![]() |
oleh Reiner Emyot Ointoe
„Kematian adalah pintu menuju kesempurnaan” dan juga menyebutnya sebagai “konsekuensi kehidupan.“ — Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab(81), Kematian Adalah Nikmat(2014).
Rizal Andi Petempoi telah mendahului kita, meninggalkan jejak kehidupan yang penuh makna.
Cucu dari Opa Guru Pedju dan wOma Lagona ini — dulu tinggal di rumah kampung Ipilo(kini, sederet dengan restoran Mawar Sharon) — baru saja menutup usia setelah masa pengabdiannya sebagai ASN di Dinas PUPR Provinsi Gorontalo.
, sebelum takdir membawanya pada ujung perjalanan akibat kanker tulang yang datang mendadak, sebagaimana dituturkan oleh sang kakak, Rein, pensiunan BNI.
Putra keempat dari mendiang Andi Petempoi dan ibu Ina Pedju(83), Rizal tumbuh dalam keluarga besar yang sarat dengan sejarah dan kontribusi bagi bangsa.
Ia adalah kakak dari Rein, Reza, dan Nona, serta abang dari Nicol Petempoi.
Dari garis keluarga, ia juga terkait erat dengan tokoh-tokoh yang pernah memberi warna dalam pembangunan negeri, seperti pamannya DR (HC) Ir. Ari Pedju MSc., alumni MIT Amerika dan pemilik PT Encona yang turut membangun Bandara Soekarno-Hatta serta kantor gubernur Sulut di era gubernur mendiang CJ. Rantung pada 1985-1995.
Sejak kecil, Rizal hidup di Manado dan tinggal di Wakeke, dulu jadi resto Mami Non Jl. Sarapung, sebelum bersama orang tuanya menetap di Jakarta.
Juga, tantenya, adik dari ibunya, Ans Arief Pedju(77) , istri dari mantan Dirut BRI, Drs. Kamardi Arief(91),alumni ekonomi UGM dan pamannya, alumni Fakultas Teknik Unsrat, Ir. M. Yamin Pedju MSc.
Ia meninggalkan seorang istri dan dua anak yang menjadi penerus kasih dan kenangan.
Sosoknya dikenal luwes bergaul, hangat dalam persaudaraan, dan baru-baru ini sempat hadir dalam WAG Persaudaraan Ipilo Tempo Doeloe, wadah nostalgia dan silaturahmi yang mempertemukan kembali sahabat-sahabat lama di kampung Ipilo, tempatnya Rizal semasa hidup bermukim hingga wafatnya kemarin jelang malam(9:2/26).
Kepergian Rizal mengingatkan kita pada refleksi para cendekiawan tentang hakikat kematian. Prof. Dr. Quraish Shihab pernah menuturkan bahwa kematian itu indah, sementara Prof. Dr. Komarudin Hidayat dalam Psikologi Kematian(2007) menekankan psikologi kematian sebagai jalan bagi yang ditinggalkan untuk menghayati dan menerima kehilangan.
Dalam perspektif itu, wafatnya Rizal bukan sekadar akhir, melainkan pintu menuju keabadian, dan bagi kita yang ditinggalkan, sebuah undangan untuk meresapi bahwa hidup adalah titipan, sementara kematian adalah kepulangan.
Semoga Rizal Andi Petempoi beristirahat dalam damai, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan untuk menatap hidup dengan penuh ketabahan.
#cover Quran:
Surah Yaseen versi bacaan oleh Anisur Rahman(54) dirilis dalam bentuk EP (Spoken Word) pada 27 Juni 2024 oleh label Zikrullah TV, dengan durasi sekitar 21 menit. Ada juga versi live yang dipublikasikan di SoundCloud pada 15 Juli 2024.
#credit foto almarhum diambil WAG Persaudaraan Ipilo Tempo Doeloe.a

