![]() |
Oleh: Ririe Aiko
> “Generasi muda perlu mengambil bagian dalam menulis puisi esai, karena puisi esai bukan sekadar karya sastra, melainkan suara bagi isu sosial dan kemanusiaan yang tak boleh dibiarkan sunyi.”
Saya sering merasa gelisah ketika melihat bagaimana generasi muda hari ini menghabiskan waktunya. Bukan karena mereka terlalu lama menatap layar, tetapi karena apa yang mereka tonton. Video datang silih berganti cepat, ramai, sering kali anomali. Banyak yang lucu, banyak yang viral, tetapi sedikit yang benar-benar meninggalkan makna. Saya kerap merenung dan bertanya dalam hati: jika hari-hari mereka dipenuhi tontonan seperti ini, di mana empati akan tumbuh?
Saya tidak sedang menghakimi teknologi. Saya hidup di dalamnya. Saya bekerja dengannya. Namun justru karena itulah kegelisahan ini muncul. Ketika algoritma lebih sering menyodorkan sensasi ketimbang refleksi, generasi muda berisiko tumbuh menjadi penonton yang sibuk dengan dunianya sendiri individualis, cepat bereaksi, tetapi lambat merasa. Dan bagi saya, itu bukan persoalan sepele. Itu persoalan kemanusiaan.
Dari kegelisahan itulah puisi esai kembali saya pikirkan. Puisi esai hadir membawa isu sosial, luka kolektif, dan suara yang kerap disisihkan. Ia tidak netral, ia berpihak. Namun saya juga sadar, realitas telah berubah. Teks panjang semakin jarang dibaca. Cara generasi muda berinteraksi dengan karya sastra tidak lagi sama seperti dulu. Mereka hidup dalam visual, suara, dan pengalaman yang imersif. Jika puisi esai ingin tetap didengar, ia harus berani mencari bentuk baru, tanpa kehilangan isinya.
Di situlah video berbasis kecerdasan buatan (AI) menjadi pilihan, bukan sebagai gaya, tetapi sebagai jalan. Bagi saya, AI bukan pengganti rasa, melainkan alat untuk menyampaikan rasa dengan cara yang lebih dekat dengan generasi hari ini. Puisi tetap menjadi pusatnya. AI hanya membantu menghadirkannya dalam bahasa visual yang mereka pahami.
Sebagai kreator video AI, saya tidak memulai perjalanan ini dengan rencana besar. Prosesnya sering kali sunyi: berjam-jam menatap layar, menyusun visual, memilih suara, menjaga agar makna puisi tidak larut dalam estetika semata. Saya percaya, jika puisi esai diubah menjadi tontonan, maka ia harus tetap jujur, tidak kehilangan empati, dan tidak menjadi sekadar konten.
Hingga akhirnya saya berdiri di panggung Festival Puisi Esai ASEAN ke-5 di Sabah, ikut menyuarakan pentingnya puisi esai menjangkau generasi muda melalui video berbasis AI. Di ruang itu, saya tidak hanya berbicara tentang karya, tetapi tentang kegelisahan dan harapan, bahwa sastra masih memiliki peran di tengah perubahan zaman.
Di tempat yang sama, saya menyadari sesuatu yang penting: upaya kecil yang berangkat dari kegelisahan personal ternyata mampu memiliki gema yang lebih luas. Menjembatani sastra dan teknologi bukanlah tindakan menyimpang, melainkan bentuk tanggung jawab generasi dalam menjaga nilai-nilai kemanusiaan agar tetap hidup.
Di tengah banjir tontonan digital, puisi esai dalam bentuk video hadir sebagai jeda. Ia tidak berteriak, tetapi mengajak mendengar. Ia tidak mengejar viral, melainkan menumbuhkan empati. Ia mengingatkan bahwa di balik setiap layar, ada manusia lain dengan luka, cerita, dan hak untuk dipahami.

