![]() |
Oleh: Prof. Dr. H. Sobhan Lubis, M.A
(GB Fakultas Syari’ah UIN IB Padang)
I‘tikaf bukan sekadar berdiam diri di masjid, melainkan perjalanan ruhani untuk mendekat sepenuh hati kepada Allah. Di dalam keheningan malam, seorang hamba memisahkan diri dari hiruk pikuk dunia demi meraih ketenangan yang hakiki. Ketenteraman itulah yang dalam ajaran Islam disebut sebagai as-salām, keselamatan lahir dan batin yang bersumber dari Tuhan. I‘tikaf mendidik jiwa agar hening dari kegelisahan, bersih dari dorongan hawa nafsu, serta terarah hanya kepada ibadah. Dalam suasana seperti itu, hati menjadi lebih peka menerima cahaya petunjuk dan kedamaian yang selama ini sulit dirasakan.
Sepuluh hari terakhir Ramadan adalah fase istimewa yang dipenuhi limpahan rahmat dan peluang ampunan. Pada rentang waktu inilah Rasulullah mencontohkan kesungguhan ibadah dengan senantiasa beri‘tikaf tanpa pernah meninggalkannya. Teladan tersebut menunjukkan bahwa momentum akhir Ramadan bukanlah waktu untuk berkurang semangat, melainkan saat meningkatkan kualitas kedekatan kepada Allah. Kesungguhan beliau menjadi isyarat bahwa terdapat rahasia agung yang tersimpan pada malam-malam penghujung Ramadan. Umat Islam diajak menapaki jejak keteladanan itu agar memperoleh kemuliaan spiritual yang tidak dapat diraih pada waktu-waktu biasa.
I‘tikaf di sepuluh malam terakhir Ramadan memiliki dimensi pencarian yang mendalam. Seorang mukmin tidak hanya berdiam, tetapi menanti turunnya keberkahan yang dijanjikan Allah pada malam kemuliaan. Malam tersebut dikenal sebagai Lailatul Qadar, saat nilai ibadah melampaui seribu bulan. Kesadaran akan kemuliaan ini melahirkan semangat ibadah yang penuh harap dan cemas. Harap akan rahmat Ilahi dan cemas jika terluput dari kesempatan agung itu. Perpaduan rasa tersebut menghidupkan hati, menjadikannya tunduk, khusyuk, serta dipenuhi kerinduan untuk meraih ridha Allah melalui ibadah yang tulus.
Kemuliaan Lailatul Qadar dan limpahan keselamatan yang menyertainya ditegaskan secara langsung dalam firman Allah pada Surah Al-Qadar ayat 3 sampai 5 (3) Lailatul-qadri khairum min alfi syahr (4) Tanażżalul-malā’ikatu war-rūḥu fīhā bi idzni rabbihim min kulli amr (5) Salāmun hiya ḥattā maṭla‘il-fajr). Allah menyatakan bahwa malam itu lebih baik daripada seribu bulan, para malaikat dan Ruh turun dengan izin Tuhan membawa segala ketetapan, serta malam tersebut penuh keselamatan hingga terbit fajar. Penegasan nash ini menunjukkan bahwa Lailatul Qadar bukan sekadar malam yang mulia, melainkan momentum turunnya rahmat dan kedamaian Ilahi secara sempurna. Keselamatan yang Allah sebutkan menjadi inti keberkahan malam itu dan tujuan utama yang dicari oleh setiap mukmin.
Turunnya para malaikat pada malam kemuliaan menandakan limpahan rahmat, keberkahan, dan pengaturan urusan makhluk secara penuh hikmah. Kehadiran mereka bukan sekadar simbol kemuliaan, melainkan tanda bahwa langit dan bumi berada dalam suasana harmoni ilahiah. Dalam suasana demikian, jiwa orang beriman merasakan kelembutan batin, ketenangan mendalam, serta keyakinan bahwa Allah begitu dekat dengan hamba-hamba-Nya. Malam itu menghadirkan suasana spiritual yang sulit digambarkan oleh kata-kata. Hati yang sebelumnya gelisah berubah menjadi teduh, dipenuhi harapan, serta keyakinan akan kasih sayang Allah yang melimpah.
