![]() |
Oleh: Akaha Taufan Aminudin
Bagi banyak orang, menulis mungkin hanyalah aktivitas memindahkan isi kepala ke atas kertas. Namun, bagi saya, menulis adalah cara paling sunyi sekaligus paling lantang untuk mencintai dunia.
Ketika saya mendengar tema Festival Puisi Esai ke-3 tahun ini—“Cintai Bumi Kembali Setelah Sumatra Menangis”—ada sesuatu yang bergetar di dalam dada. Dari dinginnya udara Kota Batu, saya seolah bisa merasakan panasnya api dan perihnya asap yang menyelimuti saudara-saudara kita di Sumatra.
Kemenangan sebagai Juara Harapan 7 tingkat Nasional dari 1.212 karya bukanlah sekadar tentang piala atau piagam. Lebih dari itu, ini adalah validasi bahwa suara-suara kecil dari kaki gunung pun bisa menggema hingga ke panggung nasional jika disampaikan dengan kejujuran nurani.
*Mengapa Puisi Esai?*
Genre ini memberikan ruang yang unik bagi saya. Dalam puisi esai, kita tidak hanya bermain dengan metafora yang indah, tetapi juga berpijak pada fakta yang nyata. Melalui catatan kaki, saya bisa menunjukkan kepada pembaca bahwa "tangisan" bumi yang saya tulis bukanlah imajinasi belaka, melainkan realitas sejarah dan sosial yang sedang terjadi. Inilah yang disebut dengan sastra yang membumi; sastra yang tidak hanya melangit di awan khayal, tapi menjejak pada tanah yang kita pijak.
*Sebuah Tanggung Jawab Moral*
Prestasi ini membawa tanggung jawab baru. Ketika nama saya diumumkan di antara ribuan penulis hebat lainnya, saya menyadari bahwa kata-kata saya kini telah menjadi saksi.
Tanggung jawab saya bukan lagi hanya menulis tentang keindahan, tetapi juga tentang luka, tentang pemulihan, dan tentang harapan. Sumatra yang menangis adalah pengingat bahwa kita sering kali lupa bersyukur pada alam yang telah memberi segalanya.
Kemenangan ini saya persembahkan untuk Kota Batu, kota yang selalu memberikan ketenangan bagi pena saya untuk menari. Saya ingin mengajak rekan-rekan penulis dan pegiat literasi lainnya untuk tidak pernah berhenti bergerak. Kita harus percaya bahwa setiap kata yang kita tanam hari ini, suatu saat akan tumbuh menjadi pohon kesadaran yang meneduhkan bagi generasi mendatang.
*Penutup: Terus Melejit*
Ke depan, semangat "Kompak Kebersamaan" harus terus kita jaga. Dunia literasi Indonesia membutuhkan lebih banyak penulis yang berani menyuarakan kebenaran. Mari kita terus bergerak pesat, merawat ingatan, dan menjaga nurani. Sebab, selama pena masih digenggam dan nurani masih terjaga, harapan untuk bumi yang lebih baik tidak akan pernah padam.
*Teruslah berkarya, teruslah melejit!*
Rabu 11 Februari 2026
Akaha Taufan Aminudin
*Sisir Gemilang Kampung Baru Literasi SIKAB Himpunan Penulis Pengarang Penyair Nusantara HP3N Kota Batu Wisata Sastra Budaya SATUPENA JAWA TIMUR*

