![]() |
oleh ReO Fiksiwan
“Sekelompok individu berkumpul sebagai satu kesatuan publik; mereka segera mengklaim ranah publik yang diatur dari atas melawan otoritas publik itu sendiri, untuk melibatkan mereka dalam perdebatan mengenai aturan umum yang mengatur hubungan dalam ranah pertukaran komoditas dan kerja sosial yang pada dasarnya diprivatisasi tetapi relevan secara publik.” — Jürgen Habermas(96), Strukturwandel der Öffentlichkeit(1962)
Ruang publik adalah salah satu konsep paling penting dalam sejarah peradaban manusia.
Ia berkembang dari agora Yunani kuno sebagai tempat diskusi filsafat, menjadi institusi religius dan politik Romawi, lalu arena intelektual Renaisans, hingga ruang publik modern menurut definisi Jürgen Habermas(96)..
Kini, ruang publik telah bergeser ke ranah digital, di mana algoritma, big data, dan media sosial menentukan dinamika komunikasi dan interaksi sosial dan politik.
Perjalanan panjang ini memperlihatkan bagaimana ruang publik selalu menjadi cermin dari perubahan budaya, politik, sosiol-ekonomi, sains dan teknologi.
Peradaban ini mula-mula dicanangkan oleh para perenung atas mitologi yang menjadi sandaran kehidupan sebelum datangnya fajar budi dengan lahirnya logos sebagai asal-muasal filsafat.
Sebelum Socrates pada abad keempat SM memulai tradisi phaedeo dengan orasi-orasinya berkeliling di pusat kota Athena hingga ke pasar(agora), sebagaimana dicatat oleh murid cerdasnya Plato, ruang publik masih dibatasi pada taman academos yang letaknya di bawah bukit Olimphia dengan arsitektur Parthenon hingga Theatron seperti yang dilukiskan oleh Raphael pada zaman Renaisans tinggi.
Ruang publik inipun akhirnya tumbuh lebih sebagai wadah fasos para warga polis untuk berinteraksi, mirip dengan Symposium dan Dialogue yang dirampung penuh oleh Plato dalam Republic dan kelak Politics dari Aristoteles.
Sementara, abad kelima Masehi, ketika Saul dari Tarsus menginjil di Asia Kecil sebelum tiba di Roma, ruang publik menjadi lokasi utama imperium Romawi Timur dengan kota religius, di antaranya Efesus maupun Korintus.
Selain berdiri gereja Yohanes, perpustakaan Celcius terbesar di zaman itu ikut berfungsi sebagai fasilitas ruang publik.
Demilkian pula, akropolis dan pusat permandian Hieriopolis menjadi lokasi ruang publik kegemaran Cleopatra mandi sauna bersama kekasihnya, Anthonius, setelah menyingkirkan Julius Caesar dari tahtanya di Alexandria.
Kini, reruntuhan ruang publik Efesus menjadi tempat wisata religius, terutama adanya puing gereja Yohanes, di antara tujuh gereja di Turki dewasa ini.
Seiring waktu, ruang publik mengalami transformasi teoretis dan prakis seiring kecanggihan sains dan teknologi komunikasi dan informasi.
Diawali Habermas menekankan pentingnya ruang publik modern sebagai arena diskusi rasional warga seperti Strukturwandel.
Demikian lainnya seperti Bourdieu(cultural field), Virilio, Jenks, dan Jameson menawarkan perspektif posmodern dengan istilah seperti Öffentlichkeit (Jerman), arène(Perancis), dromology(Latin), dan public sphere.
Ruang publik tidak lagi sekadar wadah kultural, tetapi juga menjadi arena kritik politik yang kini bergeser ke medium digital dan media sosial.
Di sinilah krisis kendali ruang publik kontemporer mulai tampak dan menghasilkan banyak masalah interaksi dan komunikasi di ruang publik.
Ambil contoh mutakhir yang terus mengalami reproduksi paradoks dan kontroversi — dari anak haram konstitusi, ijazah palsu, MBG, sekolah gratis, Pilkada melalui DPRD, korupsi masif, tambang ilegal hingga kuota haji maupun deforestrasi — makin tak terkendali.
Christian Fuchs(50), seorang sosiolog Austria, dalam The Digital Public Sphere: Democracy, Technology, and Participation(2021) menekankan bahwa media digital membentuk opini publik dan demokrasi, tetapi sekaligus menghadirkan ancaman berupa komersialisasi, algoritmisasi, dan dominasi korporasi.
Menurutnya, media sosial memang membuka akses luas bagi warga untuk berpartisipasi, namun ruang publik digital saat ini lebih banyak dikendalikan oleh kepentingan ekonomi dan algoritma perusahaan besar.
Demokrasi digital, dalam pandangan Fuchs, hanya bisa bertahan jika ada alternatif berbasis kepentingan publik, seperti internet layanan publik dan regulasi transparan terhadap algoritma.
Selain itu, Peter Dahlgren(80), profesor emeritus komunikasi dan media asal Swedia, dalam bukunya Media and the Public Sphere in the Digital Age(2019) menyoroti sisi gelap media digital.
Ia menekankan bahwa ruang publik kontemporer dibanjiri oleh information overload, limpahan informasi yang tidak terkendali sehingga menghasilkan semacam limbah informasi yang justru mengganggu kualitas demokrasi.
Menurut Dahlgren, demokrasi tidak hanya membutuhkan akses informasi, tetapi juga kualitas informasi.
Tanpa itu, ruang publik digital akan kehilangan kejernihan deliberatifnya dan berubah menjadi arena kebingungan serta polarisasi.
Krisis ruang publik hari ini adalah krisis legitimasi demokrasi.
Dari agora hingga media sosial, ruang publik selalu menjadi arena perebutan makna, kuasa, dan partisipasi.
Namun, ketika algoritma, big data, dan kepentingan korporasi mendominasi, ruang publik kehilangan fungsi utamanya sebagai wadah diskusi rasional dan deliberatif.
Refleksi kritis filosofis dari Habermas, Fuchs, dan Dahlgren menunjukkan bahwa tantangan terbesar abad ini adalah bagaimana mengembalikan ruang publik digital ke dalam kendali warga, bukan sekadar menjadi pasar informasi yang penuh limbah.
Demokrasi hanya bisa bertahan jika ruang publik kembali menjadi arena bersama, bukan sekadar algoritma yang mengatur apa yang kita lihat, baca, dan percayai.
#coversongs:
“Fear in The Public Sphere” adalah sebuah lagu karya musisi jazz Adam Bronstein yang dirilis pada 22 Desember 2023.
Adam Bronstein(30), gitaris dan komposer asal Amerika dan aktif dalam proyek musik kontemporer seperti ABtrio.
Lagu ini menyoroti ketegangan sosial dan politik di ruang publik modern, di mana rasa takut menjadi bagian dari dinamika interaksi masyarakat.
#credit foto diambil dari berbagai tayangan Youtube membahasa ruang publik(public sphere) dan sebagian aktivitas tokoh publik diubah bentuk sketsa bantuan AI.

