Type Here to Get Search Results !

Membaca Absurdisme vs Mistisme Dalam The Blind Owl

oleh ReO Fiksiwan

                             BAB 1 

Salam hidup, kita pasti banyak mengalami

cobaan serta rintangan yang--ibarat luka yang menyebar-menggerogoti dan melelahkan jiwa dalam kesendirian.

Kecenderungan untuk mengambinghitamkan penderitaan hebat semacam ini pada peristiwa-

peristiwa kebetulan dan pengalaman-pengalaman

aneh, membuat kita tak mungkin mengungkapkannya secara terbuka kepada orang lain. — Sadegh Hedayat(1903-1951), The Blind Owl(1937; Terjemahan Dastan 2004).

Novel The Blind Owl karya Sadegh Hedayat, sastrawan kelahiran Iran dan wafat di Perancis, adalah salah satu teks paling gelap dan kompleks dalam sastra modern Iran — kelak dialihbasa ke Inggris — yang terus memikat kritik sastra mutakhir karena kandungan absurdisme dan mistisisme yang saling bertautan. 

Iraj Bashiri, akademisi asal Iran yang bermukim di Amerika Serikat, dan kini berusia sekitar 85 tahun, masih aktif menulis serta mengajar dalam bidang kajian Iranistik. 

Ia dikenal sebagai penerjemah utama karya Hedayat, termasuk The Blind Owl: A Literal Translation yang pertama kali ia terbitkan pada 1974 dan direvisi beberapa kali hingga edisi daring terbaru tersedia(2020).

Melalui terjemahan Bashiri, pembaca berbahasa Inggris dapat menangkap nuansa asli teks Hedayat yang penuh dengan simbol, halusinasi, dan kegelapan eksistensial.

Selain Bashiri, ada Nasrullah Mambrol — aktif menulis tentang teori sastra, kritik, dan filsafat di situs Literarine.org asal Iran — dalam Analysis of Sadeq Hedayat's The Blind Owl diunggah 9 November 2022), menganalisis novel ini dalam struktur dua bagian.

Dalam kajian terbatas ini, bagian pertama saja dibahas sebagai narasi yang padat dan seperti mimpi yang diceritakan oleh narator tanpa nama, yang menggambarkan dirinya telah melarikan diri ke luar batas kota menuju kesunyian seperti kuburan di kamarnya yang seperti peti mati.

Untuk "mengisi waktu luang," ia melukis sampul kotak pena, secara obsesif mereproduksi adegan yang sama setiap kali: "poon cemara di bawahnya seorang lelaki tua bungkuk berjongkok di tanah menyelimutidirinya dengan jubah seperti yogi India.

la mengenakan shalma di kepalanya dan meletakkan jari telunjuknya di bibir seolah bingung.

Di hadapannya seorang gadis dengan gaun hitam panjang membungkuk untuk menawarkan bunga lili

kepadanya-karena di antara mereka terdapat aliran sungai."

Adapun untuk memasuki absurdisme dalam Blind Owl, bagian pertama dari ulasan Mambrol, tampak jelas dalam penggambaran tokoh utama yang terjebak dalam lingkaran kesepian, obsesi, dan kehancuran. 

Kutipan berikut, “There are sores which slowly erode the mind in solitude like a kind of canker“, menunjukkan bahwa penderitaan manusia tidak memiliki makna transenden, melainkan sekadar luka batin yang terus menggerogoti jiwa. 

Namun, tambah Mambrol, meskipun tampaknya

mengorbankan pengembangan karakter demi suasana hati, seperti dalam puisi prosa, dan meskipun memang menyampaikan keadaan

seperti trans dan halusinasi yang dihasilkan oleh kebiasaan merokok opium sang narator, The Blind Owl sebenarnya adalah latihan naratif yang rumit yang elemen-elemen formalnya secara sempurna

mengekspresikan kepadatan kekhawatiran metafisik dan metapsikologisnya.

Sementara, kritik sastra mutakhir yang bisa membandingkan nuansa absurdisme dalam novel ini terkait gagasan Albert Camus dalam Le Mythe de Sisyphe(1942), dikatakan bahwa absurditas hidup manusia digambarkan sebagai kerja sia-sia yang terus berulang tanpa tujuan. 

