saya tidak menuntut tata bahasa yang sempurna. Saya hanya meminta kejujuran.

Perlahan, suasana ruang kelas mulai berubah. Anak-anak yang tadinya pasif mulai berebut membacakan tulisannya. Ada yang menulis tentang keseharian mereka. Ada yang bercerita tentang pengalaman jalan-jalan bersama keluarga. Ada pula yang menuliskan mimpi-mimpi sederhana yang selama ini hanya mereka simpan dalam hati.

Ternyata mereka memiliki begitu banyak cerita. Hanya saja selama ini cerita-cerita itu lebih sering mengendap di balik layar.

Semua dimulai dari metode free writing. Saya meminta mereka menulis apa pun yang ingin mereka ungkapkan. Dari tulisan-tulisan kecil itu, perlahan tumbuh narasi sederhana yang menarik. Hingga akhirnya lahirlah sebuah karya: antologi cerpen Baroedak Al Lathif MTs, kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh tangan-tangan muda yang sebelumnya bahkan ragu untuk memulai.

Prosesnya tidak singkat. Ada naskah yang harus direvisi berkali-kali. Ada anak yang hampir menyerah karena merasa tulisannya buruk. Di situlah saya kembali belajar tentang kesabaran. Bahwa menumbuhkan cinta tidak bisa dipaksa. Ia harus dirawat, seperti benih yang disiram sedikit demi sedikit.

Hingga akhirnya, lahirlah buku antologi cerpen karya siswa MTs Al Lathif.

Buku itu sederhana. Sampulnya tidak mewah. Isinya pun jauh dari kata sempurna. Namun di setiap halamannya tersimpan jejak keberanian anak-anak yang dulu ragu memegang pena, kini berani menuliskan dunia mereka sendiri.

Buku itu bukan sekadar kumpulan cerita. Ia adalah bukti bahwa ketekunan dan kerja yang konsisten tidak pernah mengkhianati hasil. Bahwa di tengah arus digitalisasi yang begitu deras, masih ada ruang bagi buku untuk hidup—asal kita mau menemukan cara untuk membuatnya tetap relevan.

Ketika melihat mereka memegang buku karya sendiri, saya menyaksikan kebanggaan yang begitu jujur di mata anak-anak itu. Bukan karena buku mereka akan menjadi best seller. Bukan pula karena akan viral di media sosial. Tetapi karena mereka berhasil menaklukkan ketidakpercayaan diri mereka sendiri.

Generasi Alpha sering dicap terlalu dekat dengan layar. Namun pengalaman ini mengajarkan saya satu hal penting: teknologi bukanlah musuh. Ia hanyalah lingkungan tempat anak-anak tumbuh hari ini. Tugas kitalah menemukan jembatan agar mereka tetap bisa mencintai literasi di tengah dunia digital.

Perjalanan ini tentu belum selesai. Namun buku sederhana itu telah menjadi penanda: ketika pendekatan yang tepat bertemu dengan kesabaran, tidak ada yang mustahil.

Bahkan di era serba cepat ini, cinta pada membaca masih bisa tumbuh, perlahan, namun pasti.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.