Type Here to Get Search Results !

Dari Marbot Kampus hingga Doktor Tercepat: Jalan Sunyi Seorang Guru Menjadi Penulis Penggerak

oleh : M. Taufik

Di tengah riuh dunia pendidikan yang sering berbicara tentang angka dan gelar, ada perjalanan sunyi yang jarang terlihat—perjalanan seorang guru yang memilih pena sebagai jalan dakwah, jalan perubahan, sekaligus jalan perjuangan intelektual.

Kisah ini bukan tentang popularitas instan. Ia dimulai dari ruang-ruang sederhana, dari naskah lomba yang ditulis dengan tekun, dari komunitas kecil mahasiswa, hingga akhirnya melahirkan puluhan buku dan menggerakkan generasi penulis di berbagai penjuru negeri.

Belasan Tahun Menempa Diri: Menulis Ilmiah sebagai Jalan Disiplin

Sejak tahun 2002, perjalanan menulis dimulai dari dunia karya ilmiah. Hampir setiap tahun, minimal tiga karya dikirimkan dalam berbagai lomba nasional—mulai dari Diknas, Depag, LIPI, hingga ajang-ajang ilmiah lainnya.

Selama lebih dari satu dekade, menulis bukan sekadar kegiatan akademik, tetapi latihan mental: belajar sabar terhadap revisi, belajar menerima kritik, dan belajar merangkai gagasan menjadi argumen yang kokoh.

Namun pada 2015, titik jenuh datang. Bukan jenuh terhadap ilmu, tetapi terhadap pola menulis yang terasa terlalu akademik dan jauh dari masyarakat. Saat itulah muncul kegelisahan baru: bagaimana menjadikan tulisan ilmiah lebih hidup, lebih membumi, dan lebih mudah dipahami publik luas?

Pelatihan Dua Hari yang Mengubah Arah Hidup

Jawaban itu datang pada tahun 2017 melalui program Satu Guru Satu Buku (Sagu Sabu) dari Media Guru. Pelatihannya gratis, hanya dua hari, tetapi targetnya tegas—peserta harus pulang membawa buku.

Program tersebut dipimpin oleh sosok yang unik: adik kelas di jurusan Kimia sekaligus sesama mantan marbot masjid Unesa dan aktivis LDK. Pertemuan itu terasa seperti lingkaran perjuangan yang kembali menyatu.

Pelatihan diselenggarakan di SD Al Hikmah. Dari ruang sederhana itulah lahir buku populer pertama:

“Teacher and The Biosphere (Guru Pelopor Lingkungan Hidup)”.

Buku itu menjadi titik balik. Menulis populer ternyata bukan menurunkan kualitas ilmiah, melainkan menjembatani ilmu agar lebih dekat dengan masyarakat.

Menulis Tidak Sendiri: Membangun Tim dan Menggerakkan Mahasiswa

Setelah buku pertama terbit, langkah berikutnya adalah membangun ekosistem. Dibentuklah tim penerbit sendiri—yang kemudian berkembang hingga melahirkan puluhan buku.

Mahasiswa UKKI Unesa juga diajak ikut bergerak. Buku-buku awal menjadi ruang belajar bersama—tempat eksperimen ide, latihan menulis, sekaligus wadah kaderisasi intelektual. Dari sinilah muncul generasi penulis muda yang tidak hanya membaca sejarah, tetapi ikut menuliskannya.

Pandemi Covid-19: Saat Dunia Tiarap, Pena Justru Menyala

Ketika pandemi Covid-19 melanda dan banyak aktivitas berhenti, menulis justru menjadi ruang produktivitas. Tahun 2020 menjadi saksi lahirnya dua buku penting:

Pondok Gondang Penerus Perjuangan Sang Pangeran

Jejak Langkah Inspiratif Aktivis LDK

Buku kedua adalah karya kolaboratif luar biasa yang melibatkan 60 alumni UKKI dari seluruh Indonesia. Prosesnya panjang dan penuh kesabaran. Sejak 2017 hingga 2019, terkumpul sekitar 40 tulisan yang kemudian diarsipkan di Perpustakaan Al Hikmah.

Pandemi sempat menghentikan langkah tim mahasiswa. Namun pada periode 2021–2022, semangat kembali menyala. Tambahan 20 tulisan masuk, naskah awal diedit ulang, dan akhirnya lahirlah buku yang menjadi monumen kolektif perjuangan aktivis dakwah kampus.

Di balik karya tersebut, hadir pula tokoh-tokoh nasional—termasuk mantan Rektor Unesa Prof. Muklas Samani—yang menjadi bagian dari perjalanan intelektual tersebut.

Dari Pena ke Bangku Kuliah: Perjalanan Akademik yang Tak Terduga

Usai penerbitan buku Pondok Pesantren SPM Mencengkeram Dunia, penasihat pondok Prof. Dr. Imam Suprayogo memberikan satu nasihat sederhana namun menggetarkan: lanjutkan kuliah.

Dengan jadwal kerja padat sebagai guru di SD Al Hikmah—Senin hingga Jumat pukul 07.00–16.00 dan Sabtu hingga siang—mencari waktu kuliah bukan perkara mudah. Namun tekad mengalahkan keterbatasan.

Periode 2021–2023 dijalani di IAI Al Khoziny, dan berbuah manis dengan predikat lulusan terbaik. Semangat itu tidak berhenti. Langkah dilanjutkan ke jenjang doktoral di UII Dalwa.

Di fase ini, perjalanan seperti masuk “gigi tiga”. Studi doktoral diselesaikan hanya dalam empat semester dengan IPK 3,88—meraih predikat tercepat sekaligus terbaik.

Menulis sebagai Jalan Hidup

Dari marbot masjid kampus hingga doktor tercepat, perjalanan ini membuktikan satu hal: perubahan besar sering lahir dari langkah kecil yang konsisten. Menulis bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan jalan dakwah, jalan pendidikan, dan jalan pengabdian.

Di tengah dunia yang serba cepat, kisah ini mengingatkan bahwa karya tidak lahir dari popularitas instan, melainkan dari kesabaran panjang—dari lomba ilmiah, pelatihan dua hari, komunitas mahasiswa, hingga kerja kolektif puluhan alumni.

Dan mungkin, perjalanan ini belum selesai. Karena selama pena masih bergerak dan generasi muda masih diajak menulis, maka kisah inspirasi itu akan terus hidup—mengalir dari satu buku ke buku berikutnya, dari satu generasi ke generasi selanjutnya.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.