Type Here to Get Search Results !

Sejarah Perkemanusiaan dan Warisan Vital Semua Kebudayaan

oleh ReO Fiksiwan

“Kamus merupakan bagian penting dari warisan budaya suatu komunitas bahasa.“ — Anthony Paul (Tony) Cowie(84), The Oxford History of English Lexicography (Editor: 2009).

Sejarah kebudayaan manusia tidak dapat dilepaskan dari peran kamus. 

Kata kamus berasal dari bahasa Arab qāmūs (قاموس), yang berarti “lautan” atau “samudra.” 

Dalam konteks bahasa Arab klasik, istilah ini digunakan secara metaforis untuk menyebut kumpulan pengetahuan yang luas, sehingga kemudian dipakai untuk merujuk pada kamus sebagai “lautan kata.” 

Dari bahasa Arab, istilah ini masuk ke bahasa Melayu dan akhirnya menjadi bentuk baku “kamus” dalam bahasa Indonesia.

Secara terbatas, kamus kini adalah wadah pengetahuan yang merekam kosakata, makna, dan perubahan bahasa dari masa ke masa. 

Tanpa kamus, sejarah kebudayaan akan kehilangan jejaknya, seakan mati dengan sendirinya. 

Setiap bahasa memiliki istilah berbeda untuk menyebut kamus: dictionary(Latin: dictio) dalam bahasa Inggris, Wörterbuch(Wort = kata) dalam bahasa Jerman.

Dengan demikian, istilah “kamus” di Indonesia memiliki jalur etimologi yang berbeda dari tradisi Eropa yang berakar pada Latin.

Perbedaan istilah ini mencerminkan keragaman budaya sekaligus kesamaan fungsi: menjaga pengetahuan tetap hidup.

Dalam tradisi dunia, pekamusan telah lama menjadi bagian dari upaya “reinventing knowledge.” 

Dalam World Histories of Lexicography and Lexicology(2020) yang dieditori Fredric T. Dolezal dan Roderick W. McConchie menekankan bahwa sejarah kamus bukan sekadar catatan linguistik, melainkan juga rekaman budaya, politik, dan identitas masyarakat. 

Sementara itu, The Cambridge World History of Lexicography(2019) yang dieditori John Considine menunjukkan bagaimana kamus berkembang di berbagai tradisi bahasa, dari Eropa hingga Asia, dan bagaimana setiap kamus mencerminkan kebutuhan sosial serta intelektual zamannya.

Di Indonesia, sejarah pekamusan memiliki tokoh-tokoh penting. John Echols dikenal luas melalui kamus Inggris–Indonesia yang menjadi rujukan utama generasi pelajar. 

J. Poerwodarminta menyusun kamus besar yang menjadi fondasi bagi bahasa Indonesia modern. 

Selain itu, M. Zein, Eko Endarmoko dan para pekamus lain turut memperkaya tradisi ini, termasuk ahli bahasa sastra Indonesia dan menulis kamus bahasa Belanda seperti Teeuw, Adolf Heuken yang menulis kamus bahasa Jerman. 

Pekamusan di Indonesia tidak hanya terbatas pada bahasa nasional, tetapi juga bahasa daerah yang menjadi bagian dari mosaik dan penyumbang kekayaan kebudayaan Nusantara.

Salah satu contoh yang menakjubkan adalah karya mendiang Prof. Dr. Mansoer Usman bin Pateda, ahli linguistik asal Gorontalo. 

Beliau mewariskan kamus bahasa Gorontalo dan bahasa subetnik Gorontalo, termasuk kamus besar bahasa Suwawa dan bahasa Atinggola. 

Bahkan sebelum wafat pada 2010, Prof. Pateda telah menerjemahkan 30 juzz Al Quran ke dalam bahasa Gorontalo dan dikonsultasi ke otoritas terjemahan Quran di Madinah sebelum dicetak.

Kedua kamus di atas, bahass Suwawa dan Atinggola, masing-masing lebih dari 600 halaman, diketik dengan mesin ketik Brother, berisi sekitar 10.000 lema. 

Putranya, Ir. Adhen Pateda MBE, menuturkan bagaimana ayahnya dengan tekun mengunjungi pedalaman Bone Bolango —kini salah satu kabupaten di Provinsi Gorontalo dan Atinggola terletak antara Kabupaten Gorontalo Utara dan Kabupaten Bolaang Mongondow Utara(Sulut) —untuk merekam kosakata masyarakat. 

Upaya ini menunjukkan bahwa pekamusan bukan sekadar kerja akademik, melainkan juga kerja budaya yang melibatkan interaksi langsung dengan masyarakat penutur.

Sejarah pekamusan di Indonesia, baik dalam bahasa nasional maupun bahasa daerah, adalah bagian dari warisan kebudayaan yang vital. 

Kamus bukan hanya daftar kata, melainkan jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara penutur lokal dan dunia global. 

Dengan kamus, bahasa tetap hidup, pengetahuan tetap terjaga, dan kebudayaan tetap berlanjut.

#coverlagu: 

Binde Biluhuta (Milu Siram) adalah makanan khas Gorontalo berupa sup jagung yang disajikan dengan ikan cakalang, udang, parutan kelapa, dan bumbu khas. 

Nama ini berasal dari bahasa Gorontalo: binte berarti jagung, sedangkan biluhuta berarti “disiram.” 

Hidangan ini biasanya disajikan hangat dengan tambahan jeruk nipis dan sambal pedas, sehingga menjadi kuliner identitas masyarakat Gorontalo.

#credit foto bersama kamus asli ketikan tahun 1982 terkoleksi di rumah keluarga Pateda-Pulubuhu.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.