Ketika seorang mukmin menghidupkan malam-malam i‘tikaf dengan shalat, tilawah, dzikir, dan munajat, ia sedang mempersiapkan diri untuk menyambut limpahan keselamatan tersebut. Ibadah yang dilakukan dengan penuh keikhlasan menjadi jalan terbukanya pintu rahmat Ilahi. Hati yang sebelumnya disibukkan urusan dunia perlahan menjadi jernih, ringan, dan damai. Dalam keheningan i‘tikaf, seorang hamba merasakan bahwa keselamatan bukan sekadar harapan masa depan, tetapi pengalaman ruhani yang nyata. Ia merasakan ketenangan yang tidak dapat dibeli, kedamaian yang tidak bergantung pada keadaan, serta keyakinan yang menenteramkan.
As-salām yang dirasakan saat i‘tikaf merupakan anugerah besar bagi kehidupan seorang mukmin. Jiwa yang damai akan memancarkan sikap yang lembut, ucapan yang menyejukkan, serta perilaku yang menenangkan orang lain. Kedamaian batin melahirkan keteguhan dalam menghadapi ujian dan kesabaran dalam menjalani takdir. Orang yang hatinya dipenuhi keselamatan tidak mudah gelisah oleh persoalan duniawi. Ia yakin bahwa segala urusan berada dalam ketetapan Allah yang Maha Bijaksana. Inilah buah spiritual dari i‘tikaf yang dilakukan dengan penuh kesungguhan dan pengharapan.
I‘tikaf juga mendidik manusia untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Dalam kesunyian masjid, seseorang merenungi perjalanan hidup, menyesali kesalahan, serta bertekad memperbaiki masa depan. Proses muhasabah ini melahirkan penerimaan yang tulus terhadap ketentuan Allah. Hati tidak lagi dipenuhi penyesalan berlebihan atau kecemasan yang melelahkan. Sebaliknya, jiwa menjadi lapang karena menyadari bahwa setiap peristiwa mengandung hikmah. Kesadaran tersebut melahirkan ketenteraman mendalam yang menjadi bagian dari makna as-salām, yaitu keselamatan jiwa melalui kedekatan dengan Allah.
Momentum i‘tikaf seharusnya tidak dipandang sebagai ibadah tambahan yang berat, melainkan kesempatan emas yang sayang dilewatkan. Di saat manusia lain larut dalam kesibukan dunia, orang yang beri‘tikaf memilih mendekat kepada Tuhannya. Pilihan ini menunjukkan kerinduan akan keselamatan sejati yang tidak dapat diberikan oleh materi. Kesungguhan memanfaatkan sepuluh malam terakhir Ramadan menjadi bukti kecintaan seorang hamba kepada Allah. Dari masjid-masjid yang hening itulah lahir pribadi-pribadi yang damai jiwanya, kuat imannya, serta siap menebarkan kebaikan di tengah masyarakat.
Karena itu, i‘tikaf hendaknya dipahami sebagai perjalanan menuju keselamatan yang hakiki. Setiap mukmin memiliki peluang yang sama untuk meraih kemuliaan Lailatul Qadar dan merasakan limpahan as-salām yang dijanjikan Allah. Tidak diperlukan kemewahan atau kemampuan khusus, melainkan niat tulus dan kesediaan meluangkan waktu untuk beribadah. Siapa pun yang bersungguh-sungguh menghidupkan malam-malam terakhir Ramadan akan merasakan sentuhan kedamaian Ilahi. Dari pengalaman ruhani itu lahir pribadi yang lebih tenang, lebih sabar, serta lebih siap menjalani kehidupan dengan penuh keyakinan dan harapan. Itulah “As-Salam”. (Padang, 10 Maret 2026).

