Type Here to Get Search Results !

‎Kota Di Mana Puisi Esai Tumbuh dan Dicintai

‎Oleh : Ririe Aiko 

‎Pagi menyambut dengan biru yang jernih dan hangat matahari yang masuk perlahan melalui kaca Bandara Soekarno-Hatta.

‎Langit pagi itu, seperti seseorang yang tahu: ada hati yang sedang berangkat dengan doa-doa kecil di dalamnya.

‎Saya melangkah membawa antusias, juga gugup yang saya sembunyikan rapat di dalam hati. Festival Puisi Esai ASEAN ke-5 di Sabah bukan sekadar tujuan;

‎ia adalah pintu yang sejak lama saya pandangi dari kejauhan.

‎Sebuah mimpi yang bagi seseorang seperti saya terasa nyaris mustahil. Apalagi dengan kemampuan yang masih sangat terbatas, ada saat ketika semuanya tampak tak mungkin

‎bahwa saya bisa berada di sana,

‎dipilih sebagai perwakilan,

‎untuk ikut menyuarakan puisi esai dan kecerdasan buatan

‎di panggung internasional.

‎Namun begitulah cara Tuhan bekerja.

‎Terkadang, doa yang kita bisikkan diam-diam

‎menemukan jalannya sendiri,

‎menembus batas yang selama ini terasa mustahil.

‎Hingga mimpi yang sejak lama saya cita-citakan dan saya perjuangkan dalam sunyi, perlahan menemukan wujudnya

‎bukan sebagai keajaiban yang gaduh,

‎melainkan sebagai kenyataan yang datang dengan penuh kejutan.

‎Saya pergi bersama Kak Fathin Hamama

‎dan Bang Jonminofri. Nama-nama populer yang selama ini hidup di rak bacaan, kini berjalan di sisi saya

‎membuat langkah saya sempat ragu,

‎seperti anak kecil yang takut bersuara di ruangan besar.

‎Ada kekhawatiran yang tumbuh:

‎apakah saya terlalu muda untuk ruang ini, terlalu kecil untuk panggung ini.

‎Namun perjalanan rupanya punya caranya sendiri untuk menenangkan.

‎Tidak ada jarak yang ditinggikan,

‎tidak ada wibawa yang memaku.

‎Yang ada justru tawa, kehangatan, dan keakraban. Gurauan Bang Jon kerap meletup tanpa aba-aba, membuat saya semakin menikmati setiap detik perjalanan ini.

‎Di sisi lain, perhatian Kak Fathin

‎membuat saya merasa dijaga

‎bukan sebagai peserta, melainkan sebagai keluarga yang terasa begitu hangat. Saya merasa diperlakukan sangat istimewa.

‎Perjalanan itu pun berubah.

‎Dari tugas menjadi liburan kecil,

‎dari kecanggungan menjadi keakraban.

‎Saya tidak sedang menumpang kebesaran nama,

‎saya sedang diajak pulang ke makna.

‎Setibanya di Kinabalu, angin pelan menyapa, membawa samar aroma laut. Langit terbuka luas tanpa beban.

Biru yang tenang,

‎seperti halaman kosong

‎yang siap ditulisi cerita.

‎Kota ini tidak berisik,

‎ia berbicara dengan keheningan,

‎membiarkan langkah melambat

‎agar hati mendengar lebih dalam.

‎Di bandara, kami dihentikan oleh seorang petugas untuk pemeriksaan,

‎sebuah koper dibuka.

‎Buku-buku puisi esai yang kami bawa dari Jakarta terbaring di dalamnya.

‎Seorang petugas tersenyum,

‎matanya menyala.

‎“Puan, penulis puisi esai? Boleh kami mengambil gambar?”

‎Saya terdiam cukup lama,

‎tak pernah terpikir bahwa di kota ini

‎penulis puisi esai

‎diperlakukan dengan penghormatan yang demikian.

‎Di sini, puisi esai tidak asing.

‎Ia bukan tamu, ia keluarga yang disambut dengan pelukan. Orang-orang bukan hanya sekedar mengenal, tapi mereka mencintai puisi esai disini. 


‎Ketakjuban saya tidak berhenti di bandara. Keesokan harinya, Festival Puisi Esai ASEAN digelar di IPG Kent, Sabah.

‎Panggung Festival Puisi Esai ASEAN ke-5,

‎yang diselenggarakan oleh Presiden Komunitas Puisi Esai ASEAN, Datuk Jasni Matlani, ditata dengan sangat megah dan berkelas. Puisi esai seakan menemukan tempatnya sendiri.

‎Semua orang duduk dengan penuh penghormatan,

‎menyaksikan bagaimana puisi esai

‎tidak dipandang sebagai sastra pinggiran,

‎melainkan sebagai sastra yang utuh,

‎yang berani menyuarakan kemanusiaan,

‎sejarah, dan luka-luka sosial dengan kejujuran. Puisi esai dirawat dengan martabat disini.

‎Para sastrawan yang hadir merupakan perwakilan dari berbagai wilayah ASEAN, termasuk Indonesia, Brunei, dan Johor. Kehadiran mereka menegaskan posisi puisi esai sebagai bagian penting dari khazanah sastra ASEAN.

‎Forum ini juga mendapat perhatian negara. YB Datuk TS. Mustapha Sakmud,

‎Menteri di Jabatan Perdana Menteri Malaysia, ikut hadir meluangkan waktu di tengah agenda kenegaraan yang padat.

‎Saya menyaksikan langsung, bagaimana puisi esai tidak sekadar dipentaskan,

‎melainkan didengarkan

‎sebagai suara kemanusiaan

‎yang layak mendapat ruang dan penghormatan.

‎Di kota ini, saya belajar bahwa puisi esai

‎bukan sekadar tulisan.

‎Ia adalah perjalanan batin manusia

‎ruang renungan yang panjang,

‎yang membentuk adab dan menumbuhkan empati

‎terhadap isu-isu sosial di sekitarnya.

‎Karena itulah puisi esai di sini

‎mendapatkan tempat dan kedudukan yang istimewa: tulisan sastra dimaknai sebagai medium yang mengingatkan kita

‎bahwa menjadi manusia

‎berarti mengutamakan perilaku

‎yang berakar pada empati.

‎Dan saya pun pulang

‎dengan hati yang lapang,

‎penuh renungan dan kekaguman.

‎Ternyata di kota ini,

‎puisi esai tidak sekadar tumbuh,

‎tetapi dicintai dan dirawat

‎dijadikan ruang bersama

‎untuk menjaga kemanusiaan.

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.