Type Here to Get Search Results !

Kursi Hijau dan Dakwah yang Tak Pernah Usai

Oleh: M. Taufik

Masjid kampus itu tak pernah benar-benar sunyi. Bahkan ketika pintunya tertutup dan lampu-lampu dimatikan, selalu ada sisa kehadiran yang tertinggal—jejak langkah orang-orang yang memakmurkannya dengan ilmu, zikir, dan kesabaran. Salah satu jejak itu bernama A. Fauzi Darminto.

Ia bukan sosok yang gemar tampil di mimbar panjang. Ia juga bukan figur yang sengaja menempatkan diri di pusat perhatian. Namun setiap kali azan berkumandang, Mas Fauzi hampir selalu lebih dahulu tiba. Seolah hatinya telah duduk di saf depan, jauh sebelum tubuhnya melangkah. Dakwahnya sunyi, nyaris tak terdengar: hadir, istiqamah, dan tetap tinggal ketika yang lain mulai lelah.

Dalam kehidupan gerakan, orang seperti ini sering luput dari sorotan. Padahal, justru merekalah penyangga utama keberlanjutan. Waktu pun berjalan sebagaimana mestinya—tanpa kompromi. Hingga suatu hari, kabar itu datang pelan, tetapi menghunjam: Mas Fauzi telah pulang. Bukan meninggalkan dakwah, melainkan menyelesaikannya.

Kepergiannya tidak memadamkan cahaya. Cahaya itu hanya berpindah tempat. Rumah kediamannya di Bojonegoro diwakafkan. Ia tidak berubah menjadi bangunan beku, tetapi hidup sebagai ruang majelis ilmu. Ayat-ayat Al-Qur’an masih dilantunkan. Diskusi keislaman tetap berjalan. Anak-anak muda duduk bersila, menimba ilmu, sebagaimana dulu Mas Fauzi menanamkan semangat dakwah tanpa pamrih. Dari sini kita belajar: dakwah sejati tidak berhenti pada helaan napas terakhir; ia berlanjut melalui wakaf, ilmu, dan amal jariyah.

Pada akhir Januari 2026, dalam tidur yang sunyi, saya bermimpi melihat sebuah majelis. Jamaahnya banyak. Duduknya rapi. Suasananya tenang. Di barisan paling depan, Mas Fauzi duduk di atas sebuah kursi plastik hijau—detail yang entah mengapa begitu jelas. Ia duduk bersila, tanpa kopiah. Rambut hitamnya agak panjang, bergelombang ringan. Kacamata bertengger rapi. Dan senyum itu—senyum yang sama seperti dulu: menenteramkan, seolah berkata bahwa dakwah ini tidak pernah benar-benar berhenti.

Saya berada di belakang. Tidak ada dialog. Tidak ada kata. Tetapi hati terasa penuh. Mimpi itu tidak berlalu seperti mimpi biasa. Ia tinggal sebagai kesaksian batin, bahwa ada kehidupan yang diselesaikan dengan tenang.

Siapakah Mas Fauzi dalam kehidupan nyata? Jawabannya datang dari kesaksian orang-orang yang pernah disentuh keteladanannya. Adiknya, Harits Abu Ulya, menyebutnya sebagai orang saleh dan menutup kesaksiannya dengan tekad melanjutkan spirit perjuangan semampunya. Kesaksian ini penting bukan karena ikatan darah, melainkan karena kejujurannya—lahir dari perjalanan iman yang panjang.

Kesaksian lain datang dari Dr. Amaria, Ketua Jurusan Pendidikan Kimia Universitas Negeri Surabaya. Ia mengenal Mas Fauzi sebagai rekan satu jurusan sekaligus sesama aktivis masjid. Mereka bukan relasi senior-junior semata—Dr. Amaria angkatan 1984, Mas Darminto 1985—melainkan sahabat seperjuangan. Bahkan di hari-hari terakhir, Mas Fauzi masih sempat disapa. “Beliau sangat humble,” ujarnya singkat. Dalam dunia akademik yang kerap sibuk dengan pencapaian, kerendahan hati seperti ini justru menjadi warisan paling langgeng.

Dari ruang yang lain, Dr. Johan Adam, alumni Pendidikan Kimia angkatan 1986, mengingat Mas Fauzi sebagai pembimbing PPL-nya di MAN Trenggalek pada 1989. Ia mengenangnya sebagai sosok yang terus menanamkan kesabaran dan tanggung jawab, bahkan ketika medan pengabdian tidak sesuai minat. “Selalu membawa nama baik kampus,” demikian pesan yang diulang. Di balik candaan khas anak Surabaya, tersimpan pelajaran penting: bahwa profesionalisme dan akhlak adalah bagian dari dakwah, di mana pun kita ditempatkan.

Kesaksian-kesaksian ini membentuk satu benang merah: Mas Fauzi mendidik tanpa suara keras, memimpin tanpa panggung, dan berdakwah tanpa tuntutan pengakuan. Ia mengajarkan bahwa konsistensi adalah bentuk keberanian yang paling sunyi.

Sejak ia berpulang, namanya kerap hadir dalam doa-doa pendek selepas salat. Tidak panjang, tidak puitis, tetapi jujur. Kadang air mata jatuh tanpa diminta. Bukan semata karena kehilangan, melainkan karena kegelisahan yang lebih dalam: apakah kita akan seistiqamah itu ketika giliran kita dipanggil pulang?

Mas Fauzi memang telah pergi. Tetapi masjid tetap berdiri. Majelis terus berjalan. Rumah wakaf di Bojonegoro hidup dengan ilmu. Dan kursi hijau itu—entah kini berada di mana—menjadi simbol sederhana bahwa ada orang yang menghabiskan hidupnya untuk dakwah, dan menjadikan wafatnya sebagai pengingat bagi mereka yang masih diberi napas.

Semoga Allah SWT menerima beliau dengan husnul khatimah, menjadikan setiap ayat yang dibaca di rumah wakaf itu sebagai cahaya di alam kuburnya. Dan semoga kita, yang masih berjalan di jalan yang sama, diberi kekuatan untuk tidak berhenti sebelum selesai.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.