Tokoh dalam The Blind Owl seolah menjalani nasib Sisifus, terjebak dalam siklus penderitaan yang tidak pernah menemukan jawaban. Namun, di sisi lain dari absurdisme, mistisisme pun da meresap dalam novel ini. 

Simbol perempuan misterius, bayangan, dan burung hantu buta menghadirkan nuansa metafisik yang menyingkap dunia lain di balik realitas. 

Teks lain dikutip, “In life there are certain wounds that, like leprosy, eat away at the soul in solitude and diminish it”, juga memperlihatkan pengalaman mistis yang gelap, di mana luka batin bukan sekadar psikologis, melainkan spiritual samar yang menyelib. 

Karena itu, membaca kajian ringkas atas novel ini bisa diacu dari dimensi misitisisme seperti ditulis Heinrich Zimmer dalam Mysticism in the East(1944), yang menekankan bahwa mistisisme Timur membuka ruang bagi pengalaman transenden, meski sering hadir dalam bentuk paradoks dan kegelapan. 

Dalam Blind Owl, mistisisme tidak menghadirkan pencerahan, melainkan memperdalam jurang keterasingan, seolah dunia gaib hanya mempertegas absurditas hidup manusia.

Dikutip lagi ulasan Mambrol: 

Suatu hari ia melihat melalui ventilasi udara di dinding sebuah pemandangan yang menakjubkan namun anehnya familiar: adegan yang sama yang telah ia lukis berulang kali, kecuali sekarang bunga lilinya berwarna hitam.

Tak lama kemudian, dalam "keadaan seperti koma di antara tidur dan bangun," dia menerima kunjungan misterius, seorang wanita "halus"

yang berjalan dalam tidur, berpakaian hitam.

Tanpa penjelasan, dia memasuki hidupnya seperti malaikat cahayayang sementara, memancarkan'

"sinar supernatural yang memabukkan" dari

matanya yang memukau, luar biasa besar dan "berkilauan" —mata yang secara bergantian dia alami, karena ambivalensinya, sebagai "kagum.

menghukum…“mengerikan, mempesona, mencela.….. khawatir, mengancam, dan mengundang."

Pertarungan antara absurdisme dan mistisisme dalam The Blind Owl menjadikan novel ini unik. 

Absurdisme menegaskan kehampaan hidup, sementara mistisisme menghadirkan simbol-simbol transenden yang justru memperkuat rasa keterasingan. 

Hedayat seakan menulis di persimpangan dua tradisi: eksistensialisme modern yang menolak makna, dan mistisisme Timur yang mencari makna di balik tirai realitas. 

Hasilnya adalah teks yang ambigu, di mana absurditas dan mistisisme tidak saling meniadakan, melainkan saling melengkapi dalam menciptakan atmosfer gelap yang terus menghantui pembaca.

Dengan demikian, The Blind Owl bisa disebut sebagai karya yang menyingkap wajah manusia di hadapan kehampaan sekaligus misteri. 

„Pandangan visioner narator tentang wanita ini membangkitkan dan menginspirasinya dengan secara instan memecahkan "teka-teki

teologis"; tetapi ketika diameninggalkan kamarnya untukmencarinya, dia hanya menemukan sisa-sisa hewan mati dan tumpukan sampah di tempat lelaki tua itu duduk,“ pungkas Mambrol.

Walhasil, membaca The Blind Owl bukan sekadar karya sastra Iran, melainkan teks universal yang berbicara tentang kondisi manusia di persimpangan antara kehendak untuk hidup dan kesadaran akan kegelapan yang tak terelakkan.

#coversongs:

“When a Blind Man Cries” pertama kali dirilis oleh Deep Purple pada 17 Maret 1972 sebagai B-side dari single “Never Before.” 

Lagu ini kemudian masuk dalam berbagai kompilasi dan edisi ulang, termasuk Machine Head 25th Anniversary Reissue (1997). 

Maknanya berkisar pada kesedihan, keterasingan, dan empati terhadap penderitaan manusia, dengan simbol “seorang buta yang menangis” sebagai gambaran duka yang mendalam.

#credit foto dari cover buku diambil dari Youtube.